Aku Melihat Sebuah Pohon Tumbuh di Matamu

 

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Bukan pohon jambu atau pohon mangga yang buahnya sering kau curi dulu.

Sebuah pohon trembesi tumbuh di matamu.

Rindangnya mengingatkanmu pada pepohonan di pinggir sepanjang jalan dalam perjalananmu pulang.

Saat angin kencang datang, daun-daunnya yang mungil akan berguguran. Menjelma bulir air yang turun dari mata, pipi, lalu berakhir di dagumu. Selanjutnya, kau tak tahu ke mana perginya jelmaan luka itu.

Ranting-rantingnya yang bercabang saling menjulur menangkap udara. Jika musim sedang begitu baik, ranting-ranting itu akan menjulur keluar dari matamu, menjelma bulu mata yang berayun pada tiap kedipmu.

Batang pohon trembesi yang tumbuh di matamu itu berwarna cokelat tua. Warna cokelatnya akan mengingatkanmu pada pagar kayu rumah bapak-ibumu. Pagar kayu itu, bukan lagi batas antara jalanan dan sebuah rumah kayu. Melainkan antara ragu dan kerinduanmu.

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Pohon trembesi yang mengingatkanmu pada jalan menuju rumahmu.

Surat Untuk Gelas Kopi

IMG_20140406_080818.jpg

Kau adalah sebuah gelas bergagang yang biasa orang sebut mug yang dihadiahkan oleh temanku untuk ulang tahunku yang ke-17. Kau adalah gelas dengan luaran berwarna hitam dan dipenuhi nama berbagai jenis kopi yang dituliskan dengan warna putih. Espresso, Mocca, Cappuccino, dan Latte. Tunggu, jangan kau minta padaku untuk menjelaskan masing-masingnya. Karena kau jelas tahu bahwa aku tidak tahu.

Kau adalah gelas kopi yang di dalam tubuhmu, aku tidak hanya kerap menyeduh kopi. Entah berapa ratus kantong teh yang kucelupkan dalam air panas yang memenuhi badanmu, entah berapa saset serbuk berwarna nan tidak menyehatkan yang kutaburkan di dasarmu untuk kemudian kularutkan, entah berapa puluh ribu teguk air putih yang kudapat darimu. Kau adalah gelas kopi yang di dalam kosongnya badanmu, aku pernah meracik teh, minuman berwarna, dan air putih seadanya.

Kau adalah gelas kopi dengan gempil di sebagian sisi bibirmu. Maaf, barangkali aku ceroboh. Kamarku yang selalu minta untuk dirapikan –namun aku selalu enggan-, membuatku menaruh segala benda di sembarang sisi –termasuk kau. Lalu suatu hari, kakiku yang terburu-buru untuk pergi ke kampus tak sengaja menyenggolmu hingga jatuh membentur lantai. Saat aku pulang, baru kusadari senggolan kakiku membuat bibirmu gempil selebar tiga senti dan sebuah tanda retakan muncul di badanmu, menjalur turun dari bibir sampai pertengahan badanmu. Untungnya, gempil dan retakan itu tidak membuat air mampu merembes keluar dari badanmu. Dan kau masih tetap gelas kopi yang di dalam tubuhmu, aku menyeduh segala sesuatu yang tidak hanya kopi.

Kau adalah gelas kopi, yang ketika banyaknya tugas memaksaku mengurangi jatah tidur, darimu aku menyeduh cafein untuk menahanku terjaga. Kau adalah gelas kopi, yang ketika lapar datang namun aku sedang malas keluar dan tak ada cadangan makanan di kamar, di dalam tubuhmu aku menuangkan susu kental manis cokelat atau minuman sereal yang kupenuhi dengan air panas setelahnya. Yang dari satu gelasmu, rasa laparku sedikit terganjal.

Kau adalah gelas kopi, yang sudah ribuan kali kukotori, lalu kucuci untuk kukotori lagi. Kau adalah gelas kopi yang nyaris empat tahun telah ada di atas rak piringku, berdempetan dengan piring dan mangkok yang biasa kugunakan untuk makan mie. Kau adalah gelas kopi, yang membuatku harus selalu berterima kasih pada Ain, gadis penuh semangat yang telah menjadikanmu ada di sini.

Memahami Laut

Aku berdiri di sini

Memandangi laut yang barangkali

doa-doaku pernah mengapung di atasnya

Tersilaukan matahari yang nyaris tenggelam di ujungnya

 

Aku berdiri di sini

Mengumpulkan detik yang menghitung detak yang mempercepat detik

Untuk kulempar ke laut

Biar tenggelam,

Biar tak ada detik yang buat aku tenggelam

 

Aku berdiri di sini

Menerka sedalam apa terdasarkan dirinya

Mengira gaduh yang dicipta riak bergema

Sedikit cemas,

apakah perahuku akan tak apa

 

Aku berdiri di sini

Di balkon berpagar kayu tua

Menghadap segala yang bukan laut adanya

 

 

…lah

Berjalanlah, selagi masih ada jalan yang bisa kau jejaki.

Mencarilah, selagi masih ada yang bisa kau temukan –dan mau untuk kau temukan.

Tersenyumlah, selagi pagi dan malam masih beriringan menggenapkan hari.

Belajarlah, selagi kepalamu masih mampu, menampung segala yang tak kau tahu.

Bersyukurlah, selagi masih ada yang kauhirup-embuskan setiap nyala pagi.

Berdoalah, selagi masih ada Yang bisa selalu kau ingat dalam hati dan nurani.

 

Teruntuk kamu, yang sedang menulis ini.

Belum Lelahkah Kau Menunggu?

Nona,

Tanpa kau sadari, waktu menjelma jarum-jarum raksasa yang melubangi segala sesuatu di sekitarmu. Atap gedung sekolah. Lantai rumah sakit. Pilar-pilar stasiun. Pintu rumah-rumah kosong. Juga setapak jalan ke tempat tujuanmu. Lagi-lagi tanpa kau sadari, lubang-lubang itu semakin hari semakin lebar dan dalam. Segala sesuatu di atasnya mulai terperosok, segala sesuatu di sekitarnya mulai terisap ke dalamnya.

Sementara waktu sibuk melubangi segala sesuatu, kau masih berdiri dan sibuk berputar-putar dalam lingkaran kecil yang kau gambar dengan krayon cokelat tua. Dalam lingkaran itu, terkadang kau terduduk dengan kepala menengadah. Menghitung detik-detik sebelum hujan turun, menamatkan menit sebelum hujan mereda. Terkadang kepalamu menghadap ke atas untuk menerka setinggi apa langit di sana. Seluas apa langit yang terpadu dari warna putih-biru muda itu. Perlahan tanganmu terangkat ke atas dan melambai mencoba meraih langit. Berkali-kali, tetap tak bisa.

Di saat tertentu, kau memilih terduduk dengan kepala menunduk. Memainkan jemari di tanah, menggambar sesuatu dengan jari telunjukmu. Pernah kau gambar rumah, beruang, matahari, dan awan. Lalu kau nyalakan imajinasi di kepalamu, mereka-reka cerita yang kau suka. Terkadang konsentrasi berimajinasimu teralihkan oleh barisan semut yang melintas ke dalam lingkaranmu. Diam-diam kau pandangi semut-semut hitam yang berbaris rapi itu. Ingin kau sapa, tapi urung karena terpikirkan semut tak mengerti bahasa manusia.

Dari kejauhan, kau amati ulat bulu yang menggantung di dahan pohon Akasia. Ada yang aneh, katamu saat melihat ulat bulu itu beberapa waktu kemudian terbungkus kulit tipis nan kaku. Seharian kau sibuk dengan keherananmu. Mencoba berpikir, mencari teorema mana yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada ulat bulu itu. Kau ingin melihatnya lebih dekat dan bertanya langsung pada ulat bulu di dalamnya. Namun langkahmu terhenti, oleh garis krayon yang melingkarimu.

Beberapa waktu kemudian, kembali kau bertanya heran. Ketakjuban yang disebabkan oleh hal lain. Dengan rona wajah penuh tidak percaya, kau amati seekor kupu-kupu dengan sayap mekar merah muda keluar dari bungkusan itu. Kau ikuti arah terbangnya, mulai dari dahan pohon Akasia, taman bunga hingga laut yang membuatnya hilang dari pandanganmu. Lalu, ke manakah si ulat bulu? Sihir apa yang membuat ulat bulu menjelma kupu-kupu? Ataukah kupu-kupu itu memakannya? Ingin kau kejar kupu-kupu itu untuk menjawab keherananmu. Namun lagi-lagi, lingkaran krayon menciptakan keenggananmu.

Lagi, kau hanya bisa terdiam di kehampaan terdalam lingkaranmu.

Acap kali kau berharap datangnya seseorang yang akan menghapus lingkaran krayonmu itu, membebaskanmu. Kau terus menunggu sampai jarum raksasa bernama waktu hampir selesai melubangi segala sesuatu. Lalu pada akhirnya kau akan menemukan jawaban yang tak pernah kau duga.

Nona, barangkali kau lupa pada benda yang tenggelam di saku bajumu. Sebuah penghapus yang sengaja kau beli bersama krayon cokelat tua itu. Dengan penghapus itu, kau bisa dengan mudahnya menghapus lingkaranmu. Membiarkan kakimu melangkah sejauh mungkin, mendekati yang kau tuju.

Maka, Nona, belum lelahkah kau menunggu?


Dariku,

yang (masih dan akan terus) mempelajarimu.

Mendung di Depan Rumahku

Selamat jalan, Januari. Seberapa siap kau untuk pergi?

Aku ingat betul banyaknya mendung yang kau bawa ke depan rumahku. Gumpalan awan hitam yang terkadang membawa angin, menerbangkan dedaunan kering. Perlahan dari singgasananya yang tak kutahu di mana, jatuh titik-titik air tak berwarna. Membasahi jalan raya, halaman, dan sedikit teras rumahku.

Tanpa kuminta, nyaris setiap hari kau mengunjungi rumahku dengan membawa mendung di keranjangmu. Keranjangmu terbuat dari anyaman rotan yang dikelilingi kain renda abu-abu dan pita kecil berwarna biru tua. Diam-diam, kau tebarkan mendung itu di depan rumahku. Kadang saat malam mulai tua, kadang saat pagi buta, kadang dari pagi hingga usainya senja.

Pernah suatu ketika aku memergokimu yang sedang menebarkan gumpalan awan hitam di depan rumahku. “Membawa mendung lagi, Januari?” tanyaku. Kau hanya melihatku sekilas, tanpa menanggapi dan kembali melanjutkan pekerjaanmu. Kuulangi pertanyaanku dan kali itu kau benar-benar mengabaikanku. Akhirnya aku memilih masuk kembali ke dalam rumah dengan penuh rasa sebal. Selanjutnya, aku berjanji tidak akan mengajakmu bicara lagi saat kembali memergokimu suatu nanti.

Januari, diam-diam aku menghitung banyak digit 31-mu. Merangkainya menjadi tali panjang yang kukaitkan mimpi dan harapan di atasnya. Beberapa mimpi dan harapan baru yang sengaja kukaitkan pada digit tertentu, sebagian lain yang adalah sisa dari rangkaian tali sebelumnya. Dan kini, tanpa kusadari tali panjang itu telah melampaui ujungnya. Memaksaku harus bersiap untuk merangkai tali yang lain. Masih ada terlalu banyak mimpi dan harapan yang masih mengerut di talimu dan kini aku harus kembali memungutnya, memindahkannya ke tali panjang baru yang telah dipersiapkan. Januari, maukah kau lihat rangkaian taliku yang baru yang telah meninggalkan 31 digitmu? Sst… itu rahasiaku dengan Februari, kawan sebangkumu. Kudengar hari ini kawan sebangkumu itu akan datang dan meminjamiku tali baru untuk dirangkai.

Jadi, selamat jalan, Januari. Tenang, aku sudah melupakan rasa sebal dari pengabaianmu tempo lalu. Kini aku siap menyambut kehadiran si Februari.

Dari kejauhan, kulihat Februari berjalan menuju rumahku. Di tangannya tergantung sebuah keranjang dari anyaman rotan. Tunggu, bukankah itu keranjangmu?

Dari aku,

Penghuni rumah itu.