Kepada Nau dan Nau

Hari ini, saat saya sedang membereskan file-file di laptop, tidak sengaja saya menemukan sebuah file Ms. Word dengan judul “Kepada Nau dan Nau”. Saat saya buka, ternyata berisikan sebuah surat singkat yang saya tulis untuk dua ponakan saya yang bahkan saya tidak ingat kapan saya menulisnya. Baru saat saya klik properties-nya, saya tahu bahwa tulisan tersebut dibuat pada tanggal 2 Februari 2015. Jadi, surat tersebut saya tulis saat Nau pertama a.k.a. Naufal Adnan Athaya mungkin masih berusia empat tahun dan Nau kedua a.k.a. Naura Azzalva Athaya mungkin belum genap berusia dua tahun.

Tidak disangka waktu begitu cepat berlalu. Ponakan saya yang dulu hanya berjumlah dua (Naufal dan Naura), kini bertambah satu anak laki-laki yang sedang belajar mengucap kata-kata: Nauki. Ya, Nau dan Nau kini telah menjadi Nau-Nau-Nau.

Berikut isi dari surat singkat yang ditulis dua tahun lalu tersebut:

Kepada Nau dan Nau

 

Aku tahu kalian belum bisa membaca dan kalian tidak perlu meminta tolong mama atau ayahmu untuk membacakan surat ini. Kalian tidak perlu dan aku tidak berharap kalian membacanya sekarang. Mungkin suatu nanti ketika kalian telah fasih membaca kalimat-kalimat panjang dalam surat kabar, tibalah kalian untuk mengerti, ada sebuah surat yang menanti.

Ini surat pertama kalian bukan?

Kutulis surat ini di ruang tamu rumah akung-utimu. Duduk si sofa, menghadap pintu yang terbuka dan mempertontonkan riuhnya jalan raya di pagi hari. Nau si besar, sedangkah kau menikmati riuh jalan serupa di depan rumahku dalam perjalananmu menuju sekolah kecilmu? Nau si kecil, masihkah kau terlelap atau sudah terbangun dengan rambut kriwil tak tertatamu?

Kutulis surat ini dengan tiba-tiba dan tak terduga. Entah dari mana muncul ide menulis surat untuk kalian.

Kepada Nau dan Nau yang bertumbuh besar dengan caranya sendiri-sendiri, aku sering membayangkan suatu saat kalian sudah besar dan sibuk menceritakan kejadian-kejadian yang kalian alami. Bercerita tentang dimarahi guru karena terlambat tiba di sekolah, percayalah aku dulu lebih berpengalaman dalam hal ini. Atau bercerita tentang seorang teman di sekolah yang suka bertingkah lucu, lalu kita akan menertawakannya bersama-sama. Barangkali suatu hari kalian akan memintaku membantu mengerjakan PR, minta diantar menonton film kartun di bioskop, atau menemani membeli sepatu.

Nau si besar, entah berapa tahun lagi kau masih menyukai menonton Boboboy, Upin dan Ipin, Khrisna, Bima, dan kartun-kartun televisi favoritmu lainnya. Mungkin belasan tahun lagi kau akan lebih memilih menonton film-film action luar negeri yang berisikan tembak-tembakan dan guling-gulingan dibanding kartun-kartun tentang persahabatan itu.

Nau si kecil, entah berapa tahun lagi kau masih senang bergoyang ketika diputarkan lagu. Gerakan-gerakan lucumu. Kaki yang menjejak-jejak tanah sambil badan berputar, tangan yang melambai-lambai ke udara, dan rambut kriwilmu yang berayun-ayun. Apakah suatu hari nanti kau akan tetap makan dengan lahap seperti sekarang? Atau mungkin belasan tahun lagi, kau akan sering menolak makan demi menjaga berat badan lalu sibuk bermain dengan bedak dan wewangian.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s