Badnesday

*Hari ke-30! (Hari terakhir project #30HariBercerita)

“What day is it? Is it Wednesday?”

“Not wednesday anymore. It’s a badnesday.”

Jika saja sekarang saya diberi kesempatan untuk menekan satu dari sekian banyak tombol, maka yang akan pertama kali saya pilih adalah tombol “hapus hari ini”. Setelah beberapa detik proses berjalan, kemudian saya akan terlempar ke hari esok; kamis. Namun jika ternyata hari kamis esok akan sama buruknya dengan hari ini, saya akan berharap mendapat kesempatan “menekan tombol” lagi.

Rencana karut marut.

Masalah tak berbuntut.

Pikiran kalut.

Muka cemberut.

Hati kusut.

Mungkin semesta sedang berkonspirasi membuat saya benci rabu (ini). Atau mungkin saya memang sengaja diuji. Di atas sana, Sang Penguasa Semesta mengamati gerak-gerik saya. Mencari tahu seberapa kuat atau seberapa lemah saya menghadapi masalah kecil-namun-besar ini. Saya (harus) kuat, Ya Allah.

Semoga kekelabuan rabu ini tidak menular pada kamis esok, jumat esok, rabu berikutnya, dan setiap hari seterusnya.

Semoga segala masalah yang seperti awan hitam tebal ini terselesaikan dengan sendirinya, menyingkir dan memperlihatkan sinar matahari yang tertutupi olehnya. Jika ia tidak bisa selesai dengan sendirinya, semoga ada petunjuk yang menuntun saya untuk menemukan penyelesaiannya.

Iklan

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti
Doa-doa yang menelusupkan namamu akan menggema di udara
Tak ia biarkan suara hujan meredamkannya
Lalu giliranmu yang menambahkan aminnya

Pada suatu hari nanti
Harapan-harapan yang menggugumu akan berloncatan di sembarang kepala
Lisan dan tulisan akan seharian menuturkannya
Lalu giliranmu yang menjabarkannya

Pada suatu hari nanti
Bilangan usiamu bertambah satu
Kau akan tersenyum lugu dengan dedoa dan harapan yang meluapimu
Ketahuilah, cantik,
Semesta memiliki lebih dari segala sesuatu untukmu
Lebih dari yang akan kau tahu
Lebih dari yang akan kau mau

Dan pada suatu hari nanti bernama “hari ini”
Saraf auditorimu akan menangkap ejaku
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, dan selamat ulang tahun
Hei, perempuan yang terkadang kujadikan teladan

 

-with love,
Yang dahulu selalu membuatmu dihujani pertanyaan “Ber, Ita ke mana?” setiap aku terlambat berangkat sekolah.

29012013(012)

 

Tulisan Sederhana Tentang Kutjink

(Hari ke 28)

Kucing kami punya serumpun nama

Kadang aku memanggilnya gembul

Kadang kakakku memanggilnya pussy

Kadang keponakanku memanggilnya eyong

Kadang ayahku memanggilnya pusing –karena ia memang sering membuat kami pusing

 

Kucing kami tidak berharga ratus ribuan apalagi jutaan

Ia datang ke rumah kami secara kebetulan

Mungkin karena ia butuh rumah untuk berdiam

Mungkin ia butuh keluarga sebagai teman

 

Kucing kami lucu

Pekerjaannya hanya tidur, makan, dan bermain

Ia senang mengejar segala sesuatu yang bergerak

Ia senang menangkap serangga kecil dengan kocak

Ia senang mengunyah rerumputan di halaman berpetak

 

Kucing kami satu

Kucing kami pergi jauh dua tahun lalu

Selain pilu, kami diteduhi rindu

 

Image

Image

Tubuh Hujan

(Hari Ke 27)

 

Sendi-sendi hujan merangkul kukuh kenangan
Anteng seperti bayi dalam gendongan

Betis hujan tekun mengayunkan rindu

Membawanya berkeliling selepas petang

Hanyut pada lautan yang lugu

 

Lututnya adalah cawan luka

Kau bisa menitipkan dukamu di sana

Sementara ia meminjamimu bahagia

Sampai-sampai kau lupa mengembalikannya

 

Tangan hujan tak sedingin tubuhnya

Di sana, sekantong bubuk harapan tergenggam

Bila mana hujan jatuh, bubuknya beterbangan

Terlempar ke atap rumah

Terjatuh di tanah basah

Atau menyentuh wajah-wajah yang pasrah

Sad Movie (Review Seadanya)

(Hari ke 26)

sad_movie_korean_2005_movies_poster

 

 

Sad Movie merupakan film asal Korea yang muncul pada tahun 2005 –sehingga saya teramat ketinggalan zaman karena baru menontonnya sekarang. Meski cukup lawas, setting di film ini tidak terlihat lawas kok. Berdasarkan judulnya pun, dapat dipastikan bahwa film ini mengarah pada kesedihan. Meski pada akhirnya sad ending, ada beberapa bagian yang membuat kita terharu atau tersenyum kecil karenanya.

Film yang terlihat sederhana namun apik ini terbagi menjadi empat bagian yang masing-masingnya memiliki kisah yang berbeda.

Kisah pertama, bercerita tentang seorang perempuan penyiar berita ramalan cuaca di televisi dengan kekasihnya yang seorang pemadam kebakaran. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja hingga suatu ketika si gadis mendapati berita bahwa si pria hampir mati ketika sedang bertugas. Kemudian tentu saja karena kecemasan tersebut, si gadis memohon pada si pria untuk berhenti dari pekerjaannya. Dengan memberi penjelasan, si pria menggeleng. Oleh karena itu, si gadis selalu berharap si pria untuk segera melamarnya sehingga ia dapat melarang dan memaksa si pria berhenti dari profesinya yang penuh resiko itu.

Kisah kedua, tentang seorang gadis bisu yang merupakan adik dari gadis pada kisah pertama. Sehari-harinya, gadis yang juga memiliki luka bakar pada pipinya ini bekerja sebagai boneka penghibur di sebuah taman bermain. Pada suatu hari, ia tertarik pada seorang pria yang sering melukis di area taman itu. Mulai dari mengembalikan lukisan si pria yang terjatuh, hingga sering mengunjungi atau menggodanya, si gadis jadi sering berinteraksi dengan si pria. Di sisi lain, si pria merasa penasaran dengan wajah asli si gadis yang setiap harinya tertutupi kostum boneka. Awalnya si gadis selalu menolak untuk menampakkan wajah aslinya hingga terdengar kabar bahwa si pria akan pergi ke luar negeri. Maka dari itu, sebagai hadiah perpisahan, si gadis bersedia untuk menampakkan diri dan dilukis oleh si pria.

Kisah ketiga, tentang pria pengangguran yang berpacaran dengan seorang gadis penjaga kasir sebuah supermarket. Karena merasa si pria tidak memiliki masa depan yang cerah, si gadis memutuskan hubungan mereka. Si pria tidak hentinya berusaha mencari pekerjaan hingga akhirnya ia menemukan sebuah profesi unik, yaitu jasa pemutusan hubungan. Meski telah gigih mencari uang, tetap saja si gadis menolak menikah dengannya hingga pada akhirnya ia mengirim pesan pada si pria sebagai klien jasanya, dengan pesan permohonan untuk menjauh darinya.

Kisah keempat dan merupakan kisah yang paling saya suka. Tentang seorang anak yang selalu merasa kesepian karena ibunya sibuk bekerja. Pada suatu hari, si ibu bertemu dengan guru si anak dan diperlihatkan buku harian anaknya yang berisi gambar atau cerita yang menunjukkan bahwa si anak benci pada si ibu. Tanpa terduga, si ibu divonis mengidap penyakir mematikan sehingga setiap harinya harus terbaring di rumah sakit. Namun, kesempatan ini membuat si anak selalu bisa menemui ibunya setiap pulang sekolah. Sampai-sampai pada buku hariannya ia menulis sebuah doa agar ibunya selalu sakit sehingga ibunya selalu ada untuknya. Si anak pun tanpa sengaja menemukan buku harian si ibu yang setelah membacanya, si anak mengerti betapa ibunya amat menyayanginya.

Meski judulnya membuat endingnya dapat ditebak, menonton film ini membuat setiap orang apalagi penggila drama berurai air mata –termasuk saya. Jadi, sekian review seadanya ini. Akhir kata, menurut saya, film ini patut ditonton dengan sekotak tissue di genggaman!

Dari Tanah untuk Hujan

Teruntuk hujan.

Rasanya aneh sekali ya aku menulis surat semacam ini. Mengingat kita tidak pernah bercengkerama atau setidaknya saling menyapa. Padahal hampir setiap hari –atau bahkan bisa berkali-kali dalam sehari—kita berjumpa dan tentu saja masing-masing dari kita menyadari pertemuan ini.

Kita tidak hanya berjumpa. Lebih dari itu. Bahkan kau senantiasa menyentuhku dengan tanganmu yang dingin itu atau menjatuhkan sekujur tubuhmu yang juga dingin padaku yang awalnya kering. Kau membuatku basah, entah dengan perlahan-lahan dalam wujud gerimismu atau dengan secepat kilat dalam wujud deras.

Ini memang takdirku, harus selalu bersedia dibasahi olehmu.

Mungkin kau boleh bilang bahwa aku adalah makhluk paling mengenaskan di dunia. Aku membiarkan manusia-manusia dan hewan-hewan yang konon diciptakan dariku menginjak-menginjakku, berlarian, dan menghantamku sesukanya. Namun, mungkin karena terbiasa atau terlalu bahagia, aku tidak pernah merasakan sakitnya.

Iya. Meski terkadang terlihat menyedihkan, aku bangga kok dengan keberadaan dan peranku ini. Setidaknya aku memiliki banyak manfaat untuk mereka. Salah satunya adalah karena aku, mereka memiliki sumber kehidupan. Coba saja jika tidak ada aku, akan hidup di mana tumbuh-tumbuhan? Jika tidak ada aku, tumbuhan tidak akan hidup, maka manusia pun akan mati kelaparan. Peranku keren kan? Haha, sesederhana itu, aku bangga pada diriku, Jan.

Kembali pada kita ya.

Aku sering bertanya-tanya, bagaimana rasanya jatuh menimpaku? Apa kau selalu jatuh dalam keadaan bahagia? Atau malah berduka? Kau selalu tampak apa adanya. Basah dan dingin tanpa ekspresi lain. Atau mungkin karena kau terlalu malu untuk menampakkannya. Begitu kah?

Aku pun tidak mengerti mengapa aku selalu ragu untuk memberanikan diri menyapamu, lalu menanyakan hal itu padamu. Aku selalu berdiam di tempatku, memandangimu turun dari langit yang tidak pernah kuketahui seberapa jauhnya, selanjutnya kubiarkan kau jatuh menghantamku, membasahiku sesukamu. Haha, mungkin memang beginilah takdir kita. Kita terjebak dalam siklus yang telah ditetapkan. Kau selalu jatuh menimpaku, dan aku, selalu senang hati untuk menangkapmu.

Oh ya, terima kasih karena selalu membuatku basah sehingga aku dapat menjalankan peranku.

Kutunggu balasan kabar darimu, Jan.

Yang senantiasa menangkap jatuhmu,

Tanah.

Ini Kisah Mereka, Mengapa Kita Harus Mengurusinya?

(Hari Ke 25)

Saya sendiri tidak pernah tahu sejak kapan saya suka menonton infotainment. Yang saya tahu, setidaknya menonton infotainment jauh lebih menarik daripada menonton sinetron-sinetron karya Indonesia yang terlalu absurd –dengan catatan bahwa infotainment bukanlah acara favorit saya. Banyak kok acara televisi yang lebih baik, lebih menarik, dan tentunya lebih bermanfaat dari sekadar sebuah acara yang hanya menyiarkan aib dan problema para penghibur televisi.

Seinformatif-informatifnya suatu infotainmentinfotainment hanya hobi mengumbar aib orang-orang yang menganggap diri atau dianggap orang lain sebagai selebritis. Ya, karena memang tidak dipungkiri, sseringnya kisah yang mengumbar keburukan seseorang memang lebih “menjual” daripada kisah membahagiakannya.

Jika kamu termasuk pemirsa televisi yang baik dan beberapa kali menonton infotainment, pastilah mengetahui berita  selebriti yang baru-baru ini hangat dibicarakan. Betul sekali, konflik antara Ardina Rasty dan Eza Gionino. Karena sebelumnya saya jarang menonton televisi –maklum, di kost tidak ada televisi—saya pun termasuk yang baru paham atas kasus ini.

Jadi, singkat ceritanya dan sepengetahuan saya, Ardina Rasti yang dulu adalah pacarnya Eza melaporkan Eza ke polisi atas tuduhan penganiyayaan yang dialami Rasti sendiri ketika masih menjadi pacar Eza. Kemudian, dengan berurai mata, dalam konferensi persnya, Eza membantah tuduhan itu. Yap, sampai di sini, saya pun bingung, ini bener-bener pengakuan atau tangisan tersebut hanya semacam pencitraan?

Karena pembeberan bukti foto fisik Rasti yang penuh luka kekerasan dirasa belum cukup, akhirnya ia membeberkan sebuah rekaman berdurasi empat puluhan menit yang berisi pertengkaran antara ia dan Eza yang di dalamnya ikut terdengar bebunyian barang dibanting dan jeritan-jeritan Rasti.

Eh, saya kok jadi pemerhati sejati gini?

Ah iya, pokoknya seperti itulah konflik di antara mereka berdua yang hingga kini belum difinalkan oleh ranah hukum. Rasti masih berjuang keras agar Eza diadili. Sementara Eza pun tidak kalah keras meyakinkan orang-orang bahwa segala tuduhan tersebut hanyalah kebohongan.

Sebagai isu hangat, kasus ini pun tidak terlepas dari dunia jejaring sosial semacam twitter. Kemarin pagi, linimasa saya ikutan latah menanggapi kasus ini. Tentu saja lebih banyak yang berpihak pada Rasti. Alasannya sederhana, untuk apa membela banci yang tidak segan-segan melukai perempuan yang konon dicintainya hanya karena kesalahan sepele? Duh, jika Eza benar-benar melakukan semua itu, Eza adalah sebenar-benarnya banci.

Namun sampai sekarang pun saya nggak tahu mau memihak siapa atau malah enggan memihak siapa pun. Seperti judul di atas, saya sendiri sering bertanya-tanya, mengapa ya saya suka mengurusi masalah selebritis semacam mereka? Mengapa kisah mereka begitu menarik untuk diikuti? Mungkin karena sesungguhnya senang mencampuri urusan orang lain merupakan naluri dasar manusia (semacam saya). Bahkan mengetahui detil cerita seperti di atas seharusnya sudah membuat langkah saya bergerak terlalu jauh. Tetapi sayangnya, saya tidak tahu cara untuk mengembalikan atau setidaknya menghentikan langkah ini. Saya pun nggak tahu, akan mau sampai mana mengikuti drama ini. Namun sekali lagi, ini urusan mereka, mengapa kita harus mengurusinya?