Dialog #2 : Telepon

(Hari ke 24)

 

“Apa kau sudah bertemu dengannya?”

“Belum.”

“Kau tahu di mana dia sekarang?”

“Tidak.”

“Kau sudah mencoba mencarinya?”

“Belum.”

“Mengapa kau tidak berusaha mencarinya?”

“Aku takut.”

“Takut? Takut kenapa?”

“Takut jika dia sudah tidak mengingatku.”

“Ha ha ha. Kau ini lucu. Kau bahkan sudah membuat spekulasi yang berlebihan!”

“Tetapi sungguh, aku pun tidak tahu apa yang harus kukatakan ketika telah bertemu dengannya.”

“Bukankah kau punya nomor handphone-nya?”

“Iya.”

“Dasar bodoh, tunggu apa lagi! Segera telepon dia!”

“Tapi… Sudah kubilang, aku takut.”

“Bukankah kau merindukannya?”

“Iya.”

“Kalau begitu, segera telepon dia!”

 —

Tit. Tut. Tit. Tut. Tit. Tut. Tit. Tut. Tit. Tut. Tit. Tut.

Dreeettttttt….. Dreeettttttt….. Dreeettttttt…..

“Rindu yang Anda miliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Segera isi ulang dan…”

Tuuuuttttttt…..

 

Berbatas Batas

Batas-batas terkadang memaksa kita untuk melonggarkan pelukan

Mengumbar salam perpisahan

Hingga tangan kita sulit untuk saling menggapai

Sulit untuk saling tercapai

 

Batas-batas menggunungkan rindu yang hendak menjenuh di pelupuk mata

Meresahkan segala guratan cerita yang hampir tercipta

Ia mengajarkan kita bersabar

Dengan menggetarkan segala debar

 

Batas-batas terkadang meneriakkan gegap hampa

Menalikan kekosongan yang mengantarakan

Mengaitkan seusai melepaskan

Mendekatkan seusai menghempaskan

 

 

Jogja, 26 Agustus 2012.

*Malam pertama di kos, dihimpit kerinduan akan ‘rumah’.