Hari Minggu

Hari Minggu diciptakan dari senyuman-senyuman tenang dan rindu yang kepalang. Minggu disusun dari tidur setelah sembahyang pagi yang disengajakan, bangun yang sengaja disiangkan, lapar yang menggelitik perut setelah semalam kekenyangan, dan mandi yang sengaja tak dijadwalkan. Minggu dikomposisikan dari paruh cerah matahari yang merengsek masuk melalui celah jendela kamar yang tertutup gorden separuh dan rasa malas manusia yang menggelayuti pikiran.

Dentuman kendaraan bermotor yang menggaduh di seberang jalan beradu dengan riuh angin dan cicit burung di atas genteng serta samar pengumuman dari toa masjid sebelah. Tiga album Dashboard Confessional yang diputar acak dengan volume sedang mengisi lengang kamar. Sementara di langit-langit kamar menempel lelah yang terkumpul bermalam-malam.

Hari Minggu dikosongkan dengan tugas-tugas dan janji-janji yang tak sempat dilakukan di awal pekan. Rencana-rencana sederhana yang telah disediakan sejak entah kapan. Membereskan tumpukan buku sisa semester lalu, merapikan lemari baju, dan menuruti baju-baju kotor yang minta segera dicuci. Kini, hari minggu segera penuh berisi. Kini, hari minggu bukan lagi naik delman istimewa untuk turut ayah ke kota.

Pohon Petai dan Tebu

Suatu hari di suatu perkebunan tebu, terjadilah percakapan antara sebuah pohon tebu yang merupakan tetua dari sekoloni tebu di kebun itu dengan sebuah pohon petai yang berdiri menjulang di seberang jalan.

“Hei, tebu!” seru petai pada tebu. “Apa kau tahu, aku selalu benci melihat keberadaanmu dan teman-temanmu itu?”

“Lho, kenapa?” jawab tetua tebu yang berdiri tepat di depannya.

“Kalian itu membuatku iri dan terlihat menyedihkan.”

“Bagaimana bisa? Memangnya apa yang kami Baca lebih lanjut