Sepasang Sepatu

Angin pagi menggerakkan anak rambutku perlahan. Kabut tebal yang sejak semalam merengkuh kota, kini sedikit demi sedikit mulai menghilang, menyisakan titik-titik embun di tiap sudut benda. Hawa hangat mulai menyeruak di segala sisi, bersamaan dengan mentari yang perlahan-lahan menaiki udara. Merah, kuning, dan jingga tercerai dari tiap sorotan matahari kala itu.

Aku, berdiri mematung di sana, di tepi danau mungil yang tanpa perlu disentuh, semua orang bisa memastikan bahwa airnya dingin, atau mungkin bisa membuatmu mati kedinginan jika berendam selama berjam-jam. Perlahan kuayunkan kaki, mendekati sebuah bangku besi yang kakinya terpatri di tanah –di bawah sebuah pohon Akasia raksasa. Hampir setiap hari selama dua tahun ini aku mengunjungi tempat ini. Namun, ini kali keempat aku dapat memandangi semuanya. Ya, hari-hari sebelumnya aku hanya dapat merasakan semua keindahan ini, tanpa perlu ditangkap sensor syaraf mataku.

Kualihkan pandanganku, kembali menuju danau mungil tadi. Sekejap pun ingatanku teralih padanya, perempuan berambut sebahu yang gemar mengumpulkan benda-benda aneh, seperti kerikil berbentuk segiempat yang ia temukan di taman, atau botol air mineral berwarna ungu, yang juga ia anggap sebagai sesuatu yang aneh. Alhasil, karena kegemaran anehnya itu, kamarnya penuh dengan benda-benda yang sebagian orang menganggapnya sebagai barang rongsokan.

Kami dipertemukan pada suatu ketidaksengajaan –yang pada akhirnya kusebut takdir. Kala itu, aku sedang hendak menyeberang setelah memeriksakan mata di sebuah rumah sakit ketika seseorang tiba-tiba menggenggam lenganku.

“Mari saya bantu,” ucapnya lembut.

Aku mengangguk, tersenyum, lantas berkata terima kasih.

Selanjutnya, kebetulan atau entah memang takdir, aku kembali bertemu dengannya. Kala itu, kami bertemu di cafetaria rumah sakit. Sama seperti kasus-kasus pada umumnya, kami memulai dengan perkenalan. Namanya Khailila. Nama yang indah untuk seorang gadis baik dan amat menyenangkan sepertinya. Kecocokan kami bertambah ketika kami saling mengetahui bahwa kami sama-sama seorang guru. Hanya bedanya ia seorang guru di sebuah sekolah dasar negeri, sementara aku seorang guru piano di suatu sekolah khusus tuna netra. “Aku bisa bermain piano sejak berumur delapan tahun, dan aku kehilangan indera penglihatan ketika berumur enam belas tahu, jadi bukan suatu tidak mungkin kan aku bisa bermain piano tanpa indera penglihatan?” jawabkku ketika ia menyangsikan seorang tuna netra yang bisa bermain piano.

Selang satu tahun berlalu, aku merasa amat mengenalnya. Ia supel, dan terlalu lincah untuk seorang penderita gagal ginjal. Ya, ia memang menderita gagal ginjal. Bahkan, aku pernah menawarkan diri untuk mendonorkan ginjalku, sesaat setelah aku menolak permintaannya untuk memberikan kornea matanya padaku.

“Aku memiliki dua ginjal, La, jadi tidak akan berdampak apa-apa jika aku memberikan satu untukmu. Biarkan aku memberikan satu ginjalku, tanpa kau perlu memberikan kornea matamu.”

Ia menggeleng, “Pria sepertimu terlalu baik untuk hidup hanya dengan satu ginjal. Simpan ginjalmu, dan biarkan gadis yang hampir mati ini memberikan kornea matanya.”

Hasilnya? Aku menolak, pun dia. Dan kami kembali pada keterbatasan hidup masing-masing. Seorang tuna netra akan baik-baik saja meski seumur hidupnya ia tidak mendapat donor mata. Sementara dia? Tak ada yang tahu sampai kapan ginjalnya akan bertahan. Hinngga tepat hari ke-35 setelah percakapan itu, hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Ginjalnya sudah rusak total, dan ia diam-diam menghelakan napas terakhirnya. Seharusnya hal itu memang bukan suatu kabar yang mengejutkan, namun semuanya tetap tampak menyesakkan. Dan tepat tiga hari setelah peristiwa itu, operasi donor mataku dilakukan. Kornea mata milik seseorang yang tak ingin diketahui identitasnya, tapi dokter berjanji akan memberitahuku sebulan kemudian seperti permintaan si pemilik kornea mata. Hingga pada akhirnya aku tahu, Khailila adalah pemilik kornea mata yang sekarang menempel di rongga mataku.

Kupejamkan mata, mencoba menghentikan mesin perekam di kepalaku. Hari ke-782 setelah pertemuanku dengannya. Tepat pada hari ulang tahunnya –ulang tahun pertama tanpa kehadirannya. Ya, begitulah akhir kisah ini. Ia pergi, dan aku tinggal. Terpaku menatap takdir Tuhan, dengan matanya. Seketika terbesit sebuah kalimat yang pernah ia ucapkan padaku:

“ Kita adalah sepasang sepatu. Kiri dan kanan. Kita tak pernah menapak bersama-sama. Tapi kita tahu, kita memiliki tujuan yang sama. ”

 

 

PS : Terima kasih untuk Sheila On 7 atas inspirasi nama “Khailila”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s