Prolog Sepi

(Hari ke 21)

Seperti

Kelabu ungu yang memenuhi ruang hatiku

Ungu biru yang mengindahkan setiap langkahku

Dan pasir putih yang mendengar denyut batinku

 

Setiap langkah kecil

Yang membenamkan kata-kataku

Ketika tangan ini tlah bersandar di bahumu

Berhenti menentang angin

Berhenti menepis badai

 

Bilakah,

Setiap tetes air mataku berarti untukmu?

Bilakah,

Setiap nafas kecilku

Terasakan oleh jantungmu?

Aku hanya sendiri…

Tak berarti…

Berjelaga hingga terbunuh sepi

 

Haruskah ku merintih?

Haruskah ku menangis?

Untuk sebuah kehilangan

Yang telah melesapkan sjuta kataku

Dan ribuan deskripsi

Tentang dunia fana ini

 

Aku sepi…

Aku berlari

Mencoba mencari satu yang pasti

Dan menanti

Daun-daun yang memutih

Langit biru yang berkelam diri

Sampai menenggelamkanku

Dalam kisah yang mendebu

 

Secara tidak sengaja menemukan puisi di atas ketika sedang membereskan file-file yang berceceran di laptop. Pada kolom date modified tertulis 07/04/2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s