Delapan Puluh Kilometer

Terhitung sudah kurang lebih 133 hari saya memutuskan untuk pindah ke Jogja. Bukan pindah dalam artian seperti sebuah keluarga yang pindah rumah bersama-sama. Namun tepatnya, saya pindah dari rumah, seorang diri, menuju kamar kost 4×3.

Saya (pernah) jatuh cinta pada Jogja. Dan semenjak itu, saya berkeinginan untuk melanjutkan kuliah di kota gudeg ini. Hingga pada akhirnya, doa tersebut diaminkan Penguasa Semesta. Saya pada akhirnya memiliki kehidupan di Jogja.

Saat itu, bahagia seperti sesuatu yang tergantung amat tinggi yang pada akhirnya mampu tergapai. Melegakan. Pada saat itu, saya masih lupa, bahwa suka cita terkadang dilapisi duka. Iya, langkah menjauh dari rumah lah sosok duka tersebut.

Delapan puluh kilometer bukanlah jarak yang panjang jika dibandingkan dengan kawan-kawan saya yang teramat jauh dari tanah perantauan. Namun, yang saya tahu, delapan puluh kilometer telah menjadi sesuatu yang cukup hebat untuk merentangkan saya dengan kehangatan rumah. Delapan puluh kilometer sudah cukup-berlebihan-dan-tidak-perlu-ditambahkan untuk mengurangi kuantitas temu antara saya dengan Bapak, Ibu, kakak-kakak, dan keponakan kecil saya.

Cukup delapan puluh kilometer yang membuat saya terkadang tidak tahan dengan maksimal-pulang-seminggu-sekali.

Cukup delapan puluh kilometer yang membuat saya sesenggukan menerima telepon ibu yang tidak bosannya bertanya “Wis maem, ndhuk? Kerasan tho ning kos?*

Cukup delapan puluh kilometer yang membuat rumah benar-benar tampak seperti ketenangan dalam kegaduhan.

 

 

 

*Sudah makan, Ndhuk? Betah kan di kos?