Kejutan Istimewa

Aku sendiri tidak pernah menyangka jika keberadaanku bisa begitu berarti di dalam kehidupannya. Akulah yang pada suatu hari dahulu membuatnya begitu bahagia karena memperoleh juara 1 di kelas. Akulah yang berhari-hari kemudian, setiap pagi dipuja dan dipujinya dengan senyum terkembang indahnya. Akulah yang pada waktu-waktu setelahnya selalu menemaninya ke mana pun dan kapan pun. Aku yang menemaninya ketika ia pergi dengan keluarga atau teman-temannya. Aku juga yang menemaninya ketika yang lain sibuk dengan suatu urusan, dan enggan untuk menemaninya meski hanya sekadar berjalan-jalan. Pagi, siang, sore, malam. Ke sekolah, ke taman, ke bioskop. Aku selalu ada untuk bersamanya.

“Kejutaaan!!!” Seorang wanita paruh baya yang ia panggil ‘ibu’ berseru ketika ia membuka pintu kamarnya pada pagi itu. Kemudian wanita tersebut mengulurkan sebuah kotak berwarna merah muda yang segera ditangkapnya.

“Boleh kubuka sekarang?”

“Tentu saja! Itu hadiah spesial untuk angka satumu…”

Dengan tidak sabar, ia melepaskan ikatan pita berwarna merah yang mengaitkan tutup kotak tersebut. Dan setelah dibuka… Matanya yang bulat dengan kecoklatan di tengahnya seketika berbinar diiringi bibir yang melengkung bak kurva dengan diskriminan positif. Untuk pertama kalinya, aku melihat senyuman seindah itu dari seorang manusia. Senyuman yang tentunya ada karena keberadaanku di dalam kotak itu. Karena aku adalah kejutan istimewa itu.

Aku hafal betul wajah manisnya. Wajah yang selalu memamerkan dua bola mata yang tak jenuhnya memandangiku ketika aku masih menjadi suatu barang sajian di etalase toko bernama “Exito Shoe” itu. Hampir setiap hari selama satu bulan, ia berjalan melewatiku. Aku tahu, ia pasti sengaja memilih jalan pulang yang membuatnya melewatiku, yang membuatnya mampu memandangiku dari trotoar depan toko meski berbataskan kaca bening dengan ketebalan 2 cm.

—-

Sebelum sebulan yang lalu, ia hanyalah sosok asing di dalam kehidupanku. Sebelum ketika pada suatu hari, bersama ibunya, ia berjalan-jalan menyusuri jalanan dengan deretan toko-toko di tetepinya. Aku masih belum mengenalnya ketika dua bola matanya yang penuh cahaya menjatuhkan pandangan padaku. Aku, sepatu flat berwarna merah maroon dengan pita merah muda di sisi atas badanku.

Kupikir ia sama saja dengan gadis-gadis yang setiap hari melewatiku dan hanya sebatas menaruh pandangan padaku. Iya, sudah, itu saja. Mereka tak pernah berniat untuk menukarku dengan lembaran-lembaran bergambar wajah pahlawan dan bernominal angka yang memenuhi dompet mereka. Namun berbeda dengannya…

Pada hari itu, rengekan dan wajah memelasnya memang tidak mampu membuat ibunya setuju untuk mengizinkannya membawaku.

“Iya, jika nanti kamu berhasil menjadi juara satu…”

Dan di hari-hari berikutnya, ia menjadi seseorang yang selalu ada pada daftar pandanganku. Wajahnya masuk ke dalam yang-paling-dicari di dalam kotak ingatanku. Dalam waktu sekejap, ia mampu menjadi sesuatu yang amat istimewa untukku.

Di rak sepatu di pojokan garasi itu, aku tidak sendiri. Ada empat pasang sepatu di kanan, bawah, dan atasku. Namun dari kami semua, hanya akulah sepatu miliknya. Hanya akulah yang sejak lima bulan lalu, setiap waktu diraih oleh tangannya.

“Hei, itu pemilikmu datang!” seru sepatu Ayah dari atas.

Senyuman seketika menjuntai di bibirku kala melihat ia dengan rok polos cokelat tua selutut dipadankan kaos hijau pupus dan cardigan hijau kecoklatan berjalan menuju kami. Cantik. Ia begitu cantik untuk seorang manusia. Saat langkahnya tepat sampai di depan kami, tangannya yang kuning langsat menjulur, meraihku, dan membawaku menjauh dari keempat pasang sepatu yang tertinggal.

Setelah mengenakanku, ia segera melangkah keluar rumah. Seperti biasa, aku akan menemaninya memulai perjalanan. Kira-kira, hari ini kami akan ke mana ya? Ke sekolah? (Hei, ini kan hari Minggu!) Mungkin ke toko buku? Atau ke kebun binatang seperti bulan lalu? Ke taman? Ke toko roti? Ah, entahlah, ke mana pun ia pergi, aku tidak akan menolak karena aku memang tidak pernah kecewa dengan tempat yang ia kunjungi. Ia selalu pandai memilih tempat yang baik dan menyenangkan untuk dipandangi.

Setelah turun dari bus kota di suatu halte, ia berjalan menuju area jalan yang kukenal dengan baik. Jalanan yang di setiap tepinya berjejer macam-macam toko. Mulai dari toko bunga, toko buku, toko roti, toko tas, toko sepatu, dan sebagainya.  Jadi, akan ke toko yang manakah ia?

Dengan aku sebagai pijakannya, langkahnya terhenti pada sebuah toko yang di bagian paling depannya terdapat etalase besar berkaca bening lebar. Toko dengan dinding berwarna cokelat berpadu kuning tua. Toko dengan hiasan pita dan bunga di bagian atas pintu masuk. Toko yang di depannya tertata rapi pot-pot bunga. Ya, toko di mana ia menemukanku dahulu.

Kali ini ia tidak hanya berhenti di depan toko dan memandangi apa yang terpampang di balik kaca bening etalase. Ia mengayunkan kakinya memasuki toko tersebut. Ia mengamati satu per satu sepatu yang dijejer rapi di setiap rak atau almari. Sepatu dengan beragam warna, jenis, dan model terpapar rapi di sana. Hingga setengah jam kemudian, setelah berkali-kali berkeliling, berpikir, dan mengenakan sambil mematut diri di depan cermin, senyumnya merekah pada sebuah sepatu flat berwarna hijau toska yang ada di rak di pojok toko. Sepatu yang sederhana namun terlihat indah karena aksen jahitan benang di setiap sisi sepatu tersebut.

Sekarang aku mengerti, ia membeli sepatu itu untuk menjadi teman baruku. Hey, gadis ini sungguh perhatian padaku. Usai membayar, ia melangkahkan kakinya yang masih ditempeli olehku keluar dari toko tersebut. Berjalan menuju halte, naik bus kota menuju rumah, pulang.

Sesampainya di rumah, di kamarnya ia membuka bungkusan kotak “teman baru”-ku itu. Dipakainya, mematut diri di depan cermin, dan tersenyum bahagia yang membuatku terpengaruh untuk bahagia. Kemudian ia meraihku dengan tangan kirinya karena tangan kanannya memegang si ijo toska. Mungkin kami akan dibawa ke rak sepatu di garasi. Namun, kenyataannya mengapa hanya si ijo toska yang diletakkan di sana? Tangan kirinya masih memegangku. Apa kita akan pergi lagi?

Tunggu, ia tidak berjalan menuju luar rumah. Ia malah berjalan menuju belakang rumah. Halaman belakang yang di sana terdapat sebuah ruangan dua kali tiga meter yang gelap : gudang. Ya, ternyata ia memang mengarahkan kakinya ke tempat pengumpulan barang yang sudah tidak berguna itu. Tetapi, mana mungkin ia akan membuangku?

Jawabannya entahlah. Setelah membuka pintu gudang, ia menggeletakkanku di salah satu ruang kosong di lantainya yang berdebu.

“Hahaha. Sudah waktunya kau dibuang ya?” seru sepasang sepatu lusuh yang berada tak jauh dariku. Tawanya bersama barang-barang buangan lain terdengar menggema di ruang sempit itu.

Dibuang? Hahaha, mana mungkin? Aku ini terlalu spesial untuk dibuang. Pasti mereka berbohong. Pasti besok, eh bukan, nanti sore atau sebentar lagi, ia akan kembali ke sini. Mengambilku, menaruhku di rak sepatu, dan kembali menemaninya berjalan-jalan keesokan harinya. Aku yakin seperti itu kenyataannya. Mana mungkin ia membuangku yang sudah lima bulan ini selalu menemaninya, selalu mendampinginya? Bukankah aku juga yang lima bulan ini berusaha menjadi kawan baiknya? Hahaha, jadi apa pula alasan ia membuangku? Ia terlalu baik untuk tega membuangku.

Namun, bagaimana jika mereka benar bahwa aku telah dibuang? Sol badanku memang sudah mulai mengelupas. Warna tubuhku juga memang sedikit memudar. Tapi aku yakin, aku masih cukup baik untuk menjadi kawan yang spesial untuknya.

Ah, atau mungkin memang begini adanya?

Ia benar-benar membuangku?

Ia sudah tidak lagi membutuhkanku?

Entah seberapa tinggi ekspektasiku, aku tidak pernah menyangka bahwa keberadaanku bisa sebegitu tidak berartinya di dalam kehidupannya.

 

END.

 

 

 

Jogja, 17 Desember 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s