Mungkin Ini Terlalu Pagi

Aku tahu, sekarang terlalu pagi untuk mengingatmu –apalagi menulis sebuah surat untukmu. Tapi, entahlah. Barangkali kau lah yang memang sedang sengaja mengitari kepalaku, membiarkanku ribut akan ingatan tentangmu.

Hari ini pagiku sederhana. Dingin yang tidak ingin mengalah dan dicelah. Rintik-rintik hujan sisa semalam. Embun-embun yang membasahi bingkai jendela. Serta buku dan kertas-kertas di lantai terserak sembarangan.

Sarapanku sudah kutandas habis barusan. Bukan menu istimewa. Hanya mie goreng yang ditumis dengan sawi, daun bawang, dan kubis bersama sebuah perkedel kentang sebagai lauk pendamping. Aku yang tidak pandai memasak ini membelinya di warung makan ujung jalan. Mungkin suatu hari aku harus belajar memasak, setidaknya agar setiap pagi, hanya untuk sarapan, aku tidak perlu bertengkar dengan kaki yang malas untuk jauh berjalan.

Udara di luar masih tampak pekat meski mentari telah cukup meninggi. Aku tahu, sekarang kau mungkin sedang duduk di depan suatu pintu. Memandangi kupu-kupu yang menghisapi serbuk bunga di halaman depan. Menghirup-helakan oksigen dan karbon dioksida yang seakan-akan tidak ada.

Kau di sana. Menunggu pintu itu terbuka. Lalu, ketika decit pintu yang bergerak mulai terdengar, kau akan terbangun dari dudukmu dan melangkah masuk ke dalam suatu ruang di baliknya. Lantas kau hilang. Kau hilang di balik pintu yang tidak pernah terbuka untukku.

 

 

-Jogja, 18 Januari 2013; 09.42.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s