Pengorbanan

“Halo?”

“Halo…”

“Ayah?”

“Iya. Ini ayah, Nak…”

“Ayah ke mana saja? Mengapa sudah lama sekali tidak memberi kabar? Ayah baik-baik saja kan di sana?”

“Tentu, Nak. Maaf, akhir-akhir ini ayah sibuk, banyak pekerjaan jadi tidak sempat untuk menelepon. Uang yang minggu lalu ayah kirim masih ada kan?”

“Masih lah, Yah. Pantas saja ayah bisa mengirim uang sebanyak itu, ayah sedang banyak pekerjaan ternyata. Ternyata bekerja di pabrik plastik bisa semudah itu ya.”

“Iya, syukurlah. Tunggakan SPP sekolahmu sudah dibayar kan? Oh ya, ibu bagaimana? Operasinya berjalan lancar kan?”

“Sudah, akhirnya sudah terbayar SPP-nya, Yah. Alhamdulillah operasi usus buntu ibu sukses, Yah. Baru saja tadi pagi ibu sadar.”

Terdengar ketukan di bilik telepon tersebut. Sipir penjara di luar memberi isyarat bahwa waktu meneleponku sudah habis.

“Ya sudah kalau begitu. Salam untuk ibumu ya. Sampaikan maaf ayah karena tidak bisa menemani operasinya.  Ayah harus pergi dulu, lanjut bekerja. Kamu baik-baik ya di sana.”

“Iya. Ayah juga ya.”

Tuuuuttttt

“Maafkan aku, Nak…”

Kuletakkan gagang telepon tersebut. Untung saja sebulan lalu aku mengiyakan ajakan Toni untuk merampok toko elektronik itu.