Malam Tahun Baru

“Selamat pagi, Mama!”

“Eh, Elisa? Rajin banget udah rapi begini…”

“Iya dong, Ma! Hehe, tapi Elisa laper.”

“Iya, ini mama baru aja bikin nasi goreng.”

“Wah, baunya harum banget! Pasti enak ini… Oh ya, papa mana, Ma?”

“Itu papa baru turun.”

“Hih, papa telat! Masa’ duluan aku!”

“Wah, Elisa kok sudah siap duluan?”

“Hihihi, iya dong, Elisa kan anak rajin!”

“Hahaha, iya, anak papa yang satu ini memang super duper rajin!”

“Eh, Pa, nanti malem kita jadi nonton pesta kembang api kan?”

“Mmm… Gimana ya, kayaknya papa capek. Gak jadi aja ya, El.”

“Lho, Papa kan udah janji dari minggu kemarin! Masa’ dibatalain gitu aja?”

“Ih, Papa ini, kasihan kan Elisa jadi sedih. Jadi kok, sayang, papa cuma bercanda.”

 “Hahaha, lucu juga ya ekspresinya Elisa kalau sedih.”

“Huuuu, papa jahat… Masa’ bohongin anaknya sendiri! Eh, tapi beneran kan, Ma?”

“Ya beneran dong.”

“Yeeeeiiii….!”

“Elisaaa…!” Mendengar namanya dipanggil, Elisa dengan cepat membereskan tiga bonekanya, menghentikan adegan drama-nya episode hari ini.

“Eh, Bu Ratih?” Elisa nyengir.

“Oh, ternyata dari tadi kamu di sini… Dari tadi kita nyariin kamu. Semuanya udah di halaman depan dari tadi.”

“Emangnya ada apa, Bu?”

“Lhoh, kamu ini gimana, ini kan malam tahun baru. Seperti tahun lalu itu, kita pesta kembang api!”

“Kembang api?” Senyum sumringah mengembang di bibir mungil Elisa. “Wah, kalau gitu ayo, Bu, cepetan, nanti kita ketinggalan…”

Elisa seraya berlari menuju halaman depan. Meninggalkan tiga boneka kain yang hampir setiap hari menjadi teman bermainnya itu. Tiga boneka mungil yang setiap hari melakoni drama karangannya.

Namun untuk malam ini saja, ia mencoba lupa akan skenario-drama-karangan-yang-entah-kapan-menjadi-nyatanya itu. Untuk kesekian kalinya, sama seperti malam-malam tahun baru sebelumnya, pesta kembang api bersama seluruh penghuni panti asuhan sudah cukup untuk membuat kebahagiaan dengan sederhananya terdeskripsikan.

Iklan