Pohon Petai dan Tebu

Suatu hari di suatu perkebunan tebu, terjadilah percakapan antara sebuah pohon tebu yang merupakan tetua dari sekoloni tebu di kebun itu dengan sebuah pohon petai yang berdiri menjulang di seberang jalan.

“Hei, tebu!” seru petai pada tebu. “Apa kau tahu, aku selalu benci melihat keberadaanmu dan teman-temanmu itu?”

“Lho, kenapa?” jawab tetua tebu yang berdiri tepat di depannya.

“Kalian itu membuatku iri dan terlihat menyedihkan.”

“Bagaimana bisa? Memangnya apa yang kami lakukan?”

“Duh, kau ini sombong sekali, pura-pura tidak tahu segala. Kalian itu punya kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat untuk manusia. Dari tubuh kalian, manusia bisa membuat… mmm apa itu namanya?”

“Gula?” sambar tetua tebu.

“Nah, itu maksudku. Karena kalian, manusia bisa punya gula yang kudengar sangat berguna untuk manusia seluruh dunia. Betapa beruntungnya kalian…”

“Lalu?”

“Demi memperoleh sari tubuh kalian, manusia datang berbondong-bondong dengan alat tercanggih dan truk-truk besar. Lalu akan ada proses yang menakjubkan dan entah dengan mantra sihir apa, manusia bisa menciptakan butir-butir benda manis yang konon bisa dibuat untuk makanan lainnya juga. Tuh lihat, anak-anak kecil yang bermain layangan di lapangan sana. Mereka menarik ulur layangan sambil memegang permen, dan yang lain lagi meminum minuman yang entah apa namanya. Semua makanan itu dibuat dengan bantuan kalian. Yah secara tidak langsung sih, kalian telah membuat anak-anak itu bahagia.”

“Lalu?”

“Sementara itu, lihatlah aku, aku hanyalah sebuah pohon yang hanya menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak bermanfaat untuk manusia. Buahku hanya dijadikan sebagai pendamping makanan. Itu pun hanya beberapa orang di desa yang menyantapku. Katanya, kalau makan buahku, nanti mulut mereka bau dan dikatai udik. Naas sekali nasibku. Hanya badanku yang besar tapi tidak ada manfaatnya sama sekali…”

“Jadi, karena itu kau benci pada kami?”

“Ya tentu saja, atau mungkin masih ada alasan lain lagi.”

“Astaga, petai. Kau ini lucu sekali…”

“Lucu bagaimana maksudmu?”

“Mungkin kamu tidak tahu, justru kami yang iri padamu. Kami iri pada tubuhmu yang memiliki banyak tangan dan dedaunan yang rimbun sehingga sering dijadikan tempat berteduh saat panas. Karenamu, kami jadi pernah melihat adegan sepasang petani yang saling menyuap nasi teri untuk makan siang di tengah lelahnya panen. Kami juga pernah melihat adegan seorang anak lelaki yang bersembunyi di balik pohonmu di suatu petang, menangis karena telah mengompol di sekolah dan enggan pulang karena takut dimarahi. Sampai kemudian ayah dan ibunya berhasil menemukannya, mereka langsung mendekap si anak dengan tangis yang tak sudah.

Kamu tahu, petai, kami pun iri padamu. Bagaimana sekelompok anak lelaki tidak sabaran untuk segera pulang saat sekolah, berganti baju, dan kemudian kembali bertemu di bawah rindangnya dirimu. Mereka dengan riangnya memanjatimu dan berayun-ayun di tangan-tanganmu.

Kami iri, kami ingin sesekali merasakan bagaimana rasanya disandari tubuh manusia yang hangat, merasakan lebih dekat udara yang mereka hirup dan hela, mendengarkan cerita-cerita yang mereka saling dialogkan atau hanya sekadar mereka dialogkan dengan angin. Kami ingin tahu rasanya memiliki tangan yang diayun-ayunkan angin.

Dan lihatlah di ujung sana, beberapa truk akan sampai ke sini. Mereka akan memangkas habis tubuh kami, untuk menciptakan butir-butir gula yang kau sebut tadi. Iya, mereka akan memotong tubuh kami, meniadakan kami. Lalu tempat ini akan ditanami keluarga tebu yang baru lagi…”

“Tapi, tebu…”

“Ya barangkali inilah pengorbanan yang paling menyedihkan. Sudahlah, petai, mereka semakin dekat. Sampaikan salam kami untuk tebu-tebu baru yang nanti akan menghuni kebun ini…”

—END—

*terinspirasi dari mata kuliah PKSDA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s