Mendung di Depan Rumahku

Selamat jalan, Januari. Seberapa siap kau untuk pergi?

Aku ingat betul banyaknya mendung yang kau bawa ke depan rumahku. Gumpalan awan hitam yang terkadang membawa angin, menerbangkan dedaunan kering. Perlahan dari singgasananya yang tak kutahu di mana, jatuh titik-titik air tak berwarna. Membasahi jalan raya, halaman, dan sedikit teras rumahku.

Tanpa kuminta, nyaris setiap hari kau mengunjungi rumahku dengan membawa mendung di keranjangmu. Keranjangmu terbuat dari anyaman rotan yang dikelilingi kain renda abu-abu dan pita kecil berwarna biru tua. Diam-diam, kau tebarkan mendung itu di depan rumahku. Kadang saat malam mulai tua, kadang saat pagi buta, kadang dari pagi hingga usainya senja.

Pernah suatu ketika aku memergokimu yang sedang menebarkan gumpalan awan hitam di depan rumahku. “Membawa mendung lagi, Januari?” tanyaku. Kau hanya melihatku sekilas, tanpa menanggapi dan kembali melanjutkan pekerjaanmu. Kuulangi pertanyaanku dan kali itu kau benar-benar mengabaikanku. Akhirnya aku memilih masuk kembali ke dalam rumah dengan penuh rasa sebal. Selanjutnya, aku berjanji tidak akan mengajakmu bicara lagi saat kembali memergokimu suatu nanti.

Januari, diam-diam aku menghitung banyak digit 31-mu. Merangkainya menjadi tali panjang yang kukaitkan mimpi dan harapan di atasnya. Beberapa mimpi dan harapan baru yang sengaja kukaitkan pada digit tertentu, sebagian lain yang adalah sisa dari rangkaian tali sebelumnya. Dan kini, tanpa kusadari tali panjang itu telah melampaui ujungnya. Memaksaku harus bersiap untuk merangkai tali yang lain. Masih ada terlalu banyak mimpi dan harapan yang masih mengerut di talimu dan kini aku harus kembali memungutnya, memindahkannya ke tali panjang baru yang telah dipersiapkan. Januari, maukah kau lihat rangkaian taliku yang baru yang telah meninggalkan 31 digitmu? Sst… itu rahasiaku dengan Februari, kawan sebangkumu. Kudengar hari ini kawan sebangkumu itu akan datang dan meminjamiku tali baru untuk dirangkai.

Jadi, selamat jalan, Januari. Tenang, aku sudah melupakan rasa sebal dari pengabaianmu tempo lalu. Kini aku siap menyambut kehadiran si Februari.

Dari kejauhan, kulihat Februari berjalan menuju rumahku. Di tangannya tergantung sebuah keranjang dari anyaman rotan. Tunggu, bukankah itu keranjangmu?

Dari aku,

Penghuni rumah itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s