Menunggu Kereta

:ibu

 

Pernah suatu ketika kau berkata,

Waktu adalah jarum raksasa yang melubangi segala sesuatu,

Sedang kulihat dadamu tlah berlubang separuhnya

Bukan oleh waktu, barangkali luka yang tak kau lupa

 

Pernah suatu ketika,

Kau terduduk menyendiri di sebuah stasiun tanpa nama

Menunggu kereta yang katanya akan tiba setelah senja

Sedang senja masih terperangkap

dalam sajak seorang penyair yang jatuh cinta

 

Dahimu yang berkerut

Pernah kunamai laut

Tempat doa-doa baik bermuara

Tempat ku menyelam tanpa menemui dasarnya

 

Matamu yang sayu

Tempat favoritmu menyembunyikan segala sesuatu

Di sana akan kutemukan,

Tangis anak lelakimu yang terjatuh dari sepeda

Senyum anak perempuanmu saat berfoto dengan kebaya

Atau justru meriang seluruh badan yang seharian kau rasa

 

[Waktu, yang katamu adalah jarum raksasa yang melubangi segala sesuatu,

perlahan mengimpit ruang antara kedua matamu]

 

Kau masih terduduk di sana,

Di stasiun kereta yang di ujung peronnya tak lagi merupa senja

Sebelum segala sesuatu menjadi luka, kataku

Mari, Bu, kutemani menunggu kereta,

Iklan