Badnesday

*Hari ke-30! (Hari terakhir project #30HariBercerita)

“What day is it? Is it Wednesday?”

“Not wednesday anymore. It’s a badnesday.”

Jika saja sekarang saya diberi kesempatan untuk menekan satu dari sekian banyak tombol, maka yang akan pertama kali saya pilih adalah tombol “hapus hari ini”. Setelah beberapa detik proses berjalan, kemudian saya akan terlempar ke hari esok; kamis. Namun jika ternyata hari kamis esok akan sama buruknya dengan hari ini, saya akan berharap mendapat kesempatan “menekan tombol” lagi.

Rencana karut marut.

Masalah tak berbuntut.

Pikiran kalut.

Muka cemberut.

Hati kusut.

Mungkin semesta sedang berkonspirasi membuat saya benci rabu (ini). Atau mungkin saya memang sengaja diuji. Di atas sana, Sang Penguasa Semesta mengamati gerak-gerik saya. Mencari tahu seberapa kuat atau seberapa lemah saya menghadapi masalah kecil-namun-besar ini. Saya (harus) kuat, Ya Allah.

Semoga kekelabuan rabu ini tidak menular pada kamis esok, jumat esok, rabu berikutnya, dan setiap hari seterusnya.

Semoga segala masalah yang seperti awan hitam tebal ini terselesaikan dengan sendirinya, menyingkir dan memperlihatkan sinar matahari yang tertutupi olehnya. Jika ia tidak bisa selesai dengan sendirinya, semoga ada petunjuk yang menuntun saya untuk menemukan penyelesaiannya.

Iklan

Tulisan Sederhana Tentang Kutjink

(Hari ke 28)

Kucing kami punya serumpun nama

Kadang aku memanggilnya gembul

Kadang kakakku memanggilnya pussy

Kadang keponakanku memanggilnya eyong

Kadang ayahku memanggilnya pusing –karena ia memang sering membuat kami pusing

 

Kucing kami tidak berharga ratus ribuan apalagi jutaan

Ia datang ke rumah kami secara kebetulan

Mungkin karena ia butuh rumah untuk berdiam

Mungkin ia butuh keluarga sebagai teman

 

Kucing kami lucu

Pekerjaannya hanya tidur, makan, dan bermain

Ia senang mengejar segala sesuatu yang bergerak

Ia senang menangkap serangga kecil dengan kocak

Ia senang mengunyah rerumputan di halaman berpetak

 

Kucing kami satu

Kucing kami pergi jauh dua tahun lalu

Selain pilu, kami diteduhi rindu

 

Image

Image

Ini Kisah Mereka, Mengapa Kita Harus Mengurusinya?

(Hari Ke 25)

Saya sendiri tidak pernah tahu sejak kapan saya suka menonton infotainment. Yang saya tahu, setidaknya menonton infotainment jauh lebih menarik daripada menonton sinetron-sinetron karya Indonesia yang terlalu absurd –dengan catatan bahwa infotainment bukanlah acara favorit saya. Banyak kok acara televisi yang lebih baik, lebih menarik, dan tentunya lebih bermanfaat dari sekadar sebuah acara yang hanya menyiarkan aib dan problema para penghibur televisi.

Seinformatif-informatifnya suatu infotainmentinfotainment hanya hobi mengumbar aib orang-orang yang menganggap diri atau dianggap orang lain sebagai selebritis. Ya, karena memang tidak dipungkiri, sseringnya kisah yang mengumbar keburukan seseorang memang lebih “menjual” daripada kisah membahagiakannya.

Jika kamu termasuk pemirsa televisi yang baik dan beberapa kali menonton infotainment, pastilah mengetahui berita  selebriti yang baru-baru ini hangat dibicarakan. Betul sekali, konflik antara Ardina Rasty dan Eza Gionino. Karena sebelumnya saya jarang menonton televisi –maklum, di kost tidak ada televisi—saya pun termasuk yang baru paham atas kasus ini.

Jadi, singkat ceritanya dan sepengetahuan saya, Ardina Rasti yang dulu adalah pacarnya Eza melaporkan Eza ke polisi atas tuduhan penganiyayaan yang dialami Rasti sendiri ketika masih menjadi pacar Eza. Kemudian, dengan berurai mata, dalam konferensi persnya, Eza membantah tuduhan itu. Yap, sampai di sini, saya pun bingung, ini bener-bener pengakuan atau tangisan tersebut hanya semacam pencitraan?

Karena pembeberan bukti foto fisik Rasti yang penuh luka kekerasan dirasa belum cukup, akhirnya ia membeberkan sebuah rekaman berdurasi empat puluhan menit yang berisi pertengkaran antara ia dan Eza yang di dalamnya ikut terdengar bebunyian barang dibanting dan jeritan-jeritan Rasti.

Eh, saya kok jadi pemerhati sejati gini?

Ah iya, pokoknya seperti itulah konflik di antara mereka berdua yang hingga kini belum difinalkan oleh ranah hukum. Rasti masih berjuang keras agar Eza diadili. Sementara Eza pun tidak kalah keras meyakinkan orang-orang bahwa segala tuduhan tersebut hanyalah kebohongan.

Sebagai isu hangat, kasus ini pun tidak terlepas dari dunia jejaring sosial semacam twitter. Kemarin pagi, linimasa saya ikutan latah menanggapi kasus ini. Tentu saja lebih banyak yang berpihak pada Rasti. Alasannya sederhana, untuk apa membela banci yang tidak segan-segan melukai perempuan yang konon dicintainya hanya karena kesalahan sepele? Duh, jika Eza benar-benar melakukan semua itu, Eza adalah sebenar-benarnya banci.

Namun sampai sekarang pun saya nggak tahu mau memihak siapa atau malah enggan memihak siapa pun. Seperti judul di atas, saya sendiri sering bertanya-tanya, mengapa ya saya suka mengurusi masalah selebritis semacam mereka? Mengapa kisah mereka begitu menarik untuk diikuti? Mungkin karena sesungguhnya senang mencampuri urusan orang lain merupakan naluri dasar manusia (semacam saya). Bahkan mengetahui detil cerita seperti di atas seharusnya sudah membuat langkah saya bergerak terlalu jauh. Tetapi sayangnya, saya tidak tahu cara untuk mengembalikan atau setidaknya menghentikan langkah ini. Saya pun nggak tahu, akan mau sampai mana mengikuti drama ini. Namun sekali lagi, ini urusan mereka, mengapa kita harus mengurusinya?

Oi, Ini Tanggal Berapa?

(Hari Ke 23)

23 Januari 2013.

Deg. Tidak terasa hari ini sudah menginjak minggu terakhir dalam project #3oHariBercerita. Ternyata berkomitmen untuk menulis cerita selama tiga puluh hari berturut-turut tidak lah semudah yang dibayangkan. Mungkin karena masalah waktu, mungkin karena koneksi yang batu. Terkadang butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendapat ide, menulis, hingga mem-post tulisan di blog. Dan dari sekian banyak alasan yang membuatnya tidak mudah, ide terkadang menjadi momok paling berat. Lucu ya, dari sekian banyak hal yang terjadi pada satu hari, menceritakannya dalam deretan kata tidak segampang yang dikira. Atau mungkin memang hanya saya yang sulit melakukannya?

*Sampai sekarang pun, saya masih sering bolong-bolong, berhutang cerita, dan membayar pada hari berikutnya.

Sejauh ini, saya bercerita tentang apa pun. Tentang segala sesuatu yang seketika muncul di kepala dan meminta untuk ditulisan. Tidak melulu menulis tentang cerita kejadian sehari-hari. Kadang kejadian sehari-hari yang ditransformasi menjadi puisi atau sajak yang entah berantah, kadang hanya gambar-gambar dan ulasan singkat, kadang cerita pendek baru ditulis dengan ide cerita lama, kadang juga tentang coretan “masa lalu” yang tidak sengaja ditemukan di folder penyimpanan pada laptop.

Jujur, dari sekian banyak tulisan yang ditulis, saya sadar kalau saya belum mampu menulis dengan baik. Masih banyak tulisan saya yang berantakan. Saya pun sering iri dengan si ini yang bisa menulis dengan sebegitu bagusnya, pada si itu yang bisa menulis dengan menariknya. Tapi dari sini lah saya belajar untuk tidak lelah belajar.

Jangan berhenti membaca.

Jangan berhenti melatih kepala untuk menemukan ide.

Jangan berhenti memasang segala indera.

Jangan berhenti menulis, pokoknya jangan.

-si amatir.

Lebur, Lebar, Libur

(Hari ke 19)

 

Lebur

Langkah-langkah kaki tak serapat dahulu. Mata-mata tak setemaram dahulu. Dahulu? Padahal baru kemarin berakhir, rasanya seperti telah menelan pil besar bongkahan waktu. Dua minggu dijerang kalut, empat belas hari dientahkan resah, 336 jam diremukkan amuk, 20160 menit melelah pasrah, dan 1209600 detik yang diam-diam tidak dihitung hingga hari ini tiba. Hari di mana segala kalut, resah, amuk, dan lelah pasrah sontak melebur.

…melebur untuk kemudian membentuk lagi? Entahlah, (untuk sementara) aku tidak peduli.

 

Lebar

Dahulu, harapanku tidak sama lebarnya dengan rasa takutku. Rasa takutku lebar, mudah untuk dijabar dan menumbuhkan segala debar. Tetapi, aku sedang berhasil mengajarkan rasa takutku untuk bersabar. Untuk sekadar mengalah dan mengecil.

 

Libur

Ini hari libur, mengapa harus sibuk dengan rasa takut dan harapan? Entahlah. Jangan meribetkan diri pada sesuatu yang pada akhirnya meributkan diri. Akan ada lebih dari 1814400 detik untuk membiarkan segala yang harus lebur untuk melebur dan membiarkan segala yang harus lebar untuk melebar.

 

Selamat berlibur!

Hidup mahasiswa Indonesia!

Kantuk yang Suntuk

Harike15

 

Jadi, di mana kah relasi antara kantuk dan suntuk?

Meski sudah dimulai sejak senin lalu, dikarenakan hari Kamis hingga Minggu libur, maka jadilah hari Selasa, 15 Januari 2013 ini sebagai hari ke lima dari tujuh hari ujian akhir semester pertama saya di Teknik Kimia UGM ini.

Berhubung saya bukan orang cerdas, genius nan pandai setingkat dewa, untuk (berusaha) memperoleh nilai yang baik sehingga dapat membanggakan orang tua dan setidaknya membuat uang yang telah mereka keluarkan tidak sia-sia, saya berusaha untuk belajar. Dan di sini lah masalahnya. Saya bukan seseorang yang senang memerhatikan apalagi memahami celotehan dosen di dalam ruang kelas. Membosankan. Saya lebih memilih menggambar, mencorat-coret di kertas seadanya atau mengambil ponsel, membuka browser, kemudian menjelajahi blog orang yang terdapat pada bookmarks. Di samping itu, saya bukan seorang pencinta belajar yang setiap harinya, pulang kuliah langsung membuka catatan, me-review pelajaran, dan melatih ingatan. Sungguh, saya teramat jauh dari kriteria tersebut. Mungkin salah satu penyebab mengapa saya tidak seperti itu adalah orang tua saya tidak pernah menyuruh saya belajar (dan saya teramat sangat mensyukuri ini). Ya, bapak dan ibu selalu memberi kebebasan untuk anak-anaknya mengenai belajar atau tidak. Namun kebebasan ini tidak berlaku pada hal beribadah. Bapak dan ibu memang tidak akan dan enggan bosan mengingatkan tentang pentingnya sholat, mengaji, dan lainnya namun tidak untuk belajar.

Kembali ke topik semula.

Jadi, pada intinya, karena kebiasaan buruk tersebut, saya selalu butuh tekanan untuk belajar. Mungkin tekanan tersebut dapat berupa tekanan dari pemandangan teman-teman yang berkemajuan pesat atau dapat berupa tekanan waktu yang merupakan paling manjur. Hal ini lah yang membuat saya tanpa sadar menjadi penganut sejati SKS (Sistem Kebut Semalam). Sayangnya dan menyebalkannya, teori yang saya anut ini tidak sebanding dengan kemudah-mengantuknya saya. Iya, saya tipe orang yang mudah mengantuk dan suka tidur. Bahkan ketika kami sedang menonton acara Indonesia Mencari Bakat di televisi, ibu menyuruh saya untuk mendaftar dengan membawa bakat saya, yaitu tidur. Iya, ibu saya paling pandai membuat anak perempuannya tertawa.

Rasa kantuk senang menghampiri saya. Apalagi saat dalam periode ujian seperti ini. Ketika saya mengalihkan perhatian pada socmed, internet atau game, rasa kantuk seakan tidak pernah ada. Namun entah mengapa, ketika membaca materi kuliah, rasa kantuk tiba-tiba berlipat ganda. Jadi, sebenarnya ini konspirasi siapa?

Pada akhirnya, saya hanya dapat berdoa semoga rasa kantuk dapat datang dan pergi sesuai dengan perintah saya. Agar kantuk adalah kebutuhan. Agar kantuk bukan lagi penyebab suntuk.

 

*PS : Semua kata “belajar” yang dimaksud dalam teks di atas adalah belajar dalam makna sempit

Delapan Puluh Kilometer

Terhitung sudah kurang lebih 133 hari saya memutuskan untuk pindah ke Jogja. Bukan pindah dalam artian seperti sebuah keluarga yang pindah rumah bersama-sama. Namun tepatnya, saya pindah dari rumah, seorang diri, menuju kamar kost 4×3.

Saya (pernah) jatuh cinta pada Jogja. Dan semenjak itu, saya berkeinginan untuk melanjutkan kuliah di kota gudeg ini. Hingga pada akhirnya, doa tersebut diaminkan Penguasa Semesta. Saya pada akhirnya memiliki kehidupan di Jogja.

Saat itu, bahagia seperti sesuatu yang tergantung amat tinggi yang pada akhirnya mampu tergapai. Melegakan. Pada saat itu, saya masih lupa, bahwa suka cita terkadang dilapisi duka. Iya, langkah menjauh dari rumah lah sosok duka tersebut.

Delapan puluh kilometer bukanlah jarak yang panjang jika dibandingkan dengan kawan-kawan saya yang teramat jauh dari tanah perantauan. Namun, yang saya tahu, delapan puluh kilometer telah menjadi sesuatu yang cukup hebat untuk merentangkan saya dengan kehangatan rumah. Delapan puluh kilometer sudah cukup-berlebihan-dan-tidak-perlu-ditambahkan untuk mengurangi kuantitas temu antara saya dengan Bapak, Ibu, kakak-kakak, dan keponakan kecil saya.

Cukup delapan puluh kilometer yang membuat saya terkadang tidak tahan dengan maksimal-pulang-seminggu-sekali.

Cukup delapan puluh kilometer yang membuat saya sesenggukan menerima telepon ibu yang tidak bosannya bertanya “Wis maem, ndhuk? Kerasan tho ning kos?*

Cukup delapan puluh kilometer yang membuat rumah benar-benar tampak seperti ketenangan dalam kegaduhan.

 

 

 

*Sudah makan, Ndhuk? Betah kan di kos?