Menjadi Hujan

IMG_20180111_191423_305

“Tidakkah kau lelah menjadi hujan?”

Dari balik kaca jendela bus yang ditumpanginya, gadis kecil itu bertanya padaku. Lebih tepatnya: dari balik kaca jendela bus yang ditumpanginya, gadis kecil itu menatapku seolah-olah sedang bertanya padaku.

Saat itu, aku memang sedang bersemangat untuk turun ke bumi. Tidak biasanya, kali ini tanpa aba-aba, aku muncul dengan riuhnya. Membasahi jalanan, pohon, atap rumah, dan payung-payung berbagai warna yang seketika terkembang. Bagian yang tak kalah serunya adalah menyaksikan orang-orang berlarian mencari tempat berteduh sekadar agar tak tersentuh olehku.

Dari sekian banyak orang yang berhasil tak tersentuh olehku, adalah gadis kecil berambut sebahu dengan hiasan jepit merah muda di kedua sisi kepalanya itu. Ia berlindung di dalam bus oranye yang sedang melaju di atas jalanan basah, duduk di dekat jendela sambil tak hentinya memandangiku.
“Bagaimana bisa kau baik-baik saja: jatuh dari ketinggian yang jauh, lalu mendebam pada tanah dengan kencangnya?” ia lanjut bertanya bahkan sebelum ku berhasil menemukan jawaban untuk pertanyaan pertamanya.

 

**Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kegiatan #30HariBercerita di media sosial instagram yang diaadakan oleh @30haribercerita dan saya ikuti melalui akun saya @itashn.

Iklan

Kursi-Kursi yang Belum Terisi

PicsArt_01-07-03.41.01
— “the seats are empty, so are some parts in me.”
.
Tidak semua kursi yang tersedia akan penuh terisi.
Bisa saja tak akan pernah terisi hingga tak ada pertunjukan yang dapat diawali.
Bisa saja terisi; hanya singgah sejenak, lalu pergi, dan kursi tersebut kembali tak terisi sampai ada yang silih berganti.
Bisa saja beberapa menit atau beberapa jam selanjutnya, kursi-kursi itu akan penuh terisi. Bukan hanya singgah untuk kemudian pergi. Pengisi yang tetap tinggal untuk menunggu pertunjukan dimulai, menonton pertunjukan sampai selesai, dan bertepuk tangan seiring lampu panggung dipadamkan.
.
Tidak semua kursi yang tersedia akan seketika terisi.
Barangkali ada pengisi yang terlambat datang karena parahnya parade kendaraan di jalanan.
Barangkali ada pengisi yang terlambat datang karena ketiduran, lupa bahwa ada pertunjukan yang direncanakan untuk disaksikan.
.
Tidak semua kursi yang tersedia akan penuh terisi; meski tiket telah terjual habis hanya dalam beberapa hari.
Barangkali ada yang batal mengisi kursi karena beberapa urusan yang tak bisa ditinggalkan.
Barangkali ada yang batal mengisi kursi karena akhirnya menyadari bahwa pertunjukan yang ia rencanakan untuk disaksikan entah sejak kapan, hanyalah pertunjukan biasa yang tak perlu ia biarkan waktunya terbuang percuma.
**Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kegiatan #30HariBercerita di media sosial instagram yang saya ikuti melalui akun saya @itashn.

Kepada Nau dan Nau

Hari ini, saat saya sedang membereskan file-file di laptop, tidak sengaja saya menemukan sebuah file Ms. Word dengan judul “Kepada Nau dan Nau”. Saat saya buka, ternyata berisikan sebuah surat singkat yang saya tulis untuk dua ponakan saya yang bahkan saya tidak ingat kapan saya menulisnya. Baru saat saya klik properties-nya, saya tahu bahwa tulisan tersebut dibuat pada tanggal 2 Februari 2015. Jadi, surat tersebut saya tulis saat Nau pertama a.k.a. Naufal Adnan Athaya mungkin masih berusia empat tahun dan Nau kedua a.k.a. Naura Azzalva Athaya mungkin belum genap berusia dua tahun.

Tidak disangka waktu begitu cepat berlalu. Ponakan saya yang dulu hanya berjumlah dua (Naufal dan Naura), kini bertambah satu anak laki-laki yang sedang belajar mengucap kata-kata: Nauki. Ya, Nau dan Nau kini telah menjadi Nau-Nau-Nau.

Berikut isi dari surat singkat yang ditulis dua tahun lalu tersebut:

Kepada Nau dan Nau

 

Aku tahu kalian belum bisa membaca dan kalian tidak perlu meminta tolong mama atau ayahmu untuk membacakan surat ini. Kalian tidak perlu dan aku tidak berharap kalian membacanya sekarang. Mungkin suatu nanti ketika kalian telah fasih membaca kalimat-kalimat panjang dalam surat kabar, tibalah kalian untuk mengerti, ada sebuah surat yang menanti.

Ini surat pertama kalian bukan?

Kutulis surat ini di ruang tamu rumah akung-utimu. Duduk si sofa, menghadap pintu yang terbuka dan mempertontonkan riuhnya jalan raya di pagi hari. Nau si besar, sedangkah kau menikmati riuh jalan serupa di depan rumahku dalam perjalananmu menuju sekolah kecilmu? Nau si kecil, masihkah kau terlelap atau sudah terbangun dengan rambut kriwil tak tertatamu?

Kutulis surat ini dengan tiba-tiba dan tak terduga. Entah dari mana muncul ide menulis surat untuk kalian.

Kepada Nau dan Nau yang bertumbuh besar dengan caranya sendiri-sendiri, aku sering membayangkan suatu saat kalian sudah besar dan sibuk menceritakan kejadian-kejadian yang kalian alami. Bercerita tentang dimarahi guru karena terlambat tiba di sekolah, percayalah aku dulu lebih berpengalaman dalam hal ini. Atau bercerita tentang seorang teman di sekolah yang suka bertingkah lucu, lalu kita akan menertawakannya bersama-sama. Barangkali suatu hari kalian akan memintaku membantu mengerjakan PR, minta diantar menonton film kartun di bioskop, atau menemani membeli sepatu.

Nau si besar, entah berapa tahun lagi kau masih menyukai menonton Boboboy, Upin dan Ipin, Khrisna, Bima, dan kartun-kartun televisi favoritmu lainnya. Mungkin belasan tahun lagi kau akan lebih memilih menonton film-film action luar negeri yang berisikan tembak-tembakan dan guling-gulingan dibanding kartun-kartun tentang persahabatan itu.

Nau si kecil, entah berapa tahun lagi kau masih senang bergoyang ketika diputarkan lagu. Gerakan-gerakan lucumu. Kaki yang menjejak-jejak tanah sambil badan berputar, tangan yang melambai-lambai ke udara, dan rambut kriwilmu yang berayun-ayun. Apakah suatu hari nanti kau akan tetap makan dengan lahap seperti sekarang? Atau mungkin belasan tahun lagi, kau akan sering menolak makan demi menjaga berat badan lalu sibuk bermain dengan bedak dan wewangian.

 

Aku Melihat Sebuah Pohon Tumbuh di Matamu

 

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Bukan pohon jambu atau pohon mangga yang buahnya sering kau curi dulu.

Sebuah pohon trembesi tumbuh di matamu.

Rindangnya mengingatkanmu pada pepohonan di pinggir sepanjang jalan dalam perjalananmu pulang.

Saat angin kencang datang, daun-daunnya yang mungil akan berguguran. Menjelma bulir air yang turun dari mata, pipi, lalu berakhir di dagumu. Selanjutnya, kau tak tahu ke mana perginya jelmaan luka itu.

Ranting-rantingnya yang bercabang saling menjulur menangkap udara. Jika musim sedang begitu baik, ranting-ranting itu akan menjulur keluar dari matamu, menjelma bulu mata yang berayun pada tiap kedipmu.

Batang pohon trembesi yang tumbuh di matamu itu berwarna cokelat tua. Warna cokelatnya akan mengingatkanmu pada pagar kayu rumah bapak-ibumu. Pagar kayu itu, bukan lagi batas antara jalanan dan sebuah rumah kayu. Melainkan antara ragu dan kerinduanmu.

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Pohon trembesi yang mengingatkanmu pada jalan menuju rumahmu.

Surat Untuk Gelas Kopi

IMG_20140406_080818.jpg

Kau adalah sebuah gelas bergagang yang biasa orang sebut mug yang dihadiahkan oleh temanku untuk ulang tahunku yang ke-17. Kau adalah gelas dengan luaran berwarna hitam dan dipenuhi nama berbagai jenis kopi yang dituliskan dengan warna putih. Espresso, Mocca, Cappuccino, dan Latte. Tunggu, jangan kau minta padaku untuk menjelaskan masing-masingnya. Karena kau jelas tahu bahwa aku tidak tahu.

Kau adalah gelas kopi yang di dalam tubuhmu, aku tidak hanya kerap menyeduh kopi. Entah berapa ratus kantong teh yang kucelupkan dalam air panas yang memenuhi badanmu, entah berapa saset serbuk berwarna nan tidak menyehatkan yang kutaburkan di dasarmu untuk kemudian kularutkan, entah berapa puluh ribu teguk air putih yang kudapat darimu. Kau adalah gelas kopi yang di dalam kosongnya badanmu, aku pernah meracik teh, minuman berwarna, dan air putih seadanya.

Kau adalah gelas kopi dengan gempil di sebagian sisi bibirmu. Maaf, barangkali aku ceroboh. Kamarku yang selalu minta untuk dirapikan –namun aku selalu enggan-, membuatku menaruh segala benda di sembarang sisi –termasuk kau. Lalu suatu hari, kakiku yang terburu-buru untuk pergi ke kampus tak sengaja menyenggolmu hingga jatuh membentur lantai. Saat aku pulang, baru kusadari senggolan kakiku membuat bibirmu gempil selebar tiga senti dan sebuah tanda retakan muncul di badanmu, menjalur turun dari bibir sampai pertengahan badanmu. Untungnya, gempil dan retakan itu tidak membuat air mampu merembes keluar dari badanmu. Dan kau masih tetap gelas kopi yang di dalam tubuhmu, aku menyeduh segala sesuatu yang tidak hanya kopi.

Kau adalah gelas kopi, yang ketika banyaknya tugas memaksaku mengurangi jatah tidur, darimu aku menyeduh cafein untuk menahanku terjaga. Kau adalah gelas kopi, yang ketika lapar datang namun aku sedang malas keluar dan tak ada cadangan makanan di kamar, di dalam tubuhmu aku menuangkan susu kental manis cokelat atau minuman sereal yang kupenuhi dengan air panas setelahnya. Yang dari satu gelasmu, rasa laparku sedikit terganjal.

Kau adalah gelas kopi, yang sudah ribuan kali kukotori, lalu kucuci untuk kukotori lagi. Kau adalah gelas kopi yang nyaris empat tahun telah ada di atas rak piringku, berdempetan dengan piring dan mangkok yang biasa kugunakan untuk makan mie. Kau adalah gelas kopi, yang membuatku harus selalu berterima kasih pada Ain, gadis penuh semangat yang telah menjadikanmu ada di sini.

Memahami Laut

Aku berdiri di sini

Memandangi laut yang barangkali

doa-doaku pernah mengapung di atasnya

Tersilaukan matahari yang nyaris tenggelam di ujungnya

 

Aku berdiri di sini

Mengumpulkan detik yang menghitung detak yang mempercepat detik

Untuk kulempar ke laut

Biar tenggelam,

Biar tak ada detik yang buat aku tenggelam

 

Aku berdiri di sini

Menerka sedalam apa terdasarkan dirinya

Mengira gaduh yang dicipta riak bergema

Sedikit cemas,

apakah perahuku akan tak apa

 

Aku berdiri di sini

Di balkon berpagar kayu tua

Menghadap segala yang bukan laut adanya

 

 

…lah

Berjalanlah, selagi masih ada jalan yang bisa kau jejaki.

Mencarilah, selagi masih ada yang bisa kau temukan –dan mau untuk kau temukan.

Tersenyumlah, selagi pagi dan malam masih beriringan menggenapkan hari.

Belajarlah, selagi kepalamu masih mampu, menampung segala yang tak kau tahu.

Bersyukurlah, selagi masih ada yang kauhirup-embuskan setiap nyala pagi.

Berdoalah, selagi masih ada Yang bisa selalu kau ingat dalam hati dan nurani.

 

Teruntuk kamu, yang sedang menulis ini.