Surat Untuk Gelas Kopi

IMG_20140406_080818.jpg

Kau adalah sebuah gelas bergagang yang biasa orang sebut mug yang dihadiahkan oleh temanku untuk ulang tahunku yang ke-17. Kau adalah gelas dengan luaran berwarna hitam dan dipenuhi nama berbagai jenis kopi yang dituliskan dengan warna putih. Espresso, Mocca, Cappuccino, dan Latte. Tunggu, jangan kau minta padaku untuk menjelaskan masing-masingnya. Karena kau jelas tahu bahwa aku tidak tahu.

Kau adalah gelas kopi yang di dalam tubuhmu, aku tidak hanya kerap menyeduh kopi. Entah berapa ratus kantong teh yang kucelupkan dalam air panas yang memenuhi badanmu, entah berapa saset serbuk berwarna nan tidak menyehatkan yang kutaburkan di dasarmu untuk kemudian kularutkan, entah berapa puluh ribu teguk air putih yang kudapat darimu. Kau adalah gelas kopi yang di dalam kosongnya badanmu, aku pernah meracik teh, minuman berwarna, dan air putih seadanya.

Kau adalah gelas kopi dengan gempil di sebagian sisi bibirmu. Maaf, barangkali aku ceroboh. Kamarku yang selalu minta untuk dirapikan –namun aku selalu enggan-, membuatku menaruh segala benda di sembarang sisi –termasuk kau. Lalu suatu hari, kakiku yang terburu-buru untuk pergi ke kampus tak sengaja menyenggolmu hingga jatuh membentur lantai. Saat aku pulang, baru kusadari senggolan kakiku membuat bibirmu gempil selebar tiga senti dan sebuah tanda retakan muncul di badanmu, menjalur turun dari bibir sampai pertengahan badanmu. Untungnya, gempil dan retakan itu tidak membuat air mampu merembes keluar dari badanmu. Dan kau masih tetap gelas kopi yang di dalam tubuhmu, aku menyeduh segala sesuatu yang tidak hanya kopi.

Kau adalah gelas kopi, yang ketika banyaknya tugas memaksaku mengurangi jatah tidur, darimu aku menyeduh cafein untuk menahanku terjaga. Kau adalah gelas kopi, yang ketika lapar datang namun aku sedang malas keluar dan tak ada cadangan makanan di kamar, di dalam tubuhmu aku menuangkan susu kental manis cokelat atau minuman sereal yang kupenuhi dengan air panas setelahnya. Yang dari satu gelasmu, rasa laparku sedikit terganjal.

Kau adalah gelas kopi, yang sudah ribuan kali kukotori, lalu kucuci untuk kukotori lagi. Kau adalah gelas kopi yang nyaris empat tahun telah ada di atas rak piringku, berdempetan dengan piring dan mangkok yang biasa kugunakan untuk makan mie. Kau adalah gelas kopi, yang membuatku harus selalu berterima kasih pada Ain, gadis penuh semangat yang telah menjadikanmu ada di sini.

Belum Lelahkah Kau Menunggu?

Nona,

Tanpa kau sadari, waktu menjelma jarum-jarum raksasa yang melubangi segala sesuatu di sekitarmu. Atap gedung sekolah. Lantai rumah sakit. Pilar-pilar stasiun. Pintu rumah-rumah kosong. Juga setapak jalan ke tempat tujuanmu. Lagi-lagi tanpa kau sadari, lubang-lubang itu semakin hari semakin lebar dan dalam. Segala sesuatu di atasnya mulai terperosok, segala sesuatu di sekitarnya mulai terisap ke dalamnya.

Sementara waktu sibuk melubangi segala sesuatu, kau masih berdiri dan sibuk berputar-putar dalam lingkaran kecil yang kau gambar dengan krayon cokelat tua. Dalam lingkaran itu, terkadang kau terduduk dengan kepala menengadah. Menghitung detik-detik sebelum hujan turun, menamatkan menit sebelum hujan mereda. Terkadang kepalamu menghadap ke atas untuk menerka setinggi apa langit di sana. Seluas apa langit yang terpadu dari warna putih-biru muda itu. Perlahan tanganmu terangkat ke atas dan melambai mencoba meraih langit. Berkali-kali, tetap tak bisa.

Di saat tertentu, kau memilih terduduk dengan kepala menunduk. Memainkan jemari di tanah, menggambar sesuatu dengan jari telunjukmu. Pernah kau gambar rumah, beruang, matahari, dan awan. Lalu kau nyalakan imajinasi di kepalamu, mereka-reka cerita yang kau suka. Terkadang konsentrasi berimajinasimu teralihkan oleh barisan semut yang melintas ke dalam lingkaranmu. Diam-diam kau pandangi semut-semut hitam yang berbaris rapi itu. Ingin kau sapa, tapi urung karena terpikirkan semut tak mengerti bahasa manusia.

Dari kejauhan, kau amati ulat bulu yang menggantung di dahan pohon Akasia. Ada yang aneh, katamu saat melihat ulat bulu itu beberapa waktu kemudian terbungkus kulit tipis nan kaku. Seharian kau sibuk dengan keherananmu. Mencoba berpikir, mencari teorema mana yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada ulat bulu itu. Kau ingin melihatnya lebih dekat dan bertanya langsung pada ulat bulu di dalamnya. Namun langkahmu terhenti, oleh garis krayon yang melingkarimu.

Beberapa waktu kemudian, kembali kau bertanya heran. Ketakjuban yang disebabkan oleh hal lain. Dengan rona wajah penuh tidak percaya, kau amati seekor kupu-kupu dengan sayap mekar merah muda keluar dari bungkusan itu. Kau ikuti arah terbangnya, mulai dari dahan pohon Akasia, taman bunga hingga laut yang membuatnya hilang dari pandanganmu. Lalu, ke manakah si ulat bulu? Sihir apa yang membuat ulat bulu menjelma kupu-kupu? Ataukah kupu-kupu itu memakannya? Ingin kau kejar kupu-kupu itu untuk menjawab keherananmu. Namun lagi-lagi, lingkaran krayon menciptakan keenggananmu.

Lagi, kau hanya bisa terdiam di kehampaan terdalam lingkaranmu.

Acap kali kau berharap datangnya seseorang yang akan menghapus lingkaran krayonmu itu, membebaskanmu. Kau terus menunggu sampai jarum raksasa bernama waktu hampir selesai melubangi segala sesuatu. Lalu pada akhirnya kau akan menemukan jawaban yang tak pernah kau duga.

Nona, barangkali kau lupa pada benda yang tenggelam di saku bajumu. Sebuah penghapus yang sengaja kau beli bersama krayon cokelat tua itu. Dengan penghapus itu, kau bisa dengan mudahnya menghapus lingkaranmu. Membiarkan kakimu melangkah sejauh mungkin, mendekati yang kau tuju.

Maka, Nona, belum lelahkah kau menunggu?


Dariku,

yang (masih dan akan terus) mempelajarimu.

Mendung di Depan Rumahku

Selamat jalan, Januari. Seberapa siap kau untuk pergi?

Aku ingat betul banyaknya mendung yang kau bawa ke depan rumahku. Gumpalan awan hitam yang terkadang membawa angin, menerbangkan dedaunan kering. Perlahan dari singgasananya yang tak kutahu di mana, jatuh titik-titik air tak berwarna. Membasahi jalan raya, halaman, dan sedikit teras rumahku.

Tanpa kuminta, nyaris setiap hari kau mengunjungi rumahku dengan membawa mendung di keranjangmu. Keranjangmu terbuat dari anyaman rotan yang dikelilingi kain renda abu-abu dan pita kecil berwarna biru tua. Diam-diam, kau tebarkan mendung itu di depan rumahku. Kadang saat malam mulai tua, kadang saat pagi buta, kadang dari pagi hingga usainya senja.

Pernah suatu ketika aku memergokimu yang sedang menebarkan gumpalan awan hitam di depan rumahku. “Membawa mendung lagi, Januari?” tanyaku. Kau hanya melihatku sekilas, tanpa menanggapi dan kembali melanjutkan pekerjaanmu. Kuulangi pertanyaanku dan kali itu kau benar-benar mengabaikanku. Akhirnya aku memilih masuk kembali ke dalam rumah dengan penuh rasa sebal. Selanjutnya, aku berjanji tidak akan mengajakmu bicara lagi saat kembali memergokimu suatu nanti.

Januari, diam-diam aku menghitung banyak digit 31-mu. Merangkainya menjadi tali panjang yang kukaitkan mimpi dan harapan di atasnya. Beberapa mimpi dan harapan baru yang sengaja kukaitkan pada digit tertentu, sebagian lain yang adalah sisa dari rangkaian tali sebelumnya. Dan kini, tanpa kusadari tali panjang itu telah melampaui ujungnya. Memaksaku harus bersiap untuk merangkai tali yang lain. Masih ada terlalu banyak mimpi dan harapan yang masih mengerut di talimu dan kini aku harus kembali memungutnya, memindahkannya ke tali panjang baru yang telah dipersiapkan. Januari, maukah kau lihat rangkaian taliku yang baru yang telah meninggalkan 31 digitmu? Sst… itu rahasiaku dengan Februari, kawan sebangkumu. Kudengar hari ini kawan sebangkumu itu akan datang dan meminjamiku tali baru untuk dirangkai.

Jadi, selamat jalan, Januari. Tenang, aku sudah melupakan rasa sebal dari pengabaianmu tempo lalu. Kini aku siap menyambut kehadiran si Februari.

Dari kejauhan, kulihat Februari berjalan menuju rumahku. Di tangannya tergantung sebuah keranjang dari anyaman rotan. Tunggu, bukankah itu keranjangmu?

Dari aku,

Penghuni rumah itu.

Dari Hujan untuk Tanah

Kepada Tuan Tanah di tempat.

Terlebih dahulu, aku ingin berterima kasih untuk suratmu tempo hari, hei Tuan Tanah.

Kala itu aku sedang beristirahat selepas lelah bekerja seharian, ketika kawan kita, angin, menerbangkan suratmu ke depan pintu rumahku. Aku pun seketika terkejut mendapati bahwa surat itu darimu. Aku sudah terbiasa mendapat surat dari manusia-manusia yang gemar membubuhkan pujian dan rasa terima kasih untukku, namun kali itu surat tersebut sungguh berbeda. Surat itu darimu, makhluk yang hampir setiap hari kutuju.

Setelah menerima surat yang terulur dari tangan angin, kubawa surat beramplop biru muda yang pada bagian depannya terdapat hiasan gambar dandelion di sudut atas kiri dan sudut bawah kanan itu ke dalam kamar. Wangi kertasnya pun menyeruak ke seisi ruangan seiring kubuka segelnya dan menarik selembar kertas berwarna biru lebih tua yang dilipat secara tiga sisi. Dalam selembar kertas itu ada sekitar enam paragraf tulisan yang kau tulis rapi dengan pulpen hitam yang mungkin seharga dua ribuan –jika memang benar kau yang menulis sendiri surat itu.

Membaca suratmu, seketika ada rasa “deg” menjalari tubuhku. Pada kalimat pertamamu saja, aku ikut hanyut pada pertanyaan, “mengapa kita tidak pernah bertegur sapa?”

Tentu bukan sifat pemalumu yang membuat kita tidak pernah mulai menyapa apalagi bercengkerama. Aku yang salah. Aku lah yang kurang peka. Sejak dahulu kala kau selalu diam di tempat, sementara aku lah yang datang dan pergi seakan-akan aku adalah tamu berkunjungmu. Maka seharusnya aku lah yang terlebih dahulu menyapamu, meminta izin untuk menjatuhkan diri padamu, lalu setiap hari memulai percakapan denganmu seperti kawan lama yang sudah lama tidak bertemu.

Sekali lagi, kurasa aku yang kurang peka. Setiap harinya, setiap waktu aku bertugas untuk membasahi antero bumi, aku hanya mengikuti siklus. Aku terlalu sibuk dengan konsep tugas dan peranku. Jatuh dari langit yang tak pernah kau ketahui berapa jauhnya, lalu jatuh menghantammu, mendingin-dan-basahkan dirimu.

Setidaknya aku harus berterima kasih, karena suratmu itu, aku terdorong untuk mengikis kekurangpekaanku ini. Mari segera bertegur sapa, hei Tuan Tanah. Lalu sembari aku perlahan-lahan jatuh menimpamu, kita akan secara lisan saling bercengkerama. Kau akan bercerita tentang peran hebatmu untuk kehidupan manusia. Kemudian aku akan menjawab rasa penasaranmu tentang perasaan apa yang menghinggapiku tiap kali jatuh menujumu  –karena  aku takut akan banyak orang yang tahu jika aku menjawabnya di sini.

Untuk yang terakhir, aku meminta maaf karena terhitung lama membalas suratmu. Maklumi saja ya, selain karena aku bingung merangkai kata yang agar terdengar apik olehmu, sekarang adalah bulan di mana aku sedang sibuk-sibuknya mengguyur bumi.

Dari yang selalu membuatmu basah dan dingin,

Hujan.

*(Balasan untuk “Dari Tanah Untuk Hujan“)

Dari Tanah untuk Hujan

Teruntuk hujan.

Rasanya aneh sekali ya aku menulis surat semacam ini. Mengingat kita tidak pernah bercengkerama atau setidaknya saling menyapa. Padahal hampir setiap hari –atau bahkan bisa berkali-kali dalam sehari—kita berjumpa dan tentu saja masing-masing dari kita menyadari pertemuan ini.

Kita tidak hanya berjumpa. Lebih dari itu. Bahkan kau senantiasa menyentuhku dengan tanganmu yang dingin itu atau menjatuhkan sekujur tubuhmu yang juga dingin padaku yang awalnya kering. Kau membuatku basah, entah dengan perlahan-lahan dalam wujud gerimismu atau dengan secepat kilat dalam wujud deras.

Ini memang takdirku, harus selalu bersedia dibasahi olehmu.

Mungkin kau boleh bilang bahwa aku adalah makhluk paling mengenaskan di dunia. Aku membiarkan manusia-manusia dan hewan-hewan yang konon diciptakan dariku menginjak-menginjakku, berlarian, dan menghantamku sesukanya. Namun, mungkin karena terbiasa atau terlalu bahagia, aku tidak pernah merasakan sakitnya.

Iya. Meski terkadang terlihat menyedihkan, aku bangga kok dengan keberadaan dan peranku ini. Setidaknya aku memiliki banyak manfaat untuk mereka. Salah satunya adalah karena aku, mereka memiliki sumber kehidupan. Coba saja jika tidak ada aku, akan hidup di mana tumbuh-tumbuhan? Jika tidak ada aku, tumbuhan tidak akan hidup, maka manusia pun akan mati kelaparan. Peranku keren kan? Haha, sesederhana itu, aku bangga pada diriku, Jan.

Kembali pada kita ya.

Aku sering bertanya-tanya, bagaimana rasanya jatuh menimpaku? Apa kau selalu jatuh dalam keadaan bahagia? Atau malah berduka? Kau selalu tampak apa adanya. Basah dan dingin tanpa ekspresi lain. Atau mungkin karena kau terlalu malu untuk menampakkannya. Begitu kah?

Aku pun tidak mengerti mengapa aku selalu ragu untuk memberanikan diri menyapamu, lalu menanyakan hal itu padamu. Aku selalu berdiam di tempatku, memandangimu turun dari langit yang tidak pernah kuketahui seberapa jauhnya, selanjutnya kubiarkan kau jatuh menghantamku, membasahiku sesukamu. Haha, mungkin memang beginilah takdir kita. Kita terjebak dalam siklus yang telah ditetapkan. Kau selalu jatuh menimpaku, dan aku, selalu senang hati untuk menangkapmu.

Oh ya, terima kasih karena selalu membuatku basah sehingga aku dapat menjalankan peranku.

Kutunggu balasan kabar darimu, Jan.

Yang senantiasa menangkap jatuhmu,

Tanah.

Mungkin Ini Terlalu Pagi

Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk mengingatmu –apalagi menulis sebuah surat untukmu. Tapi, entahlah. Barangkali kau lah yang memang sedang sengaja mengitari kepalaku, membiarkanku ribut akan ingatan tentangmu.

Hari ini pagiku sederhana. Dingin yang tidak ingin mengalah dan dicelah. Rintik-rintik hujan sisa semalam. Embun-embun yang membasahi bingkai jendela. Serta buku dan kertas-kertas di lantai terserak sembarangan.

Sarapanku sudah kutandas habis barusan. Bukan menu istimewa. Hanya mie goreng yang ditumis dengan sawi, daun bawang, dan kubis bersama sebuah perkedel kentang sebagai lauk pendamping. Aku yang tidak pandai memasak ini membelinya di warung makan ujung jalan. Mungkin suatu hari aku harus belajar memasak, setidaknya agar setiap pagi, hanya untuk sarapan, aku tidak perlu bertengkar dengan kaki yang malas untuk jauh berjalan.

Udara di luar masih tampak pekat meski mentari telah cukup meninggi. Aku tahu, sekarang kau mungkin sedang duduk di depan suatu pintu. Memandangi kupu-kupu yang menghisapi serbuk bunga di halaman depan. Menghirup-helakan oksigen dan karbon dioksida yang seakan-akan tidak ada.

Kau di sana. Menunggu pintu itu terbuka. Lalu, ketika decit pintu yang bergerak mulai terdengar, kau akan terbangun dari dudukmu dan melangkah masuk ke dalam suatu ruang di baliknya. Lantas kau hilang. Kau hilang di balik pintu yang tidak pernah terbuka untukku.

 

 

-Jogja, 18 Januari 2013; 09.42.