Pendidikan di Indonesia dalam Sebuah Sudut Pandang

Tadi malam, saya baru saja mendaftarkan diri di program beasiswa Dataprint. Yah, iseng-iseng sih. Tapi lumayan juga loh hadiahnya. Ada beasiswa untuk 350 orang dengan nominal antara 250rb-1juta. Syaratnya hanyalah memiliki kode voucher -yang dapat ditemukan dalam kemasan Dataprint- dan membuat essay dengan tema yang ditentukan. Nah, di bagian kode voucher itu, saya sempat bingung. Ya secara saya gak punya printer, buat apa saya punya tinta Dataprint? Akhirnya meluncurlah ide untuk mem-fakir voucher dari teman-teman. Satu per satu saya tanyai (sampai seorang kawan yang ternyata gak punya printer -_-), dan ternyata hasilnya nihil. Kalau gak pakai tinta Dataprint, ya kemasannya hilang, atau vouchernya sudah kadaluarsa. Selanjutnya, muncullah plan B! Yaitu beli tinta Dataprint dan tintanya dijual ke orang lain! Agak konyol memang, tapi akhirnya masalah tinta terselesaikan juga. Dan soal essay, jujur seumur hidup, saya gak pernah membuat essay. Alhasil, harus mampir google dulu dan melihat-lihat bentuk essay itu seperti apa. Dan dengan seadanya, seperti inilah essay -bertema “kualitas pendidikan di Indonesia”- tersebut (SEMOGA MENANG!) :

Pendidikan sejatinya merupakan fondasi utama dalam membangun negara. Tanpa adanya fondasi tersebut, negara tidak akan mampu melaksanakan pembangunan dengan baik. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan ‘mesin pencetak’ yang berfungsi untuk memproses sumber daya manusia yang nantinya mewujudkan pembangunan negara itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan dan sumber daya manusia merupakan dua hal yang saling mengait dan mengikat. Apabila sumber daya manusia diumpamakan tanaman, maka pendidikan merupakan air dimana tanaman selalu membutuhkan air untuk membuatnya tumbuh dan berkembang besar.

Begitu halnya dengan negeri ini, sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang sangat memprihatinkan. Mulai dari sarana prasarana yang tidak memadai, tenaga kerja pendidik yang tidak mencakup predikat ‘ahli’, hingga sistem pendidikan yang berantakan. Alhasil tidak heran jika sekolah di Indonesia hanya mampu menelurkan siswa-siswi dengan kualitas ‘seadanya’ dan sumber daya manusia yang ‘sekadarnya’.

Biaya sekolah yang mahal serta sistem pendidikan yang buruklah faktor utama mengapa pendidikan di Indonesia tampak buruk. Banyak anak-anak cerdas yang tidak mampu bersekolah karena kendala biaya telah menjadi cerita biasa di negeri ini. Frase sekolah gratis dan dana BOS yang lebih dari sering digembar-gemborkan kementerian pendidikan pada kenyataannya bukannya menyelesaikan masalah, malah memunculkan berbagai fakta memprihatinkan. Bangunan dan fasilitas yang buruk dan keterbatasan jumlah serta ketidakprofesionalan guru adalah gambaran sekolah gratis yang berada di pelosok-pelosok negeri itu. Apakah dengan kenyataan ini pendidikan Indonesia mampu membaik?

Sektor pendidikan di Indonesia butuh sebuah perubahan. Perubahan tersebut dapat dimulai dari sistem kurikulum yang seharusnya disesuaikan dengan kemampuan anak Indonesia, bukan sistem kurikulum yang malah menjadi penyulit proses mengajar-diajar tersebut. Perubahan pada kualitas dan kesejahteraan guru serta fasilitas penunjang juga akan berpengaruh besar dalam tatanan pendidikan ini. Dan untuk menciptakan perubahan tersebut, pemerintah hanya perlu melebarkan pandangannya pada sektor yang sudah cukup terabaikan ini. Misalnya saja seperti beberapa waktu lalu ketika dengan santainya pemerintah menggelindingkan uang 2M hanya untuk membangunkan toilet bagi anggota DPR, tanpa terlebih dahulu melihat anak-anak yang bersekolah dengan rasa cemas karena takut gedung sekolahnya yang rapuh tiba-tiba akan ‘ambruk’. Ya, tak dapat dipungkiri, anggaran dana yang besar dan penggunaan yang sesuai serta sistematislah yang paling dibutuhkan untuk saat ini. Oleh karena itu, peran pemerintah dan perhatian besar pada sektor pendidikan adalah kebutuhan primer untuk memperbaiki keadaan tersebut.


Iklan