Tetakdir

Bagaimana jika pada akhirnya Tuhan lupa untuk mempertemukan kita?

 

——-

Sya

Di luar hujan masih mengguyur deras ketika untuk kesekian kalinya kusesap espresso dalam cangkir putih mungil itu. Kulirik arloji yang melingkar di tangan kiriku. Memikirkanmu benar-benar membuat waktu seperti kata asing di kepalaku. Kalau tidak diabaikan, ya dilupakan. Sudah setengah jam aku duduk sendiri di meja paling dekat pintu masuk kedai kopi berarsitektur mediteranian ini. Dan harusnya kau tahu alasanku memilih duduk di dekat pintu masuk. Apalagi kalau bukan agar aku dengan mudah mengetahui siapa yang membuka pintu kedai –membuat lonceng di atasnya bergoyang sehingga menimbulkan suara “cringgg” yang nyaring- dan aku selalu berharap sosok itu adalah dirimu. Kau, yang kini menjadi alasan mengapa sejak pukul empat kakiku menjejak kedai kopi ini (kembali). Seketika sebuah benang tak terlihat mengait pada pikiranku, dan menghubungkannya pada mesin pemutar “masa lalu”.

“Tiga tahun lagi, kita ketemu disini, ya?” Aku hanya terdiam ketika kau dengan tersenyum mengutarakan keinginanmu itu –sebelum esok harinya pesawat akan membawamu jutaan hasta menjauh dariku. Aku tak tahu itu sebuah janji atau apa, tapi yang kutahu, tiba-tiba udara depan kedai kopi di sudut jalan itu menjadi begitu dingin untuk kuhirup. Bahkan, senyumanmu menjadi terlalu pekat untuk kutatap. Beberapa minggu sebelumnya, ketika kita untuk kesebelas kalinya bertemu di kedai kopi itu (Ah, bahkan aku masih hafal benar setiap pertemuan kita), kau bertanya padaku, apakah aku percaya pada takdir? Aku mengangguk mantap. Hanya orang bodoh yang tidak pernah percaya pada takdir, jawabku. Namun, kau menjadi lebih bodoh ketika mengajakku untuk menebak takdir. Iya, apakah setelah perpisahan itu, kita akan kembali bertemu?

Pertemuan di kedai kopi selalu menjadi hal-tak-sengaja terindah yang pernah kulakukan. Tentu karena kau yang kutemui. Dan seketika bibirku seperti menjadi syaraf tak sadar ketika kita berjumpa –kurasa, begitu halnya dengan bibirmu. Senyuman, tawa, canda seakan menjadi soundtrack sederhana yang diam-diam diputar oleh hati dan pikiran kita. Dan diam-diam pula, tawa canda itu telah mereka jadikan album untuk mereka simpan sendiri.

Kita selalu mencoba untuk saling menjadi pendengar yang baik, hingga pada akhirnya, takdir memaksamu untuk menjauh dariku, untuk tak mengunjungi kedai kopi ini dalam beberapa tahun, dan untuk tak bertemu denganku (lagi). Ayahmu mendapat pekerjaan baru, sehingga kau sekeluarga harus pindah rumah. “Tuhan pasti ingin kita bertemu lagi,” ujarmu, dengan senyuman hangat yang berhasil membekukan dingin malam itu.

Aku hanya terlalu takut untuk mengakut rindu.

Hujan adalah televisi. Dan kenangan adalah tayangan yang sempurna ia putar kembali. Tanpa seorangpun mengetahui, dari balik kaca kedai kopi ini, diam-diam aku menyaksikan adegan itu. Tanpa menyadari sosokmu belum hadir kembali.

Lagi, kuliri arloji –hadiah darimu pada pertemuan ketigapuluh. Pukul lima lebih dua puluh. Perlahan kuhela napas. Aku yakin kau akan datang. Mana mungkin kau lupa pada janjimu?

Atau, aku yang terlalu tolol untuk tak melupakannya?

——-

Rei

 

Hujan lebat selalu membuat segala hal menjadi berantakan. Aku yang seharusnya sudah berada di hadapanmu sejak satu jam lalu, kini hanya menceracau sendiri setelah turun dari pesawat yang sebelumnya keberangkatannya harus ditunda selama satu jam. Aku harus segera menemuimu!

Rintik hujan membuatku berlari untuk masuk ke dalam taksi yang baru saja kuhentikan. Segera kusebutkan nama kedai kopi itu sebelum ditanya akan kemana. Arloji –hadiah darimu sebagai balasan hadiahku- di pergelangan tanganku menunjukkan pukul lima lebih dua puluh. Hanya orang tolol yang melanggar janjinya sendiri!

Jalanan seakan menjadi sebuah pemandangan bodoh untuk kulihat dari balik kaca pintu taksi yang mengembun. Aku benci jalanan kota ini, pun dirimu. Bahkan, di suatu pertemuan kita kala itu, kita habis-habisan mencemooh pemerintah yang tak becus mengurus kota. Ah, entah mengapa aku selalu merasa kita cocok dalam berbagai topik pembicaraan. Bahkan aku sempat berpikir bahwa jika kehidupan sebelumnya itu ada, kita dulu adalah sejoli dengan ikatan batin yng teramat kuat. Dan kau hanya tertawa jenaka ketika aku menceritakannya. Andai kau tahu, terkadang aku berharap pemikiranku itu akan menjadi sebuah takdir untuk kehidupan sekarang.

Tak ada yang menyangka pandangan pertama di kedai kopi itu menjadi awal segalanya. Awal mengapa kita mau memulai “cerita” ini. Tapi anehnya, kita tak pernah saling bertanya dimana kampusmu-kampusku, berapa nomor teleponmu-nomor teleponku, dan pertanyaan-pertanyaan menjenuhkan lainnya. Namamu-namaku, itu saja yang cukup saling kita ketahui. Selanjutnya, biarkan takdir yang mempertemukan (dan memisahkan) kita.

Tiba-tiba sebuah kabut tipis –yang tak pernah kuketahui asalnya- muncul di depan mataku. Perlahan, kabut tembus padang itu meluruh, dan dibaliknya, bayangmu yang tersenyum seakan menggaduhkan kehampaan udara. Ah, rindu mulai memfatamorganakan dirimu.

Seruan dari sopir taksi seketika membuyarkan imajiku. Aku melongokkan kepala. Mencoba menerawang dari balik kaca berembun –yang kemudian kuusap dengan kepal tangan. Tiga tahun tak ke kedai kopi itu membuatku butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa taksi yang kunaiki telah berada tepat di depan terasnya. Setelah mengulurkan beberapa lembar uang dan keluar dari taksi itu, kuayunkan kaki. Bersiap menujumu. Tapi, bagaimana jika kau tak ada di dalam? Bagaimana jika kau lupa padaku dan permohonanku tiga tahun yang lalu? Atau, bagaimana jika kau sudah datang dari tadi, dan kini sudah pulang? Lantas, apakah kau akan membenciku karena telah membuatmu kecewa? Beberapa langkah untuk masuk ke kedai kopi itu membuat pikiranku memproduksi berbagai macam ekspektasi.

Kuhela napas sebelum mendorong pintu kaca hitam dengan kayu coklat di pinggirannya. Seketika lonceng di atas pintu bergoyang, menimbulkan suara “cringgg” yang nyaring. Ragu-ragu kembali kuambil langkah, seraya melayangkan pandangan ke setiap sudut kafe yang amat sepi sore itu. Tak ada satu pun bangku yang mendudukkan dirimu disana.

Lututku lemas seketika. Kau tak ada? Kutarik kursi di balik meja terdekat dari pintu masuk. Di atas meja dengan nomor 1 itu, sebuah cangkir putih kosong menguarkan aroma espresso pekat. Tepat ketika kuperhatikan cangkir putih itu, kudapati sebuah kertas memo putih terjepit di bawahnya. Lalu, kutarik kertas terlipat itu. Kubuka, dan isinya :

Rei, aku tahu kau akan datang. Maaf, aku tak bisa terlalu lama menunggumu.

Pukul enam tiga puluh kereta harus membawaku kembali menjauh darimu.

Ketika kau membaca pesan ini, percayalah, takdir akan mempertemukan kita kembali.

-Sya

Refleks kulirik arloji. Enam lebih lima belas menit. Apapun yang terjadi, aku harus segera  menemuimu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s