Hujan Turun Lagi

Mentari sembunyi. Awan meninggi. Hujan turun lagi.

Membelah diri. Terbagi pada titik-titik segi. Hujan jatuh di sana-sini.

Pada tanah yang kering bagai roti. Pada bumi yang bulat menyudut sepi.

Hujan turun lagi. Basahi hati yang hampir mati. Basahi kaki yang tak ingin pergi.

 

Hujan turun lagi. Berkah bagi yang mengerti. Bencana bagi yang merusak diri.

Hujan turun lagi. Di kota kecilku ini. Basahi halaman berrumput teki. Sejak senja hingga gelapnya hari. Seakan tak takut tidak bersisa lagi.

Hujan turun lagi. Mengetuk-ngetuk jendela berterali besi. Membukakan pintu untuk kenangan kembali. Membiarkan perindu dibenamkan sunyi.

Hujan turun lagi. Mengisi kekosongan secangkir elegi. Merengsek, mengosongkan segala isi.

 

Jarum-jarum tegar berotasi. Batasan waktu dihidupkan lagi. Hujan dipaksa pergi.

Hujan enggan turun lagi. Rerimbun rindu enggan lesap, enggan pergi. Pun, kenangan teguh menyenyak pada rerusuk nadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s