Ini Kisah Mereka, Mengapa Kita Harus Mengurusinya?

(Hari Ke 25)

Saya sendiri tidak pernah tahu sejak kapan saya suka menonton infotainment. Yang saya tahu, setidaknya menonton infotainment jauh lebih menarik daripada menonton sinetron-sinetron karya Indonesia yang terlalu absurd –dengan catatan bahwa infotainment bukanlah acara favorit saya. Banyak kok acara televisi yang lebih baik, lebih menarik, dan tentunya lebih bermanfaat dari sekadar sebuah acara yang hanya menyiarkan aib dan problema para penghibur televisi.

Seinformatif-informatifnya suatu infotainmentinfotainment hanya hobi mengumbar aib orang-orang yang menganggap diri atau dianggap orang lain sebagai selebritis. Ya, karena memang tidak dipungkiri, sseringnya kisah yang mengumbar keburukan seseorang memang lebih “menjual” daripada kisah membahagiakannya.

Jika kamu termasuk pemirsa televisi yang baik dan beberapa kali menonton infotainment, pastilah mengetahui berita  selebriti yang baru-baru ini hangat dibicarakan. Betul sekali, konflik antara Ardina Rasty dan Eza Gionino. Karena sebelumnya saya jarang menonton televisi –maklum, di kost tidak ada televisi—saya pun termasuk yang baru paham atas kasus ini.

Jadi, singkat ceritanya dan sepengetahuan saya, Ardina Rasti yang dulu adalah pacarnya Eza melaporkan Eza ke polisi atas tuduhan penganiyayaan yang dialami Rasti sendiri ketika masih menjadi pacar Eza. Kemudian, dengan berurai mata, dalam konferensi persnya, Eza membantah tuduhan itu. Yap, sampai di sini, saya pun bingung, ini bener-bener pengakuan atau tangisan tersebut hanya semacam pencitraan?

Karena pembeberan bukti foto fisik Rasti yang penuh luka kekerasan dirasa belum cukup, akhirnya ia membeberkan sebuah rekaman berdurasi empat puluhan menit yang berisi pertengkaran antara ia dan Eza yang di dalamnya ikut terdengar bebunyian barang dibanting dan jeritan-jeritan Rasti.

Eh, saya kok jadi pemerhati sejati gini?

Ah iya, pokoknya seperti itulah konflik di antara mereka berdua yang hingga kini belum difinalkan oleh ranah hukum. Rasti masih berjuang keras agar Eza diadili. Sementara Eza pun tidak kalah keras meyakinkan orang-orang bahwa segala tuduhan tersebut hanyalah kebohongan.

Sebagai isu hangat, kasus ini pun tidak terlepas dari dunia jejaring sosial semacam twitter. Kemarin pagi, linimasa saya ikutan latah menanggapi kasus ini. Tentu saja lebih banyak yang berpihak pada Rasti. Alasannya sederhana, untuk apa membela banci yang tidak segan-segan melukai perempuan yang konon dicintainya hanya karena kesalahan sepele? Duh, jika Eza benar-benar melakukan semua itu, Eza adalah sebenar-benarnya banci.

Namun sampai sekarang pun saya nggak tahu mau memihak siapa atau malah enggan memihak siapa pun. Seperti judul di atas, saya sendiri sering bertanya-tanya, mengapa ya saya suka mengurusi masalah selebritis semacam mereka? Mengapa kisah mereka begitu menarik untuk diikuti? Mungkin karena sesungguhnya senang mencampuri urusan orang lain merupakan naluri dasar manusia (semacam saya). Bahkan mengetahui detil cerita seperti di atas seharusnya sudah membuat langkah saya bergerak terlalu jauh. Tetapi sayangnya, saya tidak tahu cara untuk mengembalikan atau setidaknya menghentikan langkah ini. Saya pun nggak tahu, akan mau sampai mana mengikuti drama ini. Namun sekali lagi, ini urusan mereka, mengapa kita harus mengurusinya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s