Belum Lelahkah Kau Menunggu?

Nona,

Tanpa kau sadari, waktu menjelma jarum-jarum raksasa yang melubangi segala sesuatu di sekitarmu. Atap gedung sekolah. Lantai rumah sakit. Pilar-pilar stasiun. Pintu rumah-rumah kosong. Juga setapak jalan ke tempat tujuanmu. Lagi-lagi tanpa kau sadari, lubang-lubang itu semakin hari semakin lebar dan dalam. Segala sesuatu di atasnya mulai terperosok, segala sesuatu di sekitarnya mulai terisap ke dalamnya.

Sementara waktu sibuk melubangi segala sesuatu, kau masih berdiri dan sibuk berputar-putar dalam lingkaran kecil yang kau gambar dengan krayon cokelat tua. Dalam lingkaran itu, terkadang kau terduduk dengan kepala menengadah. Menghitung detik-detik sebelum hujan turun, menamatkan menit sebelum hujan mereda. Terkadang kepalamu menghadap ke atas untuk menerka setinggi apa langit di sana. Seluas apa langit yang terpadu dari warna putih-biru muda itu. Perlahan tanganmu terangkat ke atas dan melambai mencoba meraih langit. Berkali-kali, tetap tak bisa.

Di saat tertentu, kau memilih terduduk dengan kepala menunduk. Memainkan jemari di tanah, menggambar sesuatu dengan jari telunjukmu. Pernah kau gambar rumah, beruang, matahari, dan awan. Lalu kau nyalakan imajinasi di kepalamu, mereka-reka cerita yang kau suka. Terkadang konsentrasi berimajinasimu teralihkan oleh barisan semut yang melintas ke dalam lingkaranmu. Diam-diam kau pandangi semut-semut hitam yang berbaris rapi itu. Ingin kau sapa, tapi urung karena terpikirkan semut tak mengerti bahasa manusia.

Dari kejauhan, kau amati ulat bulu yang menggantung di dahan pohon Akasia. Ada yang aneh, katamu saat melihat ulat bulu itu beberapa waktu kemudian terbungkus kulit tipis nan kaku. Seharian kau sibuk dengan keherananmu. Mencoba berpikir, mencari teorema mana yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada ulat bulu itu. Kau ingin melihatnya lebih dekat dan bertanya langsung pada ulat bulu di dalamnya. Namun langkahmu terhenti, oleh garis krayon yang melingkarimu.

Beberapa waktu kemudian, kembali kau bertanya heran. Ketakjuban yang disebabkan oleh hal lain. Dengan rona wajah penuh tidak percaya, kau amati seekor kupu-kupu dengan sayap mekar merah muda keluar dari bungkusan itu. Kau ikuti arah terbangnya, mulai dari dahan pohon Akasia, taman bunga hingga laut yang membuatnya hilang dari pandanganmu. Lalu, ke manakah si ulat bulu? Sihir apa yang membuat ulat bulu menjelma kupu-kupu? Ataukah kupu-kupu itu memakannya? Ingin kau kejar kupu-kupu itu untuk menjawab keherananmu. Namun lagi-lagi, lingkaran krayon menciptakan keenggananmu.

Lagi, kau hanya bisa terdiam di kehampaan terdalam lingkaranmu.

Acap kali kau berharap datangnya seseorang yang akan menghapus lingkaran krayonmu itu, membebaskanmu. Kau terus menunggu sampai jarum raksasa bernama waktu hampir selesai melubangi segala sesuatu. Lalu pada akhirnya kau akan menemukan jawaban yang tak pernah kau duga.

Nona, barangkali kau lupa pada benda yang tenggelam di saku bajumu. Sebuah penghapus yang sengaja kau beli bersama krayon cokelat tua itu. Dengan penghapus itu, kau bisa dengan mudahnya menghapus lingkaranmu. Membiarkan kakimu melangkah sejauh mungkin, mendekati yang kau tuju.

Maka, Nona, belum lelahkah kau menunggu?


Dariku,

yang (masih dan akan terus) mempelajarimu.

Iklan

Mendung di Depan Rumahku

Selamat jalan, Januari. Seberapa siap kau untuk pergi?

Aku ingat betul banyaknya mendung yang kau bawa ke depan rumahku. Gumpalan awan hitam yang terkadang membawa angin, menerbangkan dedaunan kering. Perlahan dari singgasananya yang tak kutahu di mana, jatuh titik-titik air tak berwarna. Membasahi jalan raya, halaman, dan sedikit teras rumahku.

Tanpa kuminta, nyaris setiap hari kau mengunjungi rumahku dengan membawa mendung di keranjangmu. Keranjangmu terbuat dari anyaman rotan yang dikelilingi kain renda abu-abu dan pita kecil berwarna biru tua. Diam-diam, kau tebarkan mendung itu di depan rumahku. Kadang saat malam mulai tua, kadang saat pagi buta, kadang dari pagi hingga usainya senja.

Pernah suatu ketika aku memergokimu yang sedang menebarkan gumpalan awan hitam di depan rumahku. “Membawa mendung lagi, Januari?” tanyaku. Kau hanya melihatku sekilas, tanpa menanggapi dan kembali melanjutkan pekerjaanmu. Kuulangi pertanyaanku dan kali itu kau benar-benar mengabaikanku. Akhirnya aku memilih masuk kembali ke dalam rumah dengan penuh rasa sebal. Selanjutnya, aku berjanji tidak akan mengajakmu bicara lagi saat kembali memergokimu suatu nanti.

Januari, diam-diam aku menghitung banyak digit 31-mu. Merangkainya menjadi tali panjang yang kukaitkan mimpi dan harapan di atasnya. Beberapa mimpi dan harapan baru yang sengaja kukaitkan pada digit tertentu, sebagian lain yang adalah sisa dari rangkaian tali sebelumnya. Dan kini, tanpa kusadari tali panjang itu telah melampaui ujungnya. Memaksaku harus bersiap untuk merangkai tali yang lain. Masih ada terlalu banyak mimpi dan harapan yang masih mengerut di talimu dan kini aku harus kembali memungutnya, memindahkannya ke tali panjang baru yang telah dipersiapkan. Januari, maukah kau lihat rangkaian taliku yang baru yang telah meninggalkan 31 digitmu? Sst… itu rahasiaku dengan Februari, kawan sebangkumu. Kudengar hari ini kawan sebangkumu itu akan datang dan meminjamiku tali baru untuk dirangkai.

Jadi, selamat jalan, Januari. Tenang, aku sudah melupakan rasa sebal dari pengabaianmu tempo lalu. Kini aku siap menyambut kehadiran si Februari.

Dari kejauhan, kulihat Februari berjalan menuju rumahku. Di tangannya tergantung sebuah keranjang dari anyaman rotan. Tunggu, bukankah itu keranjangmu?

Dari aku,

Penghuni rumah itu.

Elegi Sore Hari

IMG_20141116_160744_edit

“Kemarin, kau mencari-cariku. Namun lihatlah, ketika aku datang, kau malah menjauh.”

Dia tidak menjawab. Konsentrasi matanya masih ke luar, memandangi dari balik jendela kamarnya. Semua benda di luar basah. Pohon, jalan, tiang listrik, pagar, juga pakaian orang-orang yang berlari di tepian jalan sana.

“Barangkali kau lupa seberapa kau dulu berkata membutuhkanku. Kau memanggilku, menginginkan kehadiranku, gulana akan ketidakberadaanku.”

Ia masih tidak menyahut.

“Sekarang aku di sini, di hadapanmu. Mencoba mendekat padamu, menjawab permintaanmu. Yang ada, kau malah membentengi dirimu dengan rasa cemas dan takut. Kau enggan mendekatiku yang datang karena alasan yang kau ciptakan. Aku datang, kau malah menjauh dan menambatkan sauh.”

Ia tetap diam, sedangkan kedua matanya kini lurus tertuju padaku, namun kosong. Ia menujukan tatapan kosong ke arahku.

“Yang lebih tak kupercaya, saat aku datang dengan sehebat ini, kau malah mengumpatku, memarahiku. Aku yang dengan tabah menghadirkan diri. Kau bilang, kehadiranku menggagalkan rencana-rencana di hari baikmu.”

Ia masih menatapkan matanya padaku. Selain desahan nafas, tak satu pun kata keluar dari bibirnya.

“Apakah kehadiranku yang kamu mintakan ini salah? Sampai kapan aku harus mendebam tanah dan mengurai di udara untuk kamu menyadari makna kehadiranku? Sampai kapan aku harus datang mewujudkan permintaanmu namun pada akhirnya kau memintaku untuk melenyap? Apa aku memang seharusnya melenyap selama-lamanya dan mengabaikan semua permintaan bodohmu itu? Barangkali memang seharusnya aku tidak pernah mendengarkan permintaan bodohmu akan kehadiranku apalagi mewujudkan diriku sendiri untuk jatuh di duniamu. Namun, lihatlah, seberapa kali pun kau memanggilku dan kemudian menyesali kehadiranku sekaligus memohon kelenyapanku, aku selalu kembali. Menjadi sesuatu yang kau saksikan. Padahal aku berharap kau akan menyentuhku, menari denganku.”

Usailah kalimatku. Sudah cukup, aku tak ingin berkata apa-apa lagi. Waktunya dia memahami semua kalimatku tadi. Meski aku ragu karena mimik mukanya yang sama sekali tak mengisyaratkan bahwa ia sedari tadi mendengarkan deruku.

Ia menolehkan kepalanya ke arah lain -bukan lagi padaku, atau kaca jendela polos itu-, pada sesuatu di belakangnya. Pintu kamar. Ya, raihlah pintu itu, keluarlah, menarilah bersamaku.

Akhirnya ia berjalan menuju pintu itu, memutar bulatan yang ada di pertengahan ujung kirinya. Pintu itu terbuka. Ia melangkah keluar, keberadaannya tak lagi dapat terlihat olehku.

Dari balik pintu depan rumahnya, sosoknya muncul kembali. Kemudian dari teras, ia mengembangkan payung yang tak kuketahui sejak kapan ada di genggamannya, lalu dengan langkah cepat ia menyusuri jalan. Menuju persimpangan, halte bus, kemudian menumpang bus yang entah menuju ke mana.

Ah, kupikir kau hendak menari bersamaku.

Yogyakarta, 16 November 2014 16:32
Ketika hujan sedang gaduh-gaduhnya.

Hari Minggu

Hari Minggu diciptakan dari senyuman-senyuman tenang dan rindu yang kepalang. Minggu disusun dari tidur setelah sembahyang pagi yang disengajakan, bangun yang sengaja disiangkan, lapar yang menggelitik perut setelah semalam kekenyangan, dan mandi yang sengaja tak dijadwalkan. Minggu dikomposisikan dari paruh cerah matahari yang merengsek masuk melalui celah jendela kamar yang tertutup gorden separuh dan rasa malas manusia yang menggelayuti pikiran.

Dentuman kendaraan bermotor yang menggaduh di seberang jalan beradu dengan riuh angin dan cicit burung di atas genteng serta samar pengumuman dari toa masjid sebelah. Tiga album Dashboard Confessional yang diputar acak dengan volume sedang mengisi lengang kamar. Sementara di langit-langit kamar menempel lelah yang terkumpul bermalam-malam.

Hari Minggu dikosongkan dengan tugas-tugas dan janji-janji yang tak sempat dilakukan di awal pekan. Rencana-rencana sederhana yang telah disediakan sejak entah kapan. Membereskan tumpukan buku sisa semester lalu, merapikan lemari baju, dan menuruti baju-baju kotor yang minta segera dicuci. Kini, hari minggu segera penuh berisi. Kini, hari minggu bukan lagi naik delman istimewa untuk turut ayah ke kota.

Pohon Petai dan Tebu

Suatu hari di suatu perkebunan tebu, terjadilah percakapan antara sebuah pohon tebu yang merupakan tetua dari sekoloni tebu di kebun itu dengan sebuah pohon petai yang berdiri menjulang di seberang jalan.

“Hei, tebu!” seru petai pada tebu. “Apa kau tahu, aku selalu benci melihat keberadaanmu dan teman-temanmu itu?”

“Lho, kenapa?” jawab tetua tebu yang berdiri tepat di depannya.

“Kalian itu membuatku iri dan terlihat menyedihkan.”

“Bagaimana bisa? Memangnya apa yang kami Baca lebih lanjut