…lah

Berjalanlah, selagi masih ada jalan yang bisa kau jejaki.

Mencarilah, selagi masih ada yang bisa kau temukan –dan mau untuk kau temukan.

Tersenyumlah, selagi pagi dan malam masih beriringan menggenapkan hari.

Belajarlah, selagi kepalamu masih mampu, menampung segala yang tak kau tahu.

Bersyukurlah, selagi masih ada yang kauhirup-embuskan setiap nyala pagi.

Berdoalah, selagi masih ada Yang bisa selalu kau ingat dalam hati dan nurani.

 

Teruntuk kamu, yang sedang menulis ini.

Hari Minggu

Hari Minggu diciptakan dari senyuman-senyuman tenang dan rindu yang kepalang. Minggu disusun dari tidur setelah sembahyang pagi yang disengajakan, bangun yang sengaja disiangkan, lapar yang menggelitik perut setelah semalam kekenyangan, dan mandi yang sengaja tak dijadwalkan. Minggu dikomposisikan dari paruh cerah matahari yang merengsek masuk melalui celah jendela kamar yang tertutup gorden separuh dan rasa malas manusia yang menggelayuti pikiran.

Dentuman kendaraan bermotor yang menggaduh di seberang jalan beradu dengan riuh angin dan cicit burung di atas genteng serta samar pengumuman dari toa masjid sebelah. Tiga album Dashboard Confessional yang diputar acak dengan volume sedang mengisi lengang kamar. Sementara di langit-langit kamar menempel lelah yang terkumpul bermalam-malam.

Hari Minggu dikosongkan dengan tugas-tugas dan janji-janji yang tak sempat dilakukan di awal pekan. Rencana-rencana sederhana yang telah disediakan sejak entah kapan. Membereskan tumpukan buku sisa semester lalu, merapikan lemari baju, dan menuruti baju-baju kotor yang minta segera dicuci. Kini, hari minggu segera penuh berisi. Kini, hari minggu bukan lagi naik delman istimewa untuk turut ayah ke kota.

Kertas

Orang-orang butuh secarik kertas untuk menulis -atau mungkin butuh berlembar-lembar. Meski ada tembok, tanah, daun, bahkan aplikasi pengolah kata dalam gadget tercanggih, orang-orang tetap butuh kertas untuk menulis. Suka atau tidak, orang-orang harus mau menulis.

Orang-orang menulis di atas kertas. Warna kertasnya bisa seputih awan di pagi yang cerah, bisa jingga seperti senja di ujung atap stasiun kereta, atau hitam seperti mendung yang tenggelam di dalam malam. Warna-warna kertas tersebut berbeda-beda untuk masing-masing orang. Satu sama lain tahu, namun satu sama lain tak tahu mengapa bisa begitu. Bukan hanya kertas, alat yang mereka gunakan untuk menulis pun juga berbeda. Ada yang menulis dengan pensil, ada yang menulis dengan pena seharga ratusan dollar, crayon dengan batang yang tidak utuh, dan ada juga yang menulis dengan spidol permanen berbagai warna.

Orang-orang menulis dengan cara mereka sendiri. Ada yang menulis dengan semangat penuh gelora, ada yang menulis dengan duka meradangi kepala, ada yang menulis dengan bahagia yang seakan tak akan sudah. Mereka bisa menulis apa saja. Menulis apa yang ingin mereka tulis juga apa yang orang lain inginkan untuk mereka tulis. Di sana, mereka menuliskan rahasia, menuliskan asa, menuliskan doa, dan menuliskan hal-hal lainnya yang tak diinginkan bersuara. Di masing-masing kertasnya, mereka tak pernah menulis sesuatu yang sama. Entah pada kalimat, entah pada tanda baca.

Kemudian kertas berisi tulisan yang mereka tulis itu mereka baca kembali. Sadar bahwa ada yang salah. Bingung mengapa tak disediakan penghapus untuk menghapus kata yang baru mereka sadari salah. Resah mengapa kertas berisi tulisan yang salah itu tak bisa disobek, dibakar, dan dikunyah. Tak bisa lenyap. Sementara kertas-kertas kosong lain masih diperbolehkan untuk ditulisi.

Dan lagi, orang-orang butuh secarik kertas untuk menulis.

Sad Movie (Review Seadanya)

(Hari ke 26)

sad_movie_korean_2005_movies_poster

 

 

Sad Movie merupakan film asal Korea yang muncul pada tahun 2005 –sehingga saya teramat ketinggalan zaman karena baru menontonnya sekarang. Meski cukup lawas, setting di film ini tidak terlihat lawas kok. Berdasarkan judulnya pun, dapat dipastikan bahwa film ini mengarah pada kesedihan. Meski pada akhirnya sad ending, ada beberapa bagian yang membuat kita terharu atau tersenyum kecil karenanya.

Film yang terlihat sederhana namun apik ini terbagi menjadi empat bagian yang masing-masingnya memiliki kisah yang berbeda.

Kisah pertama, bercerita tentang seorang perempuan penyiar berita ramalan cuaca di televisi dengan kekasihnya yang seorang pemadam kebakaran. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja hingga suatu ketika si gadis mendapati berita bahwa si pria hampir mati ketika sedang bertugas. Kemudian tentu saja karena kecemasan tersebut, si gadis memohon pada si pria untuk berhenti dari pekerjaannya. Dengan memberi penjelasan, si pria menggeleng. Oleh karena itu, si gadis selalu berharap si pria untuk segera melamarnya sehingga ia dapat melarang dan memaksa si pria berhenti dari profesinya yang penuh resiko itu.

Kisah kedua, tentang seorang gadis bisu yang merupakan adik dari gadis pada kisah pertama. Sehari-harinya, gadis yang juga memiliki luka bakar pada pipinya ini bekerja sebagai boneka penghibur di sebuah taman bermain. Pada suatu hari, ia tertarik pada seorang pria yang sering melukis di area taman itu. Mulai dari mengembalikan lukisan si pria yang terjatuh, hingga sering mengunjungi atau menggodanya, si gadis jadi sering berinteraksi dengan si pria. Di sisi lain, si pria merasa penasaran dengan wajah asli si gadis yang setiap harinya tertutupi kostum boneka. Awalnya si gadis selalu menolak untuk menampakkan wajah aslinya hingga terdengar kabar bahwa si pria akan pergi ke luar negeri. Maka dari itu, sebagai hadiah perpisahan, si gadis bersedia untuk menampakkan diri dan dilukis oleh si pria.

Kisah ketiga, tentang pria pengangguran yang berpacaran dengan seorang gadis penjaga kasir sebuah supermarket. Karena merasa si pria tidak memiliki masa depan yang cerah, si gadis memutuskan hubungan mereka. Si pria tidak hentinya berusaha mencari pekerjaan hingga akhirnya ia menemukan sebuah profesi unik, yaitu jasa pemutusan hubungan. Meski telah gigih mencari uang, tetap saja si gadis menolak menikah dengannya hingga pada akhirnya ia mengirim pesan pada si pria sebagai klien jasanya, dengan pesan permohonan untuk menjauh darinya.

Kisah keempat dan merupakan kisah yang paling saya suka. Tentang seorang anak yang selalu merasa kesepian karena ibunya sibuk bekerja. Pada suatu hari, si ibu bertemu dengan guru si anak dan diperlihatkan buku harian anaknya yang berisi gambar atau cerita yang menunjukkan bahwa si anak benci pada si ibu. Tanpa terduga, si ibu divonis mengidap penyakir mematikan sehingga setiap harinya harus terbaring di rumah sakit. Namun, kesempatan ini membuat si anak selalu bisa menemui ibunya setiap pulang sekolah. Sampai-sampai pada buku hariannya ia menulis sebuah doa agar ibunya selalu sakit sehingga ibunya selalu ada untuknya. Si anak pun tanpa sengaja menemukan buku harian si ibu yang setelah membacanya, si anak mengerti betapa ibunya amat menyayanginya.

Meski judulnya membuat endingnya dapat ditebak, menonton film ini membuat setiap orang apalagi penggila drama berurai air mata –termasuk saya. Jadi, sekian review seadanya ini. Akhir kata, menurut saya, film ini patut ditonton dengan sekotak tissue di genggaman!

Rectoverso

(Hari ke 18)

 

Jadi, ini adalah postingan-pembayar-hutang karena kemarin lupa “bercerita” di #30HariBercerita. Nah, karena saya bingung mau cerita apa, saya mau mengabarkan sebuah film yang Februari mendatang, tepat pada hari Valentine, akan menghiasi seluruh layar lebar se-Indonesia Raya.

rectoverso

Rectoverso!

Seperti yang tertulis pada poster tersebut, Rectoverso merupakan sebuah omnibus yang terdiri dari lima segmen yang mana kesemuanya diadaptasi dari kumpulan cerpen karya Dewi “Dee” Lestari dengan judul yang sama. Untuk membaca sinopsis dan plot ceritanya atau menonton trailer-nya, silakan kunjungi website resminya di sini.

Sejak pertama kali mendengar Rectoverso akan difilmkan, saya langsung merasa kalau filmnya ini wajib ditonton mengingat buku tersebut merupakan karangan Dee –salah satu penulis favorit saya. Dan ternyata setelah melihat trailer-nya, kewajiban untuk menonton film ini tiba-tiba mengganda. Semoga saja ekspektasi yang saya harapkan akan sesuai dengan kenyataan filmnya. (*Lah, siapa lah saya?)

Yuk, mari menonton! 🙂

Peramu Kata

Sajak Buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli

Maksud sajak ini sungguh sederhana.

Hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. Memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, Sayang.

Di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
Sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, juga berwarna putih.

Aku selalu membayangkan, hari itu, kita
seperti sepasang pohon di musim semi.
Kau pohon penuh kembang. Aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.

Aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan.
Tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
Maukah kau mengatakannya padaku, Sayang?

Bukan, Bukan saya yang mengarang puisi di atas. Saya tidak sehebat itu untuk menciptakan puisi sebagus itu. Melainkan Aan Mansyur yang lebih termahsyur sebagai @hurufkecil a.k.a Kak Tomat. Puisi tersebut saya ambil dari blognya. Sederhana saja, saya mengagumi beliau. Mulai dari tulisan-tulisan berkarakter-kurang-dari-140 yang Beliau kocar-kacirkan di linimasa saya yang mampu membuat saya tersentuh, tersenyum kecil, hingga puisi-puisi atau cerpen karangannya yang membuat logika saya menyala. Bagi saya, beliau adalah seorang peramu kata yang lebih dari sekadar “cerdas”.

Project di Dalam Project

#HariKe13

Image

 

#30HariMenulisSuratCinta is back!

Apa itu #30HariMenulisSuratCinta? Singkatnya, #30HariMenulisSuratCinta adalah sebuah project yang melibatkan twitter dan blog sebagai medianya. Jadi, yang ingin menjadi peserta, tugasnya adalah setiap hari dalam tiga puluh hari harus menulis surat cinta yang boleh ditujukan kepada manusia pun benda mati dengan tema bebas kecuali pada hari Selasa dan surat kaleng pada hari Jumat. Selengkapnya dapat dibaca di sini.

Jika tidak salah, project ini sudah berjalan dari dua tahun yang lalu. Namun saya baru turut serta setahun yang lalu, itu pun terlambat dan tidak penuh di sisa-sisa hari berikutnya. Tetapi rasanya menyenangkan ketika surat cinta yang kita buat dimuat di blog #30HariMenulisSuratCinta dan dibaca oleh banyak orang.

Untuk tahun ini, #30HariMenulisSuratCinta terdiri dari tiga jenis program yaitu 30 Hari Surat Cinta (menulis surat cinta seperti biasa), Dua Hati (berbalas-balasan surat dengan orang tertentu), dan Sahabat PosCinta (bersurat-suratan seperti sahabat pena dengan surat asli). Nah, karena saya bingung mau mengajak siapa untuk menjadi partner dalam #DuaHati dan sepertinya saya tidak akan sempat ke kantor pos untuk mengikuti program Sahabat PosCinta -karena surat dalam program ini dikirim seperti surat sebenarnya- alhasil saya memutuskan untuk mengikuti program 30 Hari Surat Cinta saja -itu pun semoga tidak bolong-bolong.

#30HariMenulisSuratCinta dimulai besok! Yuk ikutan!

Karena saya belum berniat untuk berhenti dari project #30HariBercerita, kemungkinan pada beberapa hari, di blog ini setiap harinya akan ada dua postingan. Maka, selamat ber-“muneg” ria! 😀

 

 

 

(Gambar diambil dari http://seilifestyle.blogspot.com/2012/02/love-letter-notecards-with-coordinating.html)