Elegi Sore Hari

IMG_20141116_160744_edit

“Kemarin, kau mencari-cariku. Namun lihatlah, ketika aku datang, kau malah menjauh.”

Dia tidak menjawab. Konsentrasi matanya masih ke luar, memandangi dari balik jendela kamarnya. Semua benda di luar basah. Pohon, jalan, tiang listrik, pagar, juga pakaian orang-orang yang berlari di tepian jalan sana.

“Barangkali kau lupa seberapa kau dulu berkata membutuhkanku. Kau memanggilku, menginginkan kehadiranku, gulana akan ketidakberadaanku.”

Ia masih tidak menyahut.

“Sekarang aku di sini, di hadapanmu. Mencoba mendekat padamu, menjawab permintaanmu. Yang ada, kau malah membentengi dirimu dengan rasa cemas dan takut. Kau enggan mendekatiku yang datang karena alasan yang kau ciptakan. Aku datang, kau malah menjauh dan menambatkan sauh.”

Ia tetap diam, sedangkan kedua matanya kini lurus tertuju padaku, namun kosong. Ia menujukan tatapan kosong ke arahku.

“Yang lebih tak kupercaya, saat aku datang dengan sehebat ini, kau malah mengumpatku, memarahiku. Aku yang dengan tabah menghadirkan diri. Kau bilang, kehadiranku menggagalkan rencana-rencana di hari baikmu.”

Ia masih menatapkan matanya padaku. Selain desahan nafas, tak satu pun kata keluar dari bibirnya.

“Apakah kehadiranku yang kamu mintakan ini salah? Sampai kapan aku harus mendebam tanah dan mengurai di udara untuk kamu menyadari makna kehadiranku? Sampai kapan aku harus datang mewujudkan permintaanmu namun pada akhirnya kau memintaku untuk melenyap? Apa aku memang seharusnya melenyap selama-lamanya dan mengabaikan semua permintaan bodohmu itu? Barangkali memang seharusnya aku tidak pernah mendengarkan permintaan bodohmu akan kehadiranku apalagi mewujudkan diriku sendiri untuk jatuh di duniamu. Namun, lihatlah, seberapa kali pun kau memanggilku dan kemudian menyesali kehadiranku sekaligus memohon kelenyapanku, aku selalu kembali. Menjadi sesuatu yang kau saksikan. Padahal aku berharap kau akan menyentuhku, menari denganku.”

Usailah kalimatku. Sudah cukup, aku tak ingin berkata apa-apa lagi. Waktunya dia memahami semua kalimatku tadi. Meski aku ragu karena mimik mukanya yang sama sekali tak mengisyaratkan bahwa ia sedari tadi mendengarkan deruku.

Ia menolehkan kepalanya ke arah lain -bukan lagi padaku, atau kaca jendela polos itu-, pada sesuatu di belakangnya. Pintu kamar. Ya, raihlah pintu itu, keluarlah, menarilah bersamaku.

Akhirnya ia berjalan menuju pintu itu, memutar bulatan yang ada di pertengahan ujung kirinya. Pintu itu terbuka. Ia melangkah keluar, keberadaannya tak lagi dapat terlihat olehku.

Dari balik pintu depan rumahnya, sosoknya muncul kembali. Kemudian dari teras, ia mengembangkan payung yang tak kuketahui sejak kapan ada di genggamannya, lalu dengan langkah cepat ia menyusuri jalan. Menuju persimpangan, halte bus, kemudian menumpang bus yang entah menuju ke mana.

Ah, kupikir kau hendak menari bersamaku.

Yogyakarta, 16 November 2014 16:32
Ketika hujan sedang gaduh-gaduhnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s