Kantuk yang Suntuk

Harike15

 

Jadi, di mana kah relasi antara kantuk dan suntuk?

Meski sudah dimulai sejak senin lalu, dikarenakan hari Kamis hingga Minggu libur, maka jadilah hari Selasa, 15 Januari 2013 ini sebagai hari ke lima dari tujuh hari ujian akhir semester pertama saya di Teknik Kimia UGM ini.

Berhubung saya bukan orang cerdas, genius nan pandai setingkat dewa, untuk (berusaha) memperoleh nilai yang baik sehingga dapat membanggakan orang tua dan setidaknya membuat uang yang telah mereka keluarkan tidak sia-sia, saya berusaha untuk belajar. Dan di sini lah masalahnya. Saya bukan seseorang yang senang memerhatikan apalagi memahami celotehan dosen di dalam ruang kelas. Membosankan. Saya lebih memilih menggambar, mencorat-coret di kertas seadanya atau mengambil ponsel, membuka browser, kemudian menjelajahi blog orang yang terdapat pada bookmarks. Di samping itu, saya bukan seorang pencinta belajar yang setiap harinya, pulang kuliah langsung membuka catatan, me-review pelajaran, dan melatih ingatan. Sungguh, saya teramat jauh dari kriteria tersebut. Mungkin salah satu penyebab mengapa saya tidak seperti itu adalah orang tua saya tidak pernah menyuruh saya belajar (dan saya teramat sangat mensyukuri ini). Ya, bapak dan ibu selalu memberi kebebasan untuk anak-anaknya mengenai belajar atau tidak. Namun kebebasan ini tidak berlaku pada hal beribadah. Bapak dan ibu memang tidak akan dan enggan bosan mengingatkan tentang pentingnya sholat, mengaji, dan lainnya namun tidak untuk belajar.

Kembali ke topik semula.

Jadi, pada intinya, karena kebiasaan buruk tersebut, saya selalu butuh tekanan untuk belajar. Mungkin tekanan tersebut dapat berupa tekanan dari pemandangan teman-teman yang berkemajuan pesat atau dapat berupa tekanan waktu yang merupakan paling manjur. Hal ini lah yang membuat saya tanpa sadar menjadi penganut sejati SKS (Sistem Kebut Semalam). Sayangnya dan menyebalkannya, teori yang saya anut ini tidak sebanding dengan kemudah-mengantuknya saya. Iya, saya tipe orang yang mudah mengantuk dan suka tidur. Bahkan ketika kami sedang menonton acara Indonesia Mencari Bakat di televisi, ibu menyuruh saya untuk mendaftar dengan membawa bakat saya, yaitu tidur. Iya, ibu saya paling pandai membuat anak perempuannya tertawa.

Rasa kantuk senang menghampiri saya. Apalagi saat dalam periode ujian seperti ini. Ketika saya mengalihkan perhatian pada socmed, internet atau game, rasa kantuk seakan tidak pernah ada. Namun entah mengapa, ketika membaca materi kuliah, rasa kantuk tiba-tiba berlipat ganda. Jadi, sebenarnya ini konspirasi siapa?

Pada akhirnya, saya hanya dapat berdoa semoga rasa kantuk dapat datang dan pergi sesuai dengan perintah saya. Agar kantuk adalah kebutuhan. Agar kantuk bukan lagi penyebab suntuk.

 

*PS : Semua kata “belajar” yang dimaksud dalam teks di atas adalah belajar dalam makna sempit

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s