Aku Melihat Sebuah Pohon Tumbuh di Matamu

 

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Bukan pohon jambu atau pohon mangga yang buahnya sering kau curi dulu.

Sebuah pohon trembesi tumbuh di matamu.

Rindangnya mengingatkanmu pada pepohonan di pinggir sepanjang jalan dalam perjalananmu pulang.

Saat angin kencang datang, daun-daunnya yang mungil akan berguguran. Menjelma bulir air yang turun dari mata, pipi, lalu berakhir di dagumu. Selanjutnya, kau tak tahu ke mana perginya jelmaan luka itu.

Ranting-rantingnya yang bercabang saling menjulur menangkap udara. Jika musim sedang begitu baik, ranting-ranting itu akan menjulur keluar dari matamu, menjelma bulu mata yang berayun pada tiap kedipmu.

Batang pohon trembesi yang tumbuh di matamu itu berwarna cokelat tua. Warna cokelatnya akan mengingatkanmu pada pagar kayu rumah bapak-ibumu. Pagar kayu itu, bukan lagi batas antara jalanan dan sebuah rumah kayu. Melainkan antara ragu dan kerinduanmu.

Aku melihat sebuah pohon tumbuh di matamu. Pohon trembesi yang mengingatkanmu pada jalan menuju rumahmu.