Merangkum Malam

Ada yang ingin kurangkum dari seluruh segi dunia ini.

Mungkin tentang langit malam yang hari ini masih menyediakan tempat untuk bulan dan bintang, sementara ia memperbolehkan dirinya sendiri untuk tak terlihat. Mungkin tentang angin pancaroba yang sembunyi-sembunyi menciptakan resah di tiap dahi warga desa; resah jika esok hari anak-anak mereka tak dapat masuk sekolah karena sariawan, radang tenggorokan, atau pun demam. Mungkin juga tentang beberapa televisi yang masih menyala di rumah-rumah, sementara seseorang atau beberapa orang di depannya telah tertidur pulas bahkan sebelum acara TV yang sejak kemarin diniatkan untuk ditonton itu usai.

Ada yang ingin kusisipkan pada malam berbentuk bujur sangkar ini –sementara malam-malam sebelumnya berbentuk lingkaran bak purnama atau trapesium seadanya.

Doa-doa yang kuejakan sebelum tidur. Yang kubaca sebagai mantra, yang seringkali kubincangkan dengan semesta.

Sebaris doa yang menggumamkan namamu.

Berlarik doa yang memohon untuk dikabulkan, agar esok aku dapat menemuimu lagi, pagi.

Iklan