Hujan dan Alasan

Dear hujan,

Apakah kau masih suka basah? Apakah kau masih suka bingung dalam memilih cara untuk jatuh? Lalu, bagaimana caranya kau bisa menggigilkan tubuh orang, sementara kau sendiri tak sedikit pun merasa kedinginan? Atau sebenarnya seusai menjatuhkan diri pada bumi, kau segera bersembunyi di balik awan tebal, dan memintanya untuk menghangatkanmu? Aku tak tahu pasti. Namun, jika spekulasiku itu benar, aku minta maaf, karena terkadang akulah yang memohon pada Tuhan untuk menampakkanmu di muka bumi.

Orang-orang selalu mengatakan bahwa kau ini spesial –termasuk aku. Bahkan ada yang bilang bahwa kau itu terdiri dari 1% air dan 99% rindu. Apa itu benar? Bagiku, iya. Kau selalu berhasil membuat orang merenung, merindu, dan menyendu. Apa kau sendiri menyadarinya? Apa kau tahu, bahwa aku pun pernah jadi salah satu korbanmu? Tapi, tidak semuanya salahmu. Rindu memang semestinya datang pada waktunya. Entah itu ada sosokmu, atau tidak. Hanya saja terkadang kau seperti backsound (dung-dung-deng) di balik adegan menegangkan dalam sinetron-sinetron norak di televisi : mendramatisir cerita. Sekali lagi, itu bukan salahmu. Kamilah –manusia- yang terlalu mudah terbawa suasana.

Dear Hujan,

Tahukah kau, kau selalu berhasil membuat segala sesuatu nampak lebih romantis? Tetapi berhubung aku single, aku tidak menikmatimu dari dalam warung tenda mie ayam pinggir jalan bersama seseorang. Aku lebih sering (dan senang) mengamati gerak-gerikmu sendirian. Kau selalu pandai menjadwalkan diri untuk jatuh, yaitu ketika bel terakhir sekolahku berbunyi. Aku berlari-lari kecil menyeberangi jalan depan sekolah –sedikit menghindarimu yang akan membuat basah bajuku, lantas menaiki sebuah bus yang akan mengantarku sampai rumah tanpa kakiku harus tergerak. Kau bisa datang kapan saja, dan dengan cara apa saja. Dengan cepat menghantam tanah, atau pelan-pelan untuk sekadar membiarkan baju kami tak teramat basah. Kau jatuh ke bumi tanpa menyentuhku. Dan aku hanya bisa memandangimu dari balik jendela bus kota yang memburam –karena tingkahmu. Sesekali kuusapkan tanganku padanya, untuk menjernihkan pandanganku menuju keadaan luar yang berhasil kau buat menggigil kedinginan.

Tetaplah menjadi hujan yang rela kupandangi sambil menyesap rindu. Tetaplah menjadi hujan yang selalu ada ketika kumohonkan pada-Nya. Terima kasih telah membuat hari-hariku (dan hatiku) basah, tak kering membatu.

Sekian surat dariku. Oh ya, aku punya satu permintaan untukmu, kumohon jangan mengunjungi bumi ketika jemuranku sedang menikmati sinar mataharinya 🙂

 

 

Penggemarmu, yang selalu menantimu bersama rindu.

Iklan

Do You Remember Me?

Hi, apa kabar (teman lama)? Kuharap baik, di mana pun kamu berada. Karena aku tidak ingin kamu membaca surat “aneh” ini dalam keadaan tidak baik. Aku takut kalau nantinya surat ini akan terlihat lebih aneh :p . Ah, mungkin seharusnya terlebih dahulu aku bertanya padamu, apa kamu masih mengingatku, teman sewaktu kanak-kanakmu dulu? Semoga iya -dan lantas kamu akan makin tertarik untuk membaca surat ini. Kalau pun tidak, kusarankan padamu untuk melanjutkan membacanya, hingga setidaknya akan ada harapan kecil yang akan menyenggol ingatanmu, dan mengembalikan sosokku dalam pikiranmu. Yah, intinya apapun yang terjadi, kamu harus menyelesaikan membaca surat –yang sudah susah payah kubuat- ini.

Apakah ini surat cinta? Sesungguhnya tidak. Bahkan kalaupun iya, aku tidak pernah berharap “cinta” itu tertuju padamu. Bukan karena apa-apa, tapi aku bisa jadi gadis terkutuk bila itu terjadi. Jika bukan kamu, maka masa lalu lah yang sebenarnya tempat “cinta” itu menuju. Iya, aku cinta pada masa itu, masa yang akan terlalu romantis jika aku menyebutnya sebagai kenangan, tapi tak apa kan? Aku sendiri tidak tahu pasti kapan pertama kali kita bertemu, dan bagaimana ceritanya kita bisa menjadi teman. Yang pasti (dulu) aku temanmu, (dulu) kamu temanku.

Oh ya, selain satu kelas, dulu kita juga adalah tetangga yang terpisah delapan rumah dan sebuah jalan. Kau ingat, dulu pernah pada suatu siang sepulang sekolah, kau berdiri di depan rumahku sambil berkali-kali meneriakkan namaku sampai aku menampakkan diri, hanya untuk berkata bahwa esok hari kau ingin meminjam uangku? Belum sempat aku memberikan tanggapan, kau berlari pulang ke rumahmu. Aneh tapi lucu. Aku sendiri tidak tahu, yang kamu katakan waktu itu adalah janji, perintah, atau malah ancaman? Keesokan harinya, benar saja, aku meminjamkan sebagian dari uang sakuku yang hanya seribu rupiah untukmu. Katamu, uang jajanmu habis dan kau akan mengembalikannya esok hari. Tapi, bagaimana hari sebelumnya kamu bisa tahu bahwa kamu akan kehabisan uang? Atau kamu memang menyengajanya? Ah, ya sudahlah. Itu hanyalah peristiwa sebelas tahun silam yang seharusnya kita kenang dengan tawa, bukan dengan pertanyaan rumit macam itu. Mmm… Sampai bagian ini, kamu sudah mengingatku kan?

Tamat TK kamu pindah rumah. Sebenarnya tidak terlalu jauh, masih dalam satu kota. Tapi itu mengakibatkan kau takkan sesekolah lagi denganku. Dan kita juga tak pernah saling mengunjungi. Oh ya, asal kamu tahu, kamu adalah teman laki-laki pertama dalam hidupku. Bukankah itu teramat spesial?

Dan sebelum aku menutup surat ini, aku ingin minta maaf karena sekitar lima tahun yang lalu, aku menangkap sosokmu dalam bus yang kutumpangi. Tapi jujur, aku tak punya keberanian untuk menyapamu duluan. Dan akhirnya, pertemuan pertama dan terakhir selama sebelas tahun itu aus begitu saja. Mungkin jika kelak kita dipertemukan kembali, kita harus saling menyapa. Lalu biarkan gulir-gulir napas dengan sendirinya melayarkan cerita. Terima kasih telah mau membaca surat ini.

 

Dari teman lama-mu

Tetakdir

Bagaimana jika pada akhirnya Tuhan lupa untuk mempertemukan kita?

 

——-

Sya

Di luar hujan masih mengguyur deras ketika untuk kesekian kalinya kusesap espresso dalam cangkir putih mungil itu. Kulirik arloji yang melingkar di tangan kiriku. Memikirkanmu benar-benar membuat waktu seperti kata asing di kepalaku. Kalau tidak diabaikan, ya dilupakan. Sudah setengah jam aku duduk sendiri di meja paling dekat pintu masuk kedai kopi berarsitektur mediteranian ini. Dan harusnya kau tahu alasanku memilih duduk di dekat pintu masuk. Apalagi kalau bukan agar aku dengan mudah mengetahui siapa yang membuka pintu kedai –membuat lonceng di atasnya bergoyang sehingga menimbulkan suara “cringgg” yang nyaring- dan aku selalu berharap sosok itu adalah dirimu. Kau, yang kini menjadi alasan mengapa sejak pukul empat kakiku menjejak kedai kopi ini (kembali). Seketika sebuah benang tak terlihat mengait pada pikiranku, dan menghubungkannya pada mesin pemutar “masa lalu”.

“Tiga tahun lagi, kita ketemu disini, ya?” Aku hanya terdiam ketika kau dengan tersenyum mengutarakan keinginanmu itu –sebelum esok harinya pesawat akan membawamu jutaan hasta menjauh dariku. Aku tak tahu itu sebuah janji atau apa, tapi yang kutahu, tiba-tiba udara depan kedai kopi di sudut jalan itu menjadi begitu dingin untuk kuhirup. Bahkan, senyumanmu menjadi terlalu pekat untuk kutatap. Beberapa minggu sebelumnya, ketika kita untuk kesebelas kalinya bertemu di kedai kopi itu (Ah, bahkan aku masih hafal benar setiap pertemuan kita), kau bertanya padaku, apakah aku percaya pada takdir? Aku mengangguk mantap. Hanya orang bodoh yang tidak pernah percaya pada takdir, jawabku. Namun, kau menjadi lebih bodoh ketika mengajakku untuk menebak takdir. Iya, apakah setelah perpisahan itu, kita akan kembali bertemu?

Pertemuan di kedai kopi selalu menjadi hal-tak-sengaja terindah yang pernah kulakukan. Tentu karena kau yang kutemui. Dan seketika bibirku seperti menjadi syaraf tak sadar ketika kita berjumpa –kurasa, begitu halnya dengan bibirmu. Senyuman, tawa, canda seakan menjadi soundtrack sederhana yang diam-diam diputar oleh hati dan pikiran kita. Dan diam-diam pula, tawa canda itu telah mereka jadikan album untuk mereka simpan sendiri.

Kita selalu mencoba untuk saling menjadi pendengar yang baik, hingga pada akhirnya, takdir memaksamu untuk menjauh dariku, untuk tak mengunjungi kedai kopi ini dalam beberapa tahun, dan untuk tak bertemu denganku (lagi). Ayahmu mendapat pekerjaan baru, sehingga kau sekeluarga harus pindah rumah. “Tuhan pasti ingin kita bertemu lagi,” ujarmu, dengan senyuman hangat yang berhasil membekukan dingin malam itu.

Aku hanya terlalu takut untuk mengakut rindu.

Hujan adalah televisi. Dan kenangan adalah tayangan yang sempurna ia putar kembali. Tanpa seorangpun mengetahui, dari balik kaca kedai kopi ini, diam-diam aku menyaksikan adegan itu. Tanpa menyadari sosokmu belum hadir kembali.

Lagi, kuliri arloji –hadiah darimu pada pertemuan ketigapuluh. Pukul lima lebih dua puluh. Perlahan kuhela napas. Aku yakin kau akan datang. Mana mungkin kau lupa pada janjimu?

Atau, aku yang terlalu tolol untuk tak melupakannya?

——-

Rei

 

Hujan lebat selalu membuat segala hal menjadi berantakan. Aku yang seharusnya sudah berada di hadapanmu sejak satu jam lalu, kini hanya menceracau sendiri setelah turun dari pesawat yang sebelumnya keberangkatannya harus ditunda selama satu jam. Aku harus segera menemuimu!

Rintik hujan membuatku berlari untuk masuk ke dalam taksi yang baru saja kuhentikan. Segera kusebutkan nama kedai kopi itu sebelum ditanya akan kemana. Arloji –hadiah darimu sebagai balasan hadiahku- di pergelangan tanganku menunjukkan pukul lima lebih dua puluh. Hanya orang tolol yang melanggar janjinya sendiri!

Jalanan seakan menjadi sebuah pemandangan bodoh untuk kulihat dari balik kaca pintu taksi yang mengembun. Aku benci jalanan kota ini, pun dirimu. Bahkan, di suatu pertemuan kita kala itu, kita habis-habisan mencemooh pemerintah yang tak becus mengurus kota. Ah, entah mengapa aku selalu merasa kita cocok dalam berbagai topik pembicaraan. Bahkan aku sempat berpikir bahwa jika kehidupan sebelumnya itu ada, kita dulu adalah sejoli dengan ikatan batin yng teramat kuat. Dan kau hanya tertawa jenaka ketika aku menceritakannya. Andai kau tahu, terkadang aku berharap pemikiranku itu akan menjadi sebuah takdir untuk kehidupan sekarang.

Tak ada yang menyangka pandangan pertama di kedai kopi itu menjadi awal segalanya. Awal mengapa kita mau memulai “cerita” ini. Tapi anehnya, kita tak pernah saling bertanya dimana kampusmu-kampusku, berapa nomor teleponmu-nomor teleponku, dan pertanyaan-pertanyaan menjenuhkan lainnya. Namamu-namaku, itu saja yang cukup saling kita ketahui. Selanjutnya, biarkan takdir yang mempertemukan (dan memisahkan) kita.

Tiba-tiba sebuah kabut tipis –yang tak pernah kuketahui asalnya- muncul di depan mataku. Perlahan, kabut tembus padang itu meluruh, dan dibaliknya, bayangmu yang tersenyum seakan menggaduhkan kehampaan udara. Ah, rindu mulai memfatamorganakan dirimu.

Seruan dari sopir taksi seketika membuyarkan imajiku. Aku melongokkan kepala. Mencoba menerawang dari balik kaca berembun –yang kemudian kuusap dengan kepal tangan. Tiga tahun tak ke kedai kopi itu membuatku butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa taksi yang kunaiki telah berada tepat di depan terasnya. Setelah mengulurkan beberapa lembar uang dan keluar dari taksi itu, kuayunkan kaki. Bersiap menujumu. Tapi, bagaimana jika kau tak ada di dalam? Bagaimana jika kau lupa padaku dan permohonanku tiga tahun yang lalu? Atau, bagaimana jika kau sudah datang dari tadi, dan kini sudah pulang? Lantas, apakah kau akan membenciku karena telah membuatmu kecewa? Beberapa langkah untuk masuk ke kedai kopi itu membuat pikiranku memproduksi berbagai macam ekspektasi.

Kuhela napas sebelum mendorong pintu kaca hitam dengan kayu coklat di pinggirannya. Seketika lonceng di atas pintu bergoyang, menimbulkan suara “cringgg” yang nyaring. Ragu-ragu kembali kuambil langkah, seraya melayangkan pandangan ke setiap sudut kafe yang amat sepi sore itu. Tak ada satu pun bangku yang mendudukkan dirimu disana.

Lututku lemas seketika. Kau tak ada? Kutarik kursi di balik meja terdekat dari pintu masuk. Di atas meja dengan nomor 1 itu, sebuah cangkir putih kosong menguarkan aroma espresso pekat. Tepat ketika kuperhatikan cangkir putih itu, kudapati sebuah kertas memo putih terjepit di bawahnya. Lalu, kutarik kertas terlipat itu. Kubuka, dan isinya :

Rei, aku tahu kau akan datang. Maaf, aku tak bisa terlalu lama menunggumu.

Pukul enam tiga puluh kereta harus membawaku kembali menjauh darimu.

Ketika kau membaca pesan ini, percayalah, takdir akan mempertemukan kita kembali.

-Sya

Refleks kulirik arloji. Enam lebih lima belas menit. Apapun yang terjadi, aku harus segera  menemuimu!

Sepasang Sepatu

Angin pagi menggerakkan anak rambutku perlahan. Kabut tebal yang sejak semalam merengkuh kota, kini sedikit demi sedikit mulai menghilang, menyisakan titik-titik embun di tiap sudut benda. Hawa hangat mulai menyeruak di segala sisi, bersamaan dengan mentari yang perlahan-lahan menaiki udara. Merah, kuning, dan jingga tercerai dari tiap sorotan matahari kala itu.

Aku, berdiri mematung di sana, di tepi danau mungil yang tanpa perlu disentuh, semua orang bisa memastikan bahwa airnya dingin, atau mungkin bisa membuatmu mati kedinginan jika berendam selama berjam-jam. Perlahan kuayunkan kaki, mendekati sebuah bangku besi yang kakinya terpatri di tanah –di bawah sebuah pohon Akasia raksasa. Hampir setiap hari selama dua tahun ini aku mengunjungi tempat ini. Namun, ini kali keempat aku dapat memandangi semuanya. Ya, hari-hari sebelumnya aku hanya dapat merasakan semua keindahan ini, tanpa perlu ditangkap sensor syaraf mataku.

Kualihkan pandanganku, kembali menuju danau mungil tadi. Sekejap pun ingatanku teralih padanya, perempuan berambut sebahu yang gemar mengumpulkan benda-benda aneh, seperti kerikil berbentuk segiempat yang ia temukan di taman, atau botol air mineral berwarna ungu, yang juga ia anggap sebagai sesuatu yang aneh. Alhasil, karena kegemaran anehnya itu, kamarnya penuh dengan benda-benda yang sebagian orang menganggapnya sebagai barang rongsokan.

Kami dipertemukan pada suatu ketidaksengajaan –yang pada akhirnya kusebut takdir. Kala itu, aku sedang hendak menyeberang setelah memeriksakan mata di sebuah rumah sakit ketika seseorang tiba-tiba menggenggam lenganku.

“Mari saya bantu,” ucapnya lembut.

Aku mengangguk, tersenyum, lantas berkata terima kasih.

Selanjutnya, kebetulan atau entah memang takdir, aku kembali bertemu dengannya. Kala itu, kami bertemu di cafetaria rumah sakit. Sama seperti kasus-kasus pada umumnya, kami memulai dengan perkenalan. Namanya Khailila. Nama yang indah untuk seorang gadis baik dan amat menyenangkan sepertinya. Kecocokan kami bertambah ketika kami saling mengetahui bahwa kami sama-sama seorang guru. Hanya bedanya ia seorang guru di sebuah sekolah dasar negeri, sementara aku seorang guru piano di suatu sekolah khusus tuna netra. “Aku bisa bermain piano sejak berumur delapan tahun, dan aku kehilangan indera penglihatan ketika berumur enam belas tahu, jadi bukan suatu tidak mungkin kan aku bisa bermain piano tanpa indera penglihatan?” jawabkku ketika ia menyangsikan seorang tuna netra yang bisa bermain piano.

Selang satu tahun berlalu, aku merasa amat mengenalnya. Ia supel, dan terlalu lincah untuk seorang penderita gagal ginjal. Ya, ia memang menderita gagal ginjal. Bahkan, aku pernah menawarkan diri untuk mendonorkan ginjalku, sesaat setelah aku menolak permintaannya untuk memberikan kornea matanya padaku.

“Aku memiliki dua ginjal, La, jadi tidak akan berdampak apa-apa jika aku memberikan satu untukmu. Biarkan aku memberikan satu ginjalku, tanpa kau perlu memberikan kornea matamu.”

Ia menggeleng, “Pria sepertimu terlalu baik untuk hidup hanya dengan satu ginjal. Simpan ginjalmu, dan biarkan gadis yang hampir mati ini memberikan kornea matanya.”

Hasilnya? Aku menolak, pun dia. Dan kami kembali pada keterbatasan hidup masing-masing. Seorang tuna netra akan baik-baik saja meski seumur hidupnya ia tidak mendapat donor mata. Sementara dia? Tak ada yang tahu sampai kapan ginjalnya akan bertahan. Hinngga tepat hari ke-35 setelah percakapan itu, hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Ginjalnya sudah rusak total, dan ia diam-diam menghelakan napas terakhirnya. Seharusnya hal itu memang bukan suatu kabar yang mengejutkan, namun semuanya tetap tampak menyesakkan. Dan tepat tiga hari setelah peristiwa itu, operasi donor mataku dilakukan. Kornea mata milik seseorang yang tak ingin diketahui identitasnya, tapi dokter berjanji akan memberitahuku sebulan kemudian seperti permintaan si pemilik kornea mata. Hingga pada akhirnya aku tahu, Khailila adalah pemilik kornea mata yang sekarang menempel di rongga mataku.

Kupejamkan mata, mencoba menghentikan mesin perekam di kepalaku. Hari ke-782 setelah pertemuanku dengannya. Tepat pada hari ulang tahunnya –ulang tahun pertama tanpa kehadirannya. Ya, begitulah akhir kisah ini. Ia pergi, dan aku tinggal. Terpaku menatap takdir Tuhan, dengan matanya. Seketika terbesit sebuah kalimat yang pernah ia ucapkan padaku:

“ Kita adalah sepasang sepatu. Kiri dan kanan. Kita tak pernah menapak bersama-sama. Tapi kita tahu, kita memiliki tujuan yang sama. ”

 

 

PS : Terima kasih untuk Sheila On 7 atas inspirasi nama “Khailila”.

PERTAMA

Pertama adalah pembuka, pengawal suatu peristiwa, pun cerita
Pertama adalah jalan, untuk menuju kedua, ketiga, dan seterusnya
Pertama adalah alasan, mengapa masih ada kelanjutan
Pertama adalah rasa suka, atas keberanian dalam mencoba
Pertama adalah jendela, untuk membuka dunia baru, yang disebut pengalaman
Pertama adalah urutan, yang menjadi penanda kapan tibanya pengakhiran
Pertama adalah hari ini, di mana kisah baru akan dimulai di lembaran kertas maya ini

 

 

*postingan pertama di hari pertama 2012.

–Semoga blog ini bermanfaat! –