Rindu yang Lupa untuk Kita Satukan

Matahari masih berada tepat jauh di atas kepala ketika kami memilih menyusuri taman untuk meneruskan pertemuan yang kebetulan ini. Kebetulan? Benarkah Tuhan menakdirkan ini sebagai sebuah kebetulan?

***

“Kamu… Hangga kan?” tanyanya spontan ketika sepasang pandangan kami beradu. Tak sampai semilidetik, benang transparan seketika menjulur dari otakku, sembarangan mengait pada potongan masa lalu.

“Kamu tidak ingat aku? Kiyan? Teman SMA?”

Melihatku yang diam tanpa reaksi, gadis yang berjarak tiga langkah dariku itu mulai menyebutkan hal-hal yang menurutnya akan mengingatkanku padanya. Kiyan, teman SMA, SMA 22, fotografi. Namun kenyataannya dia salah. Sia-sia ia menyebutkan petunjuk-petunjuk itu. Karena sehebat apapun aku mencoba untuk lupa atau setidaknya pura-pura lupa, tak sedikitpun hal tentangnya yang terbebas dari laci memoriku.

“Ah… Tentu aku ingat, Kiyan yang cerewet itu kan?” ujarku dengan iringan tawa, sebelum kemudian sebuah cubitan sengaja ia jatuhkan di bahu kiriku. “Aduh!”

***

Taman Kota kala itu terasa amat sepi. Entah karena matahari yang makin meninggi hingga membuat orang mulai berpulangan, atau karena… mereka sengaja melengangkan ruang untuk kami berdua berjalan sembari menyiangi kenangan? Hahaha, kemungkinan yang kedua memang terdengar amat konyol dan berlebihan.

“Sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu? Lima kan ya?” katanya memulai pembicaraan.

“Iya…” jawabku singkat.

Kecuali usia dan keadaan yang terus berubah, semuanya masih tetap sama. Sorot matanya –yang masih tak menyimpan aku di dalamnya, caranya berbicara, suaranya, dan cara berpakaiannya yang sederhana namun memesona. Ia masih menjadi satu-satunya Kiyan yang pernah kutahu, kukenal, dan kuingat. Pun satu-satunya Kiyan yang pernah (dan sampai kini) kuberi kehendak untuk memilih tempat berhuni di hatiku. Dan sebaliknya, aku selalu berharap menjadi satu-satunya Hangga yang pernah terbesit di pikirannya, meski tidak dengan hatinya.

“Kok kamu bisa gak ada kabarnya gitu sih?”

Deg. Pertanyaannya seketika menohokku.

“Hah? Masa’ sih? Mungkin itu cuma perasaanmu.” kataku dengan setengah nyengir.

“Apa jangan-jangan selama ini kamu mencoba menjauh dariku? Eh, tapi gak mungkin kan ya, lagipula kenapa juga kamu harus menjauh dariku? Hahaha.” Aku hanya diam mendengar pertanyaan-yang-ia-jawab-sendiri itu.

Seandainya saja ia tahu kenyataannya. Kenyataan tentang aku yang menghindar akan tambahan luka. Tentang aku yang melarikan diri dari semua ‘siapa’ dan ‘apa’ yang mampu mengilasbalikkan memori tentangnya. Tentang aku yang berlari sejauh-jauhnya dari ‘kota’ kami, hingga aku dapat melupakan angan dan inginku untuk membentuk ‘kita’. Dan pada akhirnya aku tahu, aku gagal. Cinta membuatku berhenti melupakannya, bahkan sebelum memulainya.

Terlalu banyak hal yang kupilih untuk kurahasiakan darinya –tak untuk kuungkapkan dan tak untuk kuharapkan ia sadari. Cinta yang diam-diam tumbuh saat ia masih jadi milik orang lain. Rindu yang hingga kini masih kutimbun dan kulahapi sendiri. Dan lucunya, aku yang sengaja menjauh darinya, sekarang malah tanpa sengaja ia temukan dengan mudahnya. Tetapi tunggu, apakah kini ia kembali untuk ‘memperbaiki’ kenangan?

***

Dan kamu hanya perlu terima

Dan tak harus memahami

Dan tak harus berfikir

Hanya perlu mengerti

Aku bernafas untukmu

Jadi tetaplah di sini

Dan mulai menerimaku

Pukul satu dan kami masih terduduk di bangku panjang di pinggir taman. Sibuk bercerita tentang masa lalu dan masa sekarang. Aku lebih banyak diam, membiarkan dia yang memperpanjang percakapan. Rencananya untuk menetap di kota ini karena pekerjaan seakan menjelma sebagai jalan baru untukku mereduksi rindu. Ya, aku berencana untuk membagi rindu yang memang untuknya ini dengannnya. Hingga sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, dibacanya sejenak, dan berkata padaku,

“Maaf nih, Ngga, aku udah dijemput pacar. Aku pergi dulu ya…” Tanpa menyadari aku yang tersentak kaget ketika ia menyebut kata ‘pacar’, ia berlari menjauh setelah meninggalkan selembar kertas memo berisi nomor handphone-nya. Kugenggam dan kuamati barisan angka dalam secarik kertas itu, sampai seorang pengamen mendekatiku dan sambil memetik gitarnya, ia bernyanyi

Cobalah mengerti

Semua ini mencari arti

Selamanya takkan berhenti

Inginkan rasakan rindu ini menjadi satu

Biar waktu yang memisahkan

Lantas di pikiranku melayang-layang dua buah pilihan, esok hari aku akan menelepon nomor ini untuk bertemu dengannya kembali, atau menjauh dan melarikan diri lagi?

 

 

 

 

Terinspirasi dari Cobalah Mengerti – Peterpan

Iklan