Surat Tanpa Perangko

Hari terakhir, kebetulan surat ini untuk kamu.

Aku tahu, terbaca dari judulnya, surat ini memang seharusnya berperangko. Harusnya surat ini kutuliskan pada selembar kertas putih asli, bukan lembar kertas digital seperti ini. Lalu, ketika aku telah menyelesaikan kalimat terakhir bersama titik bulat hitamnya serta membubuhkan tanda tangan mungilku di pojok kanan bawah, kertas putih yang telah berisi tulisan empat paragraf panjang itu kumasukkan ke dalam amplop biru tua –warna kesukaanmu- dengan aksen gegaris melengkung di keempat sudutnya. Kutulis namamu dan alamat lengkapmu di sisi depan. Semoga alamat rumahmu masih tetap sama. Selanjutnya, kutulis pula nama dan alamat lengkap rumahku –yang semestinya masih tergores jelas di ingatanmu- di sisi sebaliknya. Selesai, kuletakkan pulpen dan membuka segel perekat sisi atas amplop tersebut, kurekatkan pada sisi bawahnya. Beberapa detik kuamati amplop biru tua itu. Kuhela napas, untuk meyakinkan diri bahwa aku telah mengumpulkan berjuta keberanian untuk memulai dan menyelesaikan menulis sebuah surat untukmu. Ya, untukmu.

Selembar foto kucing kecilku telah kusertakan di dalamnya. Bukan apa-apa, hanya untuk meyakinkan bahwa yang kuceritakan di surat itu bukanlah bohong. Kau juga suka kucing kan? Jadi, sebaiknya foto kucing gendut pitih abu itu kau simpan rapi di album fotomu, atau dompetmu jika kau mau. Ketika kau ingat dan rindu padaku, kau boleh memandanginya. Anggap saja kucing itu adalah jelmaan dariku. Yah, meski jauh lebih cantik aku. Tapi tak apalah, daripada kau hanya merenung di hadapan hujan sambil membayangkan wajahku yang dibuyarkan angin menghunjam? Lebih baik kau masuk kamar, sembunyi di balik selimut tebalmu yang bisa kutebak pasti warnanya biru tua, lalu pandangilah foto kucing kecilku itu. Atau, kau bisa memandanginya bersama kopi full cream favoritmu? Sambil menonton film kesukaanmu? Terserah saja, yang penting itu tidak mengganggu konsentrasimu untuk mengingatku.

Satu lagi yang penting, jangan terlalu sering menikmati hujan. Bukan hanya karena angin dingin yang dibawanya. Tapi juga karena kau harus berhati-hati pada harapan yang acap kali ia jatuhkan. Seperti yang kulakukan sekarang. Memandangi hujan, dan siap-siap menengadahkan tangan untuk sekadar menangkap harapan-harapan yang ia taburkan. Ketimbang harapan-harapan itu keras berdebam menghantam tanah, bukankah lebih baik kutangkap dan kusimpan di stoples kaca agar suatu nanti untukmu kuberikan?

Tapi aku lupa, terkadang harapan bukanlah sesuatu untuk dijadikan. Seperti halnya surat ini. Surat yang berbatas pada fantasi harapan. Entah ada berapa harapan dalam stoples kacaku yang mengharapkan surat ini tersampaikan padamu. Entah ada berapa harapan yang memerintahkan tanganku untuk segera mengerjakan stepstep-menulis-surat-untukmu. Entah ada berapa harapan yang mengutuki kakiku yang enggan terayun untuk memasukkan amplop biru tua itu ke dalam kotak surat. Hingga untuk selanjutnya, biar pak pos yang mengetuk pintu rumahmu. Biar pak pos yang melihat sosokmu membukakan pintu. Biar pak pos yang bertanya apakah ini rumahmu. Biar pak pos yang berkata bahwa ada surat untukmu –dariku. Biar pak pos yang mendengarmu menjawab iya, lantas menangkap surat dariku. Biar pak pos yang mengucapkan namaku sebagai pengirimnya. Biar pak pos yang pertama kali menangkap ekspresimu ketika mengetahui bahwa suratku telah sampai di tanganmu. Lantas, biar pak pos tidak memberitahuku apakah kau senang atau sedih mendapati surat fantasi itu.

 

Dari aku.

Bagaimana Angka 18-mu?

Teruntuk sahabatku, Bernita Nur Cahyani

 

Hai, bagaimana kabarmu setelah enam jam tak bertemu denganku? Masih sehat kan? Alhamdulillah jika iya 🙂

Oh ya, untuk ketiga kalinya aku ingin menyerukan, selamat ulang tahun!

Mungkin terdengar aneh menyerukan kalimat itu lewat sebelas hari dari ulang tahunmu, tapi tak apa, kan? Masih tetap istimewa kan jika yang menyerukannya adalah aku?

Awalnya surat ini memang terrencana dibuat dan dikirim di hari dimana aku dan tiga orang –yang mungkin tidak perlu disebut namanya, tapi kalau tidak salah namanya Zakiyah, Ain, dan Aden- menumpah ruahkan tepung di bajumu. Namun terkadang takdir suka melawan omongku. Alhasil, surat ini baru bisa dibuat dan dikirim hari ini. Tepat di hari dimana kado sederhana untukmu kusampaikan tadi sore. Sepertinya hanya bagian itu yang sesuai dengan rencana semula.

Oh ya, bagaimana kadoku? Mengecewakan atau membuatmu tersenyum senang? Maaf jika bungkusannya jelek. Aku memang terlalu pede untuk melakukannya sendiri.

Seperti judul surat ini, aku ingin bertanya, bagaimana angka 18-mu? Bagaimana rasanya memenuhkan 18 x 365 hari? Apakah biasa-biasa saja? Tentunya menyenangkan lebih berkuantitas banyak dibanding menyedihkan kan? Yes, I hope so. Ah, bahkan aku belum menyelesaikan angka enam belasku, sementara kau mulai menginjak angka sembilan belas? Ah, ini tidak adil. Tapi tenang, usia hanyalah angka mati yang difungsikan untuk memenuhi kolom biodata. Jadi, kita masih bisa jadi jodoh, kok. *kedip manja* *dikeplak Aden* *lirik Zakiyah*

Untuk sahabatku yang (diharuskan) makin dewasa,

Di harimu tahun ini, ada berapa banyak doa yang kau panjatkan? Adakah namaku kau selipkan di dalamnya? Apa pun doamu, asalkan itu sesuatu yang dibaikkan dan diridhoi Sang Pencipta, aminku selalu tertuntun di belakangnya.

Aku punya sebuah pesan untukmu :

Tetaplah seperti itu, ketika menjadi lebih buruk adalah mudah dan menjadi lebih baik adalah susah.

Kamu makin dewasa ya. Kalau kekanak-kekanakan, nanti aku akan susah membedakan mana Bernita, mana Naufal –ponakanku. Tapi jangan terlalu dewasa. Nanti aku akan susah membedakan mana Bernita, mana ibunya Bernita. Yah, pokoknya terserah deh…

Cukup sekian ya, terima kasih telah membaca surat aneh ini. Untuk selebihnya, kita bicarakan langsung saja kalau kamu mau.

 

 

Untuk @bernitanc

Dari teman yang kau bagi meja dengannya

The Dearest @scifo4

Kepada kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, (diulang sampai kata “kamu” tertulis 31 kali).

 

Ya, surat ini ditulis untuk kamu semua. Entah namanya surat massal atau apa, yang penting satu buah surat ini ditujukan untuk kamu, kamu, …. , kamu –tanpa menyertakan “kamu” yang lain.

Kita dipertemukan di sebuah bumi dengan ukuran yang lebih sederhana, namanya smansa –sekolah menengah atas tercinta kita. Aku sendiri tidak yakin, jika smansa tidak ada, apakah kita akan pernah bertegur sapa?

Pada mulanya, kita dipertemukan oleh kejahilan guru-guru BK yang entah sengaja atau tidak, menggabungkan kita dalam sebuah ruang kelas. Kala itu, kita bernama sebelas ipa 4, hingga deret 365 hari menggantikan namanya menjadi dua belas ipa 4 –kita sekarang. Entah mau berganti nama seratus kali atau puluhan juta kali, bagiku tak akan ada bedanya. Komposisi kita akan tetap sama.

Lewat surat sederhana ini, ada satu hal yang hendak dan memang harus kukatakan :

Terima kasih.

Terima kasih untuk apa? Ah, itu akan jadi pertanyaan terkonyol abad ini. Atau barangkali kalian memang telah benar-benar menjadi penganut teori lupakan kebaikan kita, ingat kebaikan orang lain. Jika iya, maka biarkan aku sedikit menggelitik impuls memori kalian.

Terima kasih untuk segalanya. Untuk kebaikan, kebanggaan, tawa, kesenangan, kebahagiaan, rasa nyaman, pemahaman, ketenangan, keceriaan, dan hal-hal lain yang kulupa namanya –tapi masih teramat jelas untuk kurasa. Aku sendiri tak tahu, kenapa kalian bisa begitu mudah membuatku mengembangkan tawa. Kecuali jika kalian ternyata personil srimulat. Jadi, bagaimana bisa pipiku yang mengusut seperjalanan menuju sekolah, tetiba menjadi kelu karena terlalu banyak menebar tawa yang diuntai dari canda yang kalian bawa? Ah, kalian teramat canggih untuk menjelmakan kata menjadi tawa.

Tentu, tak lupa terima kasih juga untuk duka dan kesedihan yang terkadang datang menyelinap. Namun percayalah, ia lebih sering memerankan diri sebagai pelajaran ketimbang sebagai sebuah penyesalan.

Kalian, pernahkah mendengar kata perpisahan?

Ah, bahkan kata itu cukup ngeri dan nyeri untuk dibayangkan. Tapi, masing-masing dari kita telah meramalkan, bahwa dalam hitungan bulan kata itu akan jadi sesuatu yang kita sesalkan. Kita akan memencar langkah, entah ke kota seberang, ke kota tetangga, ke kota nun jauh di sana, atau bahkan ke negeri seberang. Kita, yang telah mengkhatamkan tiga tahun proses belajar dengan melewati destinasi dua-huruf dan enam-huruf. Mohonku hanya satu, jika kelak entah itu sepuluh tahun lagi, atau tiga puluh tahun lagi kita telah menjadi orang yang berbeda –syukur jika masih sama, kita masih ingat bahwa kita pernah hidup dalam satu masa.

Teruntuk @scifo4 , tempat dan teman menaungku memintal ilmu

 

 

Dariku, satu dari 32-mu

Rupa

Bola matamu

Seperti hunus pedang

Yang bahkan tak ingin kutancapkan pada apapun

Kecuali mataku sendiri

Lantas aku terpaku kembali

 

Kerut senyummu

Yang melingkar sederhana

Tanpa kutahu,

Menjadi harapan yang paling kupuja

Dan darinyalah rindu mengunyah masa

 

Kelopak bibirmu

Lebih dikuasai sunyi

Dibanding lantunmu sendiri

Tapi indahnya masih bisa dibagi

Yang hanya ingin kumiliki sendiri

 

Lalu, biarkan dari sorot matamu yang ditangkap sarafku

Menjalar menuju bibir hampir merah mudaku

Dan lengkingnya melengkungkan senyumku

Kepada Masa Lalu

Kepada masa lalu,

Bagaimana kabarmu?

Apa kau baik-baik saja?

Ataukah kau mulai kesal sebab orang-orang terlalu banyak membenci dan mengabaikanmu?

Tenang saja, mereka hanya belum tahu seberapa pentingnya dirimu.

Orang-orang selalu berharap kau semata angin pagi yang menggoyangkan rambut berombak mereka. Lekas pergi, enyah, dan tak kembali. Tapi entah tak paham atau tuntutan perasaan, mereka enggan menganggapmu sebagai ingatan. Mungkin aku bisa memakluminya jika kau memang keterlaluan “jahat” pada mereka, tapi kenyataannya? Kau baik sekalipun, mereka tetap menganggapmu menyebalkan. Katanya, kau yang baik membuat mereka kini menjadi terpuruk karena tak bisa bertemu kembali denganmu. Dan terkadang mereka menganggapmu menjebak mereka dalam frasa “terjebak masa lalu”. Ah, itu berlebihan. Orang-orang memang terlalu sibuk menyempitkan pikiran.

Kau, yang terkadang orang beri nama kenangan,

Ketahuilah, seburuk apa pun kau di ingatan orang, aku terkadang iri padamu. Kau terlebih sering terlafalkan di bibir orang, ketimbang aku. Terlalu banyak orang yang berdebar takut untuk menemuiku. Mereka takut apa yang akan kuberikan tak sesuai dengan doa yang mereka lantunkan. Tak sedikit pula orang yang menemuimu dengan harapan bergantungan sembarangan akan menemuiku untuk sekadar mengharap kebaikan yang berlebihan. Ah, orang-orang macam itu hanyalah orang-orang bebal yang tak paham arti kehidupan. Biarkan saja itu menjadi urusan mereka bersama Penciptanya. Semestinya kita memang tak punya hak untuk ikut campur, tapi aku terlalu gatal untuk ingin membahasnya.

Untuk yang terakhir, boleh kuungkapkan hubungan antara kau dan aku? Kau adalah pelajaran, sementara aku adalah jalan.

 

 

Salam hangat,

Masa Depan.