Menunggu Kereta

:ibu

 

Pernah suatu ketika kau berkata,

Waktu adalah jarum raksasa yang melubangi segala sesuatu,

Sedang kulihat dadamu tlah berlubang separuhnya

Bukan oleh waktu, barangkali luka yang tak kau lupa

 

Pernah suatu ketika,

Kau terduduk menyendiri di sebuah stasiun tanpa nama

Menunggu kereta yang katanya akan tiba setelah senja

Sedang senja masih terperangkap

dalam sajak seorang penyair yang jatuh cinta

 

Dahimu yang berkerut

Pernah kunamai laut

Tempat doa-doa baik bermuara

Tempat ku menyelam tanpa menemui dasarnya

 

Matamu yang sayu

Tempat favoritmu menyembunyikan segala sesuatu

Di sana akan kutemukan,

Tangis anak lelakimu yang terjatuh dari sepeda

Senyum anak perempuanmu saat berfoto dengan kebaya

Atau justru meriang seluruh badan yang seharian kau rasa

 

[Waktu, yang katamu adalah jarum raksasa yang melubangi segala sesuatu,

perlahan mengimpit ruang antara kedua matamu]

 

Kau masih terduduk di sana,

Di stasiun kereta yang di ujung peronnya tak lagi merupa senja

Sebelum segala sesuatu menjadi luka, kataku

Mari, Bu, kutemani menunggu kereta,

Iklan

Lelahmu Sirna

Peluh-peluh yang mengeluh di gelombang pipimu seakan tak mau tahu dengan lelah yang engkau niatkan untuk disembunyikan. Ia menampakkan diri sebagai duka yang tak semestinya engkau simpan dalam tabung kesedihan. Ia menegaskan apa yang engkau taruh di belakang punggungmu; lelah pasrah yang enggan mengalah. Hingga kemudian lagi-lagi senyummu berperan sebagai penipu ulung; menyamarkan apa yang tertampak jelas dari kerutan di dahimu, dalam kerutan di lengan dan kakimu.

Namun tekadmu nampaknya lebih tegas dari patukan burung kenari yang melubangi pepohonan trembesi. Siapa yang mampu menggoyahkan -bahkan jika itu pun badai yang mampu merobohkan tembok paling tegar di semesta? Tekadmu yang membulat lebih bulat dari bayangan bulan di atas permukaan air itu mampu meniadakan apa yang kita sebut sebagai lelah. Tekadmu untuk melengkungkan bibirku hingga melawan bentukan pelangi. Agar aku bercahaya lebih dari apa yang bisa dibuat matahari. Agar aku mampu berjalan lebih lurus dari segala sesuatu yang ada di bumi.