Do You Remember Me?

Hi, apa kabar (teman lama)? Kuharap baik, di mana pun kamu berada. Karena aku tidak ingin kamu membaca surat “aneh” ini dalam keadaan tidak baik. Aku takut kalau nantinya surat ini akan terlihat lebih aneh :p . Ah, mungkin seharusnya terlebih dahulu aku bertanya padamu, apa kamu masih mengingatku, teman sewaktu kanak-kanakmu dulu? Semoga iya -dan lantas kamu akan makin tertarik untuk membaca surat ini. Kalau pun tidak, kusarankan padamu untuk melanjutkan membacanya, hingga setidaknya akan ada harapan kecil yang akan menyenggol ingatanmu, dan mengembalikan sosokku dalam pikiranmu. Yah, intinya apapun yang terjadi, kamu harus menyelesaikan membaca surat –yang sudah susah payah kubuat- ini.

Apakah ini surat cinta? Sesungguhnya tidak. Bahkan kalaupun iya, aku tidak pernah berharap “cinta” itu tertuju padamu. Bukan karena apa-apa, tapi aku bisa jadi gadis terkutuk bila itu terjadi. Jika bukan kamu, maka masa lalu lah yang sebenarnya tempat “cinta” itu menuju. Iya, aku cinta pada masa itu, masa yang akan terlalu romantis jika aku menyebutnya sebagai kenangan, tapi tak apa kan? Aku sendiri tidak tahu pasti kapan pertama kali kita bertemu, dan bagaimana ceritanya kita bisa menjadi teman. Yang pasti (dulu) aku temanmu, (dulu) kamu temanku.

Oh ya, selain satu kelas, dulu kita juga adalah tetangga yang terpisah delapan rumah dan sebuah jalan. Kau ingat, dulu pernah pada suatu siang sepulang sekolah, kau berdiri di depan rumahku sambil berkali-kali meneriakkan namaku sampai aku menampakkan diri, hanya untuk berkata bahwa esok hari kau ingin meminjam uangku? Belum sempat aku memberikan tanggapan, kau berlari pulang ke rumahmu. Aneh tapi lucu. Aku sendiri tidak tahu, yang kamu katakan waktu itu adalah janji, perintah, atau malah ancaman? Keesokan harinya, benar saja, aku meminjamkan sebagian dari uang sakuku yang hanya seribu rupiah untukmu. Katamu, uang jajanmu habis dan kau akan mengembalikannya esok hari. Tapi, bagaimana hari sebelumnya kamu bisa tahu bahwa kamu akan kehabisan uang? Atau kamu memang menyengajanya? Ah, ya sudahlah. Itu hanyalah peristiwa sebelas tahun silam yang seharusnya kita kenang dengan tawa, bukan dengan pertanyaan rumit macam itu. Mmm… Sampai bagian ini, kamu sudah mengingatku kan?

Tamat TK kamu pindah rumah. Sebenarnya tidak terlalu jauh, masih dalam satu kota. Tapi itu mengakibatkan kau takkan sesekolah lagi denganku. Dan kita juga tak pernah saling mengunjungi. Oh ya, asal kamu tahu, kamu adalah teman laki-laki pertama dalam hidupku. Bukankah itu teramat spesial?

Dan sebelum aku menutup surat ini, aku ingin minta maaf karena sekitar lima tahun yang lalu, aku menangkap sosokmu dalam bus yang kutumpangi. Tapi jujur, aku tak punya keberanian untuk menyapamu duluan. Dan akhirnya, pertemuan pertama dan terakhir selama sebelas tahun itu aus begitu saja. Mungkin jika kelak kita dipertemukan kembali, kita harus saling menyapa. Lalu biarkan gulir-gulir napas dengan sendirinya melayarkan cerita. Terima kasih telah mau membaca surat ini.

 

Dari teman lama-mu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s