Pengorbanan

“Halo?”

“Halo…”

“Ayah?”

“Iya. Ini ayah, Nak…”

“Ayah ke mana saja? Mengapa sudah lama sekali tidak memberi kabar? Ayah baik-baik saja kan di sana?”

“Tentu, Nak. Maaf, akhir-akhir ini ayah sibuk, banyak pekerjaan jadi tidak sempat untuk menelepon. Uang yang minggu lalu ayah kirim masih ada kan?”

“Masih lah, Yah. Pantas saja ayah bisa mengirim uang sebanyak itu, ayah sedang banyak pekerjaan ternyata. Ternyata bekerja di pabrik plastik bisa semudah itu ya.”

“Iya, syukurlah. Tunggakan SPP sekolahmu sudah dibayar kan? Oh ya, ibu bagaimana? Operasinya berjalan lancar kan?”

“Sudah, akhirnya sudah terbayar SPP-nya, Yah. Alhamdulillah operasi usus buntu ibu sukses, Yah. Baru saja tadi pagi ibu sadar.”

Terdengar ketukan di bilik telepon tersebut. Sipir penjara di luar memberi isyarat bahwa waktu meneleponku sudah habis.

“Ya sudah kalau begitu. Salam untuk ibumu ya. Sampaikan maaf ayah karena tidak bisa menemani operasinya.  Ayah harus pergi dulu, lanjut bekerja. Kamu baik-baik ya di sana.”

“Iya. Ayah juga ya.”

Tuuuuttttt

“Maafkan aku, Nak…”

Kuletakkan gagang telepon tersebut. Untung saja sebulan lalu aku mengiyakan ajakan Toni untuk merampok toko elektronik itu.

Kejutan Istimewa

Aku sendiri tidak pernah menyangka jika keberadaanku bisa begitu berarti di dalam kehidupannya. Akulah yang pada suatu hari dahulu membuatnya begitu bahagia karena memperoleh juara 1 di kelas. Akulah yang berhari-hari kemudian, setiap pagi dipuja dan dipujinya dengan senyum terkembang indahnya. Akulah yang pada waktu-waktu setelahnya selalu menemaninya ke mana pun dan kapan pun. Aku yang menemaninya ketika ia pergi dengan keluarga atau teman-temannya. Aku juga yang menemaninya ketika yang lain sibuk dengan suatu urusan, dan enggan untuk menemaninya meski hanya sekadar berjalan-jalan. Pagi, siang, sore, malam. Ke sekolah, ke taman, ke bioskop. Aku selalu ada untuk bersamanya.

“Kejutaaan!!!” Seorang wanita paruh baya yang ia panggil ‘ibu’ berseru ketika ia membuka pintu kamarnya pada pagi itu. Kemudian wanita tersebut mengulurkan sebuah kotak berwarna merah muda yang segera ditangkapnya.

“Boleh kubuka sekarang?”

“Tentu saja! Itu hadiah spesial untuk angka satumu…”

Dengan tidak sabar, ia melepaskan ikatan pita berwarna merah yang mengaitkan tutup kotak tersebut. Dan setelah dibuka… Matanya yang bulat dengan kecoklatan di tengahnya seketika berbinar diiringi bibir yang melengkung bak kurva dengan diskriminan positif. Untuk pertama kalinya, aku melihat senyuman seindah itu dari seorang manusia. Senyuman yang tentunya ada karena keberadaanku di dalam kotak itu. Karena aku adalah kejutan istimewa itu.

Aku hafal betul wajah manisnya. Wajah yang selalu memamerkan dua bola mata yang tak jenuhnya memandangiku ketika aku masih menjadi suatu barang sajian di etalase toko bernama “Exito Shoe” itu. Hampir setiap hari selama satu bulan, ia berjalan melewatiku. Aku tahu, ia pasti sengaja memilih jalan pulang yang membuatnya melewatiku, yang membuatnya mampu memandangiku dari trotoar depan toko meski berbataskan kaca bening dengan ketebalan 2 cm.

—-

Sebelum sebulan yang lalu, ia hanyalah sosok asing di dalam kehidupanku. Sebelum ketika pada suatu hari, bersama ibunya, ia berjalan-jalan menyusuri jalanan dengan deretan toko-toko di tetepinya. Aku masih belum mengenalnya ketika dua bola matanya yang penuh cahaya menjatuhkan pandangan padaku. Aku, sepatu flat berwarna merah maroon dengan pita merah muda di sisi atas badanku.

Kupikir ia sama saja dengan gadis-gadis yang setiap hari melewatiku dan hanya sebatas menaruh pandangan padaku. Iya, sudah, itu saja. Mereka tak pernah berniat untuk menukarku dengan lembaran-lembaran bergambar wajah pahlawan dan bernominal angka yang memenuhi dompet mereka. Namun berbeda dengannya…

Pada hari itu, rengekan dan wajah memelasnya memang tidak mampu membuat ibunya setuju untuk mengizinkannya membawaku.

“Iya, jika nanti kamu berhasil menjadi juara satu…”

Dan di hari-hari berikutnya, ia menjadi seseorang yang selalu ada pada daftar pandanganku. Wajahnya masuk ke dalam yang-paling-dicari di dalam kotak ingatanku. Dalam waktu sekejap, ia mampu menjadi sesuatu yang amat istimewa untukku.

Di rak sepatu di pojokan garasi itu, aku tidak sendiri. Ada empat pasang sepatu di kanan, bawah, dan atasku. Namun dari kami semua, hanya akulah sepatu miliknya. Hanya akulah yang sejak lima bulan lalu, setiap waktu diraih oleh tangannya.

“Hei, itu pemilikmu datang!” seru sepatu Ayah dari atas.

Senyuman seketika menjuntai di bibirku kala melihat ia dengan rok polos cokelat tua selutut dipadankan kaos hijau pupus dan cardigan hijau kecoklatan berjalan menuju kami. Cantik. Ia begitu cantik untuk seorang manusia. Saat langkahnya tepat sampai di depan kami, tangannya yang kuning langsat menjulur, meraihku, dan membawaku menjauh dari keempat pasang sepatu yang tertinggal.

Setelah mengenakanku, ia segera melangkah keluar rumah. Seperti biasa, aku akan menemaninya memulai perjalanan. Kira-kira, hari ini kami akan ke mana ya? Ke sekolah? (Hei, ini kan hari Minggu!) Mungkin ke toko buku? Atau ke kebun binatang seperti bulan lalu? Ke taman? Ke toko roti? Ah, entahlah, ke mana pun ia pergi, aku tidak akan menolak karena aku memang tidak pernah kecewa dengan tempat yang ia kunjungi. Ia selalu pandai memilih tempat yang baik dan menyenangkan untuk dipandangi.

Setelah turun dari bus kota di suatu halte, ia berjalan menuju area jalan yang kukenal dengan baik. Jalanan yang di setiap tepinya berjejer macam-macam toko. Mulai dari toko bunga, toko buku, toko roti, toko tas, toko sepatu, dan sebagainya.  Jadi, akan ke toko yang manakah ia?

Dengan aku sebagai pijakannya, langkahnya terhenti pada sebuah toko yang di bagian paling depannya terdapat etalase besar berkaca bening lebar. Toko dengan dinding berwarna cokelat berpadu kuning tua. Toko dengan hiasan pita dan bunga di bagian atas pintu masuk. Toko yang di depannya tertata rapi pot-pot bunga. Ya, toko di mana ia menemukanku dahulu.

Kali ini ia tidak hanya berhenti di depan toko dan memandangi apa yang terpampang di balik kaca bening etalase. Ia mengayunkan kakinya memasuki toko tersebut. Ia mengamati satu per satu sepatu yang dijejer rapi di setiap rak atau almari. Sepatu dengan beragam warna, jenis, dan model terpapar rapi di sana. Hingga setengah jam kemudian, setelah berkali-kali berkeliling, berpikir, dan mengenakan sambil mematut diri di depan cermin, senyumnya merekah pada sebuah sepatu flat berwarna hijau toska yang ada di rak di pojok toko. Sepatu yang sederhana namun terlihat indah karena aksen jahitan benang di setiap sisi sepatu tersebut.

Sekarang aku mengerti, ia membeli sepatu itu untuk menjadi teman baruku. Hey, gadis ini sungguh perhatian padaku. Usai membayar, ia melangkahkan kakinya yang masih ditempeli olehku keluar dari toko tersebut. Berjalan menuju halte, naik bus kota menuju rumah, pulang.

Sesampainya di rumah, di kamarnya ia membuka bungkusan kotak “teman baru”-ku itu. Dipakainya, mematut diri di depan cermin, dan tersenyum bahagia yang membuatku terpengaruh untuk bahagia. Kemudian ia meraihku dengan tangan kirinya karena tangan kanannya memegang si ijo toska. Mungkin kami akan dibawa ke rak sepatu di garasi. Namun, kenyataannya mengapa hanya si ijo toska yang diletakkan di sana? Tangan kirinya masih memegangku. Apa kita akan pergi lagi?

Tunggu, ia tidak berjalan menuju luar rumah. Ia malah berjalan menuju belakang rumah. Halaman belakang yang di sana terdapat sebuah ruangan dua kali tiga meter yang gelap : gudang. Ya, ternyata ia memang mengarahkan kakinya ke tempat pengumpulan barang yang sudah tidak berguna itu. Tetapi, mana mungkin ia akan membuangku?

Jawabannya entahlah. Setelah membuka pintu gudang, ia menggeletakkanku di salah satu ruang kosong di lantainya yang berdebu.

“Hahaha. Sudah waktunya kau dibuang ya?” seru sepasang sepatu lusuh yang berada tak jauh dariku. Tawanya bersama barang-barang buangan lain terdengar menggema di ruang sempit itu.

Dibuang? Hahaha, mana mungkin? Aku ini terlalu spesial untuk dibuang. Pasti mereka berbohong. Pasti besok, eh bukan, nanti sore atau sebentar lagi, ia akan kembali ke sini. Mengambilku, menaruhku di rak sepatu, dan kembali menemaninya berjalan-jalan keesokan harinya. Aku yakin seperti itu kenyataannya. Mana mungkin ia membuangku yang sudah lima bulan ini selalu menemaninya, selalu mendampinginya? Bukankah aku juga yang lima bulan ini berusaha menjadi kawan baiknya? Hahaha, jadi apa pula alasan ia membuangku? Ia terlalu baik untuk tega membuangku.

Namun, bagaimana jika mereka benar bahwa aku telah dibuang? Sol badanku memang sudah mulai mengelupas. Warna tubuhku juga memang sedikit memudar. Tapi aku yakin, aku masih cukup baik untuk menjadi kawan yang spesial untuknya.

Ah, atau mungkin memang begini adanya?

Ia benar-benar membuangku?

Ia sudah tidak lagi membutuhkanku?

Entah seberapa tinggi ekspektasiku, aku tidak pernah menyangka bahwa keberadaanku bisa sebegitu tidak berartinya di dalam kehidupannya.

 

END.

 

 

 

Jogja, 17 Desember 2012

Rindu yang Lupa untuk Kita Satukan

Matahari masih berada tepat jauh di atas kepala ketika kami memilih menyusuri taman untuk meneruskan pertemuan yang kebetulan ini. Kebetulan? Benarkah Tuhan menakdirkan ini sebagai sebuah kebetulan?

***

“Kamu… Hangga kan?” tanyanya spontan ketika sepasang pandangan kami beradu. Tak sampai semilidetik, benang transparan seketika menjulur dari otakku, sembarangan mengait pada potongan masa lalu.

“Kamu tidak ingat aku? Kiyan? Teman SMA?”

Melihatku yang diam tanpa reaksi, gadis yang berjarak tiga langkah dariku itu mulai menyebutkan hal-hal yang menurutnya akan mengingatkanku padanya. Kiyan, teman SMA, SMA 22, fotografi. Namun kenyataannya dia salah. Sia-sia ia menyebutkan petunjuk-petunjuk itu. Karena sehebat apapun aku mencoba untuk lupa atau setidaknya pura-pura lupa, tak sedikitpun hal tentangnya yang terbebas dari laci memoriku.

“Ah… Tentu aku ingat, Kiyan yang cerewet itu kan?” ujarku dengan iringan tawa, sebelum kemudian sebuah cubitan sengaja ia jatuhkan di bahu kiriku. “Aduh!”

***

Taman Kota kala itu terasa amat sepi. Entah karena matahari yang makin meninggi hingga membuat orang mulai berpulangan, atau karena… mereka sengaja melengangkan ruang untuk kami berdua berjalan sembari menyiangi kenangan? Hahaha, kemungkinan yang kedua memang terdengar amat konyol dan berlebihan.

“Sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu? Lima kan ya?” katanya memulai pembicaraan.

“Iya…” jawabku singkat.

Kecuali usia dan keadaan yang terus berubah, semuanya masih tetap sama. Sorot matanya –yang masih tak menyimpan aku di dalamnya, caranya berbicara, suaranya, dan cara berpakaiannya yang sederhana namun memesona. Ia masih menjadi satu-satunya Kiyan yang pernah kutahu, kukenal, dan kuingat. Pun satu-satunya Kiyan yang pernah (dan sampai kini) kuberi kehendak untuk memilih tempat berhuni di hatiku. Dan sebaliknya, aku selalu berharap menjadi satu-satunya Hangga yang pernah terbesit di pikirannya, meski tidak dengan hatinya.

“Kok kamu bisa gak ada kabarnya gitu sih?”

Deg. Pertanyaannya seketika menohokku.

“Hah? Masa’ sih? Mungkin itu cuma perasaanmu.” kataku dengan setengah nyengir.

“Apa jangan-jangan selama ini kamu mencoba menjauh dariku? Eh, tapi gak mungkin kan ya, lagipula kenapa juga kamu harus menjauh dariku? Hahaha.” Aku hanya diam mendengar pertanyaan-yang-ia-jawab-sendiri itu.

Seandainya saja ia tahu kenyataannya. Kenyataan tentang aku yang menghindar akan tambahan luka. Tentang aku yang melarikan diri dari semua ‘siapa’ dan ‘apa’ yang mampu mengilasbalikkan memori tentangnya. Tentang aku yang berlari sejauh-jauhnya dari ‘kota’ kami, hingga aku dapat melupakan angan dan inginku untuk membentuk ‘kita’. Dan pada akhirnya aku tahu, aku gagal. Cinta membuatku berhenti melupakannya, bahkan sebelum memulainya.

Terlalu banyak hal yang kupilih untuk kurahasiakan darinya –tak untuk kuungkapkan dan tak untuk kuharapkan ia sadari. Cinta yang diam-diam tumbuh saat ia masih jadi milik orang lain. Rindu yang hingga kini masih kutimbun dan kulahapi sendiri. Dan lucunya, aku yang sengaja menjauh darinya, sekarang malah tanpa sengaja ia temukan dengan mudahnya. Tetapi tunggu, apakah kini ia kembali untuk ‘memperbaiki’ kenangan?

***

Dan kamu hanya perlu terima

Dan tak harus memahami

Dan tak harus berfikir

Hanya perlu mengerti

Aku bernafas untukmu

Jadi tetaplah di sini

Dan mulai menerimaku

Pukul satu dan kami masih terduduk di bangku panjang di pinggir taman. Sibuk bercerita tentang masa lalu dan masa sekarang. Aku lebih banyak diam, membiarkan dia yang memperpanjang percakapan. Rencananya untuk menetap di kota ini karena pekerjaan seakan menjelma sebagai jalan baru untukku mereduksi rindu. Ya, aku berencana untuk membagi rindu yang memang untuknya ini dengannnya. Hingga sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, dibacanya sejenak, dan berkata padaku,

“Maaf nih, Ngga, aku udah dijemput pacar. Aku pergi dulu ya…” Tanpa menyadari aku yang tersentak kaget ketika ia menyebut kata ‘pacar’, ia berlari menjauh setelah meninggalkan selembar kertas memo berisi nomor handphone-nya. Kugenggam dan kuamati barisan angka dalam secarik kertas itu, sampai seorang pengamen mendekatiku dan sambil memetik gitarnya, ia bernyanyi

Cobalah mengerti

Semua ini mencari arti

Selamanya takkan berhenti

Inginkan rasakan rindu ini menjadi satu

Biar waktu yang memisahkan

Lantas di pikiranku melayang-layang dua buah pilihan, esok hari aku akan menelepon nomor ini untuk bertemu dengannya kembali, atau menjauh dan melarikan diri lagi?

 

 

 

 

Terinspirasi dari Cobalah Mengerti – Peterpan