Aku Melihat Sebuah Pohon Tumbuh di Matamu

 

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Bukan pohon jambu atau pohon mangga yang buahnya sering kau curi dulu.

Sebuah pohon trembesi tumbuh di matamu.

Rindangnya mengingatkanmu pada pepohonan di pinggir sepanjang jalan dalam perjalananmu pulang.

Saat angin kencang datang, daun-daunnya yang mungil akan berguguran. Menjelma bulir air yang turun dari mata, pipi, lalu berakhir di dagumu. Selanjutnya, kau tak tahu ke mana perginya jelmaan luka itu.

Ranting-rantingnya yang bercabang saling menjulur menangkap udara. Jika musim sedang begitu baik, ranting-ranting itu akan menjulur keluar dari matamu, menjelma bulu mata yang berayun pada tiap kedipmu.

Batang pohon trembesi yang tumbuh di matamu itu berwarna cokelat tua. Warna cokelatnya akan mengingatkanmu pada pagar kayu rumah bapak-ibumu. Pagar kayu itu, bukan lagi batas antara jalanan dan sebuah rumah kayu. Melainkan antara ragu dan kerinduanmu.

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Pohon trembesi yang mengingatkanmu pada jalan menuju rumahmu.

Memahami Laut

Aku berdiri di sini

Memandangi laut yang barangkali

doa-doaku pernah mengapung di atasnya

Tersilaukan matahari yang nyaris tenggelam di ujungnya

 

Aku berdiri di sini

Mengumpulkan detik yang menghitung detak yang mempercepat detik

Untuk kulempar ke laut

Biar tenggelam,

Biar tak ada detik yang buat aku tenggelam

 

Aku berdiri di sini

Menerka sedalam apa terdasarkan dirinya

Mengira gaduh yang dicipta riak bergema

Sedikit cemas,

apakah perahuku akan tak apa

 

Aku berdiri di sini

Di balkon berpagar kayu tua

Menghadap segala yang bukan laut adanya

 

 

Merangkum Malam

Ada yang ingin kurangkum dari seluruh segi dunia ini.

Mungkin tentang langit malam yang hari ini masih menyediakan tempat untuk bulan dan bintang, sementara ia memperbolehkan dirinya sendiri untuk tak terlihat. Mungkin tentang angin pancaroba yang sembunyi-sembunyi menciptakan resah di tiap dahi warga desa; resah jika esok hari anak-anak mereka tak dapat masuk sekolah karena sariawan, radang tenggorokan, atau pun demam. Mungkin juga tentang beberapa televisi yang masih menyala di rumah-rumah, sementara seseorang atau beberapa orang di depannya telah tertidur pulas bahkan sebelum acara TV yang sejak kemarin diniatkan untuk ditonton itu usai.

Ada yang ingin kusisipkan pada malam berbentuk bujur sangkar ini –sementara malam-malam sebelumnya berbentuk lingkaran bak purnama atau trapesium seadanya.

Doa-doa yang kuejakan sebelum tidur. Yang kubaca sebagai mantra, yang seringkali kubincangkan dengan semesta.

Sebaris doa yang menggumamkan namamu.

Berlarik doa yang memohon untuk dikabulkan, agar esok aku dapat menemuimu lagi, pagi.

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti
Doa-doa yang menelusupkan namamu akan menggema di udara
Tak ia biarkan suara hujan meredamkannya
Lalu giliranmu yang menambahkan aminnya

Pada suatu hari nanti
Harapan-harapan yang menggugumu akan berloncatan di sembarang kepala
Lisan dan tulisan akan seharian menuturkannya
Lalu giliranmu yang menjabarkannya

Pada suatu hari nanti
Bilangan usiamu bertambah satu
Kau akan tersenyum lugu dengan dedoa dan harapan yang meluapimu
Ketahuilah, cantik,
Semesta memiliki lebih dari segala sesuatu untukmu
Lebih dari yang akan kau tahu
Lebih dari yang akan kau mau

Dan pada suatu hari nanti bernama “hari ini”
Saraf auditorimu akan menangkap ejaku
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, dan selamat ulang tahun
Hei, perempuan yang terkadang kujadikan teladan

 

-with love,
Yang dahulu selalu membuatmu dihujani pertanyaan “Ber, Ita ke mana?” setiap aku terlambat berangkat sekolah.

29012013(012)

 

Tubuh Hujan

(Hari Ke 27)

 

Sendi-sendi hujan merangkul kukuh kenangan
Anteng seperti bayi dalam gendongan

Betis hujan tekun mengayunkan rindu

Membawanya berkeliling selepas petang

Hanyut pada lautan yang lugu

 

Lututnya adalah cawan luka

Kau bisa menitipkan dukamu di sana

Sementara ia meminjamimu bahagia

Sampai-sampai kau lupa mengembalikannya

 

Tangan hujan tak sedingin tubuhnya

Di sana, sekantong bubuk harapan tergenggam

Bila mana hujan jatuh, bubuknya beterbangan

Terlempar ke atap rumah

Terjatuh di tanah basah

Atau menyentuh wajah-wajah yang pasrah

Prolog Sepi

(Hari ke 21)

Seperti

Kelabu ungu yang memenuhi ruang hatiku

Ungu biru yang mengindahkan setiap langkahku

Dan pasir putih yang mendengar denyut batinku

 

Setiap langkah kecil

Yang membenamkan kata-kataku

Ketika tangan ini tlah bersandar di bahumu

Berhenti menentang angin

Berhenti menepis badai

 

Bilakah,

Setiap tetes air mataku berarti untukmu?

Bilakah,

Setiap nafas kecilku

Terasakan oleh jantungmu?

Aku hanya sendiri…

Tak berarti…

Berjelaga hingga terbunuh sepi

 

Haruskah ku merintih?

Haruskah ku menangis?

Untuk sebuah kehilangan

Yang telah melesapkan sjuta kataku

Dan ribuan deskripsi

Tentang dunia fana ini

 

Aku sepi…

Aku berlari

Mencoba mencari satu yang pasti

Dan menanti

Daun-daun yang memutih

Langit biru yang berkelam diri

Sampai menenggelamkanku

Dalam kisah yang mendebu

 

Secara tidak sengaja menemukan puisi di atas ketika sedang membereskan file-file yang berceceran di laptop. Pada kolom date modified tertulis 07/04/2009.

Langit Terhujan

Harike17

Hujanku masih sama

Air tak berwarna yang perlahan menuruni udara

Merayap pada kubangan, selokan, dan sungai di ujung jalan

Diam-diam mengantarkan paketan rindu yang sembarangan

 

Langitku masih sama

Gelap

Ia menjatuhkan hujan yang tidak bisa kulihat

Ia mengaungkan gaduh dalam peluk yang erat

 

 

-Hujan. Jogja.