Dear @mbakzakk…

Image

 

 

…karena ngucapin ulang ‘setahun’ itu terlalu mainstream ❤

Selamat, selamat, selamat ^^

 

Iklan

Kertas

Orang-orang butuh secarik kertas untuk menulis -atau mungkin butuh berlembar-lembar. Meski ada tembok, tanah, daun, bahkan aplikasi pengolah kata dalam gadget tercanggih, orang-orang tetap butuh kertas untuk menulis. Suka atau tidak, orang-orang harus mau menulis.

Orang-orang menulis di atas kertas. Warna kertasnya bisa seputih awan di pagi yang cerah, bisa jingga seperti senja di ujung atap stasiun kereta, atau hitam seperti mendung yang tenggelam di dalam malam. Warna-warna kertas tersebut berbeda-beda untuk masing-masing orang. Satu sama lain tahu, namun satu sama lain tak tahu mengapa bisa begitu. Bukan hanya kertas, alat yang mereka gunakan untuk menulis pun juga berbeda. Ada yang menulis dengan pensil, ada yang menulis dengan pena seharga ratusan dollar, crayon dengan batang yang tidak utuh, dan ada juga yang menulis dengan spidol permanen berbagai warna.

Orang-orang menulis dengan cara mereka sendiri. Ada yang menulis dengan semangat penuh gelora, ada yang menulis dengan duka meradangi kepala, ada yang menulis dengan bahagia yang seakan tak akan sudah. Mereka bisa menulis apa saja. Menulis apa yang ingin mereka tulis juga apa yang orang lain inginkan untuk mereka tulis. Di sana, mereka menuliskan rahasia, menuliskan asa, menuliskan doa, dan menuliskan hal-hal lainnya yang tak diinginkan bersuara. Di masing-masing kertasnya, mereka tak pernah menulis sesuatu yang sama. Entah pada kalimat, entah pada tanda baca.

Kemudian kertas berisi tulisan yang mereka tulis itu mereka baca kembali. Sadar bahwa ada yang salah. Bingung mengapa tak disediakan penghapus untuk menghapus kata yang baru mereka sadari salah. Resah mengapa kertas berisi tulisan yang salah itu tak bisa disobek, dibakar, dan dikunyah. Tak bisa lenyap. Sementara kertas-kertas kosong lain masih diperbolehkan untuk ditulisi.

Dan lagi, orang-orang butuh secarik kertas untuk menulis.