Sebelas Januari

#HariKe11

 

“Apa kau tahu mengapa aku suka sebelas Januari?”

“Memangnya kenapa?”

“Coba saja tebak.”

“Hari ulang tahunmu?”

“Tentu saja bukan.”

“Lalu apa?”

“Coba tebak terus saja.”

“Karena hari ini kau punya uang banyak?”

“Jika uangku banyak, seharusnya tadi siang aku mengajakmu ke restoran seafood ternama, bukannya warung bakso pinggir jalan.”

“Oh… Pasti kau mendapat hadiah dari ayah atau ibumu?”

“Hadiah apa? Kau pikir aku ini anak kecil yang bisa kegirangan seharian hanya karena hadiah?

“Kucingmu akhirnya bisa bahasa manusia? Atau kau berhasil pup setelah berhari-hari menahannya?”

“Hahaha… Ngawur sekali jawabanmu…”

“Lalu apa? Rasa penasaranku ini sudah mencapai titik maksimal…”

“Baiklah, karena jawabanmu sudah semakin ngawur, langsung saja akan kuberi tahu mengapa aku menyukai sebelas Januari…

… yaitu kehadiranmu.”

“…”

Kemudian bulan dan bintang tertawa bersama, lanjut bercerita sampai shift kerja mereka berakhir. Sampai kain besar hitam yang mereka baringi ditumpahi cat putih. Konon mereka sahabat sejati, yang apa pun terjadi, selalu bersedia mendampingi -meski pun sang bintang terkadang ‘garing‘ seperti itu.

 

“Sebelas Januari bertemu, menjalani kisah cinta ini. Naluri berkata engkaulah, milikku… “

Percakapan Sederhana

*(Cerita pengganti hari ke-empat)

 

“Dih, baru hari ke empat sudah bolos dan main hutang!” teriak hati kepada kepala saya.

“Bukan begitu, Kemarin memang tidak ada bayangan atau ide mau nulis apa…” balas kepala.

“Tidak ada ide atau memang tidak berniat mencari ide?”

“Hih, okay, mungkin yang ke dua juga ada benarnya. Kemarin rasanya tidak ada jalan atau petunjuk untuk memperoleh ide. Tetapi, memangnya apa urusanmu dengan perkara ini?”

“Hmm… Tentu saja aku berhak turut andil dalam perkara ini, La! Tanpa kau sadari dan ketahui, apa yang kurasakan terkadang menjadi sumber inspirasi untuk pemilikkita. Maka dari itu, kadang pemilikkita mengambil sebagian yang ada pada diriku untuk dihubungkan menuju dirimu dan terciptalah muntahan ide-idemu yang sebenarnya berawal dariku.”

“Nah, kalau begitu, ketika kemarin aku membolos beride karena tidak ada ide, bukankah seharusnya kemarin kamu membantuku memperoleh ide?”

“Eh, kalau itu… Entahlah, aku sendiri juga tidak mengerti. Kemarin pemilikkita tidak mempergunakanku secara optimal. Ia terlalu sibuk dengan urusan lainnya. Ia tidak melakukan sesuatu yang membuat impuls ideku menyala, alhasil aku pun tidak mampu menyetor ide untukmu.”

“Jadi, pada akhirnya, yang salah adalah pemilikkita?”

“Hahaha, mungkin juga seperti itu…”

DIALOG #1 : Bahagia

“Aku tidak ingin terlihat bahagia di sini.”

“Mengapa begitu?”

“Karena aku tak ingin menyakiti orang lain.”

“Orang lain? Siapa mereka?”

“Mereka yang terluka.”

“Tetapi, bukankah mereka terluka bukan karenamu?”

“Memang, tetapi dengan melihat seseorang bahagia, rasa luka akan lebih menjadi duka.”

“Kau benar. Berarti, dengan begitu kau membatasi kebahagiaanmu?”

“Tidak juga. Rasa bahagiaku cukup aman kumiliki sendiri. Tanpa perlu membuat orang yang terluka semakin terluka. Bukankah kebahagiaan diciptakan bukan untuk menjelaskan duka orang lain?”