Senja Sendu

Senja semestinya tak sesendu ini

Ada banyak bahagia yang seharusnya dibawa angin sore

Ada banyak senyuman yang seharusnya ditinggalkan matahari yang tak kunjung pergi

 

Namun tak begitu

Kelabu selalu datang di tempat yang tak pernah kita duga

Air mata bisa jatuh kapan saja, entah di cuaca apa

 

Mungkin kita yang terlalu sibuk percaya bahwa duka tak pernah ada

Hingga akhirnya bebola bening menyegarakan pipi

Beriringan dengan takdir yang jatuh dari langit

Tanpa sebuah pun perkara

Tanpa senoktah pun problema

 

Lantas duka menjatuhkan diri

pada tempat yang ia suka, termasuk hati manusia

Ditepuk-tepuknya dada kita,

dan sesegera mungkin menutupnya

dengan pintu baja yang tak tampak

Yang tak sekalipun terlihat oleh sang indra

Agar tak sedikit pun cahaya yang mampu menghidupkannya

 

Namun, ada kalanya, kita diharuskan percaya

bahwa oleh waktu, kelabu mampu berurai menjadi jingga

DAY #1 : Sepuluh di Antara Tak Terhingga

#MagicalMay2012

Tulis 10 hal yang kamu rasa pantas untuk kamu syukuri dalam hidupmu. Akhiri list kamu dengan kata “Terima kasih” tiga kali.

Ketika membaca tugas pertama tersebut, pada awalnya aku hanya menemukan beberapa hal yang benar-benar-kusyukuri. Hingga akhirnya hal-hal lainnya baru kutemukan setelah kucari-cari. Lucu kan, dari sekian tak terhingga hal yang (harusnya) kusyukuri, aku tidak dapat menemukan sepuluh hal saja? Iya, kuakui, ternyata aku tidak pandai bersyukur.

Dan berikut kesepuluh hal tersebut.

1. Penguasa Kehidupan

Terima kasih atas semua hal yang telah Engkau anugerahkan, berikan, dan sediakan untukku -termasuk kesembilan hal yang akan kusebutkan di bawah. Dan maaf, atas semua rasa syukur yang sering terlambat dan bahkan lupa untuk kusampaikan. Dan, Tuhan, sekali lagi, terima kasih, terima kasih, terima kasih.

2. Bapak dan Ibuk

Terima kasih untuk semua hal menakjubkan yang kalian ciptakan untuk membuatku tumbuh menjadi gadis yang lebih dari lebih baik. Dengan ketidaksempurnaan, Bapak dan Ibuk menyempurnakan segala kekuranganku hingga aku sebesar ini -tapi sayangnya aku belum mampu memberikan kebanggaan yang cukup besar pada kalian. Dan sungguh, memiliki ayah dan ibu seperti Bapak dan Ibuk adalah hal tersyukur dalam hidupku. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

3. Kelima Arjuna-Srikandi

Dulu, di surga mungkin aku tidak pernah terpikirkan akan menemukan lima orang yang akan mengisi lima kolom di atas namaku dalam kartu keluarga. Ya, terima kasih, wahai Mbak-Mbak-Mas-Mas-dan-Mbak-ku! Karena kalian, dalam keluarga yang super besar ini aku hidup dengan penuh pemikiran dan perbandingan. Selalu ada sesuatu yang baik dari kalian yang kujadikan panutan, juga sesuatu yang buruk yang kujadikan pelajaran :)

4. Naufal Adnan Atthayya

Hei, malaikat kecil! Aku harus bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimmu sebagai keponakanku, namun mungkin juga menggantikan sosok adikku yang tak pernah ada. Darimu, aku belajar apa itu keceriaan. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

5. Udara

Kau selalu lebih spesial dibanding elemen-elemen lain. Terima kasih telah membiarkanku mengambil sebagian darimu untuk kujadikan bahan menciptakan kehidupan. Terima kasih karena selalu mau menerima helaan napasku ketika aku dipermainkan amarah. Dan terima kasih karena telah mau menjadi lawan biacaraku ketika aku bermonolog ria. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

6. 3M (Menulis, Makan, dan Musik)

Aku bersyukur memiliki dan mendapatkan kalian di hidupku. Hal-hal paling menenangkan dan meredamkan ketika emosi mencapai labil maksimal. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

7. Sekolah

Cukup ajaib bukan, aku menempatkanmu di sepuluh hal yang kusyukuri? Karena aku memang bersyukur. Karenamu, aku mampu mecari jalan masa depan yang harus penuh cahaya. Dan karenamu, aku mengenal ratusan orang hebat yang jika tanpamu, apa aku bisa mengenalnya? Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

8. Sahabat, teman, kenalan, dan sosok-sosok yang datang dan pergi

Terima kasih karena telah berkenan memasuki atau hanya sekedar mampir di hidupku yang rumit ini. Dan atas semua nasihat, pengalaman, serta pelajaran, kuucapkan terima kasih, terima kasih, terima kasih.

9. Cobaan

Bagaimana rasanya hidup di jalan yang selalu mulus? Ah, pasti membosankan dan tidak akan ada sesuatu yang lebih baik yang akan terjadi berikutnya. Dan di situlah peranmu, “Pengetes Manusia”. Kau membuatku belajar bahwa sabar adalah keajaiban. Ya, terima kasih, terima kasih, terima kasih.

10. Kesempatan

Terakhir, namun hal yang paling tiada duanya dalam hidupku. Karenamu, aku mampu mengetahui berbagai rasa, warna, dan rupa kehidupan. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Dan itulah kesepuluh hal menakjubkan dalam hidupku :)

Itash’ Quote…

Itash’ Quote

Rindu diciptakan agar kita tahu betapa berartinya sebuah pertemuan.

Landon Pigg – Can’t Let Go

>> http://www.youtube.com/watch?v=1dFkxCVF2L8&ob=av2n

 

Can’t Let Go Lyrics

 

Well, you’re the closest thing I have

To bring up in a conversation

About a love that didn’t last

But I could never call you mine

 

‘Cause I could never call myself yours

And if we were really meant to be

Well, then we justify destiny

It’s not that our love died, just never really bloomed

 

No, I can’t let go , no, I can’t let go of you

You’re holding me back without even trying to

I can’t let go, I can’t move on from the past

Without lifting a finger you’re holding me back

 

And then we saw our paths diverge

And I guess I felt okay about it

Until you got with another man

And then I couldn’t understand why it bothered me so

 

How we didn’t die

We just never had a chance to grow

I can’t let go, no, I can’ let go of you

You’re holding me back without even trying to

I can’t let go, I can’t move on from the past.

Without lifting a finger you’re holding me back

 

And it might not make much sense to you or any of my friends

Though somehow still you affect the things I do

And you can’t lose what you never had, I don’t understand why I feel sad

Every time I see you out with someone new

 

I can’t let go, no, I can’t let go

No, I can’t let go of you

 

(Diambil dari http://www.elyrics.net/read/l/landon-pigg-lyrics/can_t-let-go-lyrics.html)

 

Mungkin karena liriknya yang dalem dan musiknya yang ‘menghanyutkan’ saya suka lagu super-mellow-dan-galau ini. Mungkin juga karena saya jatuh cinta pada suara penyanyinya, Landon Pigg :)

Bisnis Pulsa di Pojok Pulsa

Hari gini, masih mengandalkan uang dari orang tua? Tapi kalau ingin berpenghasilan, bingung mau kerja apa? Solusinya cukup mudah, kita tidak perlu bekerja membanting tulang serta memeras keringat untuk memperoleh penghasilan sendiri, melainkan berwirausaha melalui berjualan pulsa dengan menjadi agen Pojok Pulsa. Pojok Pulsa ialah server pulsa yang telah berdiri selama empat tahun dan telah melayani puluhan juta transaksi pengisian voucher pulsa elektrik di seluruh Indonesia. Dari fakta tersebut, dapat disimpulkan bukan, bahwa Pojok Pulsa merupakan server pulsa yang aman dan amat digandrungi di Indonesia! Layanan pojok pulsa yang mudah, aman, serta menyenangkan sangat sesuai dengan keinginan orang Indonesia di era globalisasi seperti ini, yaitu menginginkan segala sesuatu secara mudah dan simple. Ingin tahu mengapa Pojok Pulsa sangat pantas untuk disarankan? Berikut alasan-alasannya :

-       Pendaftaran untuk menjadi agen pulsa mudah dan tanpa biaya alias gratis.

-       Deposit pulsa dapat dilakukan kapan pun dan berapa pun, tanpa ada masa kadaluara. Tidak ada batasan minimal atau pun maksimal ketika mengisi deposit pulsa elektrik.

-       Transaksi pulsa elektrik dapat dilakukan kapan pun karena layanan transaksinya 24 jam nonstop.

-       One chip all operator. Jadinya cukup menggunakan satu buah handphone untuk melakukan berbagai transaksi.

-       Selain via SMS, transaksi juga dapat dilakukan melalui Yahoo Messenger dan Gtalk. Selain lebih cepat, juga lebih hemat lho.

-       Agen pulsa juga bisa memperoleh penghasilan tambahan dan komisi melalui downline.

Bagaimana, tertarik? Segera saja daftarkan diri untuk menjadi agen Pojok Pulsa. Selain melayani pengisian pulsa elektrik, Pojok Pulsa juga menyediakan layanan Token PLN dan voucher game.

Itash’ quote

Masa lalu diciptakan untuk dua hal : penyesalan atau pelajaran.

Surat Tanpa Perangko

Hari terakhir, kebetulan surat ini untuk kamu.

Aku tahu, terbaca dari judulnya, surat ini memang seharusnya berperangko. Harusnya surat ini kutuliskan pada selembar kertas putih asli, bukan lembar kertas digital seperti ini. Lalu, ketika aku telah menyelesaikan kalimat terakhir bersama titik bulat hitamnya serta membubuhkan tanda tangan mungilku di pojok kanan bawah, kertas putih yang telah berisi tulisan empat paragraf panjang itu kumasukkan ke dalam amplop biru tua –warna kesukaanmu- dengan aksen gegaris melengkung di keempat sudutnya. Kutulis namamu dan alamat lengkapmu di sisi depan. Semoga alamat rumahmu masih tetap sama. Selanjutnya, kutulis pula nama dan alamat lengkap rumahku –yang semestinya masih tergores jelas di ingatanmu- di sisi sebaliknya. Selesai, kuletakkan pulpen dan membuka segel perekat sisi atas amplop tersebut, kurekatkan pada sisi bawahnya. Beberapa detik kuamati amplop biru tua itu. Kuhela napas, untuk meyakinkan diri bahwa aku telah mengumpulkan berjuta keberanian untuk memulai dan menyelesaikan menulis sebuah surat untukmu. Ya, untukmu.

Selembar foto kucing kecilku telah kusertakan di dalamnya. Bukan apa-apa, hanya untuk meyakinkan bahwa yang kuceritakan di surat itu bukanlah bohong. Kau juga suka kucing kan? Jadi, sebaiknya foto kucing gendut pitih abu itu kau simpan rapi di album fotomu, atau dompetmu jika kau mau. Ketika kau ingat dan rindu padaku, kau boleh memandanginya. Anggap saja kucing itu adalah jelmaan dariku. Yah, meski jauh lebih cantik aku. Tapi tak apalah, daripada kau hanya merenung di hadapan hujan sambil membayangkan wajahku yang dibuyarkan angin menghunjam? Lebih baik kau masuk kamar, sembunyi di balik selimut tebalmu yang bisa kutebak pasti warnanya biru tua, lalu pandangilah foto kucing kecilku itu. Atau, kau bisa memandanginya bersama kopi full cream favoritmu? Sambil menonton film kesukaanmu? Terserah saja, yang penting itu tidak mengganggu konsentrasimu untuk mengingatku.

Satu lagi yang penting, jangan terlalu sering menikmati hujan. Bukan hanya karena angin dingin yang dibawanya. Tapi juga karena kau harus berhati-hati pada harapan yang acap kali ia jatuhkan. Seperti yang kulakukan sekarang. Memandangi hujan, dan siap-siap menengadahkan tangan untuk sekadar menangkap harapan-harapan yang ia taburkan. Ketimbang harapan-harapan itu keras berdebam menghantam tanah, bukankah lebih baik kutangkap dan kusimpan di stoples kaca agar suatu nanti untukmu kuberikan?

Tapi aku lupa, terkadang harapan bukanlah sesuatu untuk dijadikan. Seperti halnya surat ini. Surat yang berbatas pada fantasi harapan. Entah ada berapa harapan dalam stoples kacaku yang mengharapkan surat ini tersampaikan padamu. Entah ada berapa harapan yang memerintahkan tanganku untuk segera mengerjakan step-step-menulis-surat-untukmu. Entah ada berapa harapan yang mengutuki kakiku yang enggan terayun untuk memasukkan amplop biru tua itu ke dalam kotak surat. Hingga untuk selanjutnya, biar pak pos yang mengetuk pintu rumahmu. Biar pak pos yang melihat sosokmu membukakan pintu. Biar pak pos yang bertanya apakah ini rumahmu. Biar pak pos yang berkata bahwa ada surat untukmu –dariku. Biar pak pos yang mendengarmu menjawab iya, lantas menangkap surat dariku. Biar pak pos yang mengucapkan namaku sebagai pengirimnya. Biar pak pos yang pertama kali menangkap ekspresimu ketika mengetahui bahwa suratku telah sampai di tanganmu. Lantas, biar pak pos tidak memberitahuku apakah kau senang atau sedih mendapati surat fantasi itu.

 

 

Dari aku.

Bagaimana Angka 18-mu?

Teruntuk sahabatku, Bernita Nur Cahyani

Hai, bagaimana kabarmu setelah enam jam tak bertemu denganku? Masih sehat kan? Alhamdulillah jika iya :)

Oh ya, untuk ketiga kalinya aku ingin menyerukan, selamat ulang tahun!

Mungkin terdengar aneh menyerukan kalimat itu lewat sebelas hari dari ulang tahunmu, tapi tak apa, kan? Masih tetap istimewa kan jika yang menyerukannya adalah aku?

Awalnya surat ini memang terrencana dibuat dan dikirim di hari dimana aku dan tiga orang –yang mungkin tidak perlu disebut namanya, tapi kalau tidak salah namanya Zakiyah, Ain, dan Aden- menumpah ruahkan tepung di bajumu. Namun terkadang takdir suka melawan omongku. Alhasil, surat ini baru bisa dibuat dan dikirim hari ini. Tepat di hari dimana kado sederhana untukmu kusampaikan tadi sore. Sepertinya hanya bagian itu yang sesuai dengan rencana semula.

Oh ya, bagaimana kadoku? Mengecewakan atau membuatmu tersenyum senang? Maaf jika bungkusannya jelek. Aku memang terlalu pede untuk melakukannya sendiri.

Seperti judul surat ini, aku ingin bertanya, bagaimana angka 18-mu? Bagaimana rasanya memenuhkan 18 x 365 hari? Apakah biasa-biasa saja? Tentunya menyenangkan lebih berkuantitas banyak dibanding menyedihkan kan? Yes, I hope so. Ah, bahkan aku belum menyelesaikan angka enam belasku, sementara kau mulai menginjak angka sembilan belas? Ah, ini tidak adil. Tapi tenang, usia hanyalah angka mati yang difungsikan untuk memenuhi kolom biodata. Jadi, kita masih bisa jadi jodoh, kok. *kedip manja* *dikeplak Aden* *lirik Zakiyah*

Untuk sahabatku yang (diharuskan) makin dewasa,

Di harimu tahun ini, ada berapa banyak doa yang kau panjatkan? Adakah namaku kau selipkan di dalamnya? Apa pun doamu, asalkan itu sesuatu yang dibaikkan dan diridhoi Sang Pencipta, aminku selalu tertuntun di belakangnya.

Aku punya sebuah pesan untukmu :

Tetaplah seperti itu, ketika menjadi lebih buruk adalah mudah dan menjadi lebih baik adalah susah.

Kamu makin dewasa ya. Kalau kekanak-kekanakan, nanti aku akan susah membedakan mana Bernita, mana Naufal –ponakanku. Tapi jangan terlalu dewasa. Nanti aku akan susah membedakan mana Bernita, mana ibunya Bernita. Yah, pokoknya terserah deh…

Cukup sekian ya, terima kasih telah membaca surat aneh ini. Untuk selebihnya, kita bicarakan langsung saja kalau kamu mau.

 

 

Untuk @bernitanc

Dari teman yang kau bagi meja dengannya

The Dearest @scifo4

 

Kepada kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, (diulang sampai kata “kamu” tertulis 31 kali).

 

Ya, surat ini ditulis untuk kamu semua. Entah namanya surat massal atau apa, yang penting satu buah surat ini ditujukan untuk kamu, kamu, …. , kamu –tanpa menyertakan “kamu” yang lain.

Kita dipertemukan di sebuah bumi dengan ukuran yang lebih sederhana, namanya smansa –sekolah menengah atas tercinta kita. Aku sendiri tidak yakin, jika smansa tidak ada, apakah kita akan pernah bertegur sapa?

Pada mulanya, kita dipertemukan oleh kejahilan guru-guru BK yang entah sengaja atau tidak, menggabungkan kita dalam sebuah ruang kelas. Kala itu, kita bernama sebelas ipa 4, hingga deret 365 hari menggantikan namanya menjadi dua belas ipa 4 –kita sekarang. Entah mau berganti nama seratus kali atau puluhan juta kali, bagiku tak akan ada bedanya. Komposisi kita akan tetap sama.

Lewat surat sederhana ini, ada satu hal yang hendak dan memang harus kukatakan :

Terima kasih.

Terima kasih untuk apa? Ah, itu akan jadi pertanyaan terkonyol abad ini. Atau barangkali kalian memang telah benar-benar menjadi penganut teori lupakan kebaikan kita, ingat kebaikan orang lain. Jika iya, maka biarkan aku sedikit menggelitik impuls memori kalian.

Terima kasih untuk segalanya. Untuk kebaikan, kebanggaan, tawa, kesenangan, kebahagiaan, rasa nyaman, pemahaman, ketenangan, keceriaan, dan hal-hal lain yang kulupa namanya –tapi masih teramat jelas untuk kurasa. Aku sendiri tak tahu, kenapa kalian bisa begitu mudah membuatku mengembangkan tawa. Kecuali jika kalian ternyata personil srimulat. Jadi, bagaimana bisa pipiku yang mengusut seperjalanan menuju sekolah, tetiba menjadi kelu karena terlalu banyak menebar tawa yang diuntai dari canda yang kalian bawa? Ah, kalian teramat canggih untuk menjelmakan kata menjadi tawa.

Tentu, tak lupa terima kasih juga untuk duka dan kesedihan yang terkadang datang menyelinap. Namun percayalah, ia lebih sering memerankan diri sebagai pelajaran ketimbang sebagai sebuah penyesalan.

Kalian, pernahkah mendengar kata perpisahan?

Ah, bahkan kata itu cukup ngeri dan nyeri untuk dibayangkan. Tapi, masing-masing dari kita telah meramalkan, bahwa dalam hitungan bulan kata itu akan jadi sesuatu yang kita sesalkan. Kita akan memencar langkah, entah ke kota seberang, ke kota tetangga, ke kota nun jauh di sana, atau bahkan ke negeri seberang. Kita, yang telah mengkhatamkan tiga tahun proses belajar dengan melewati destinasi dua-huruf dan enam-huruf. Mohonku hanya satu, jika kelak entah itu sepuluh tahun lagi, atau tiga puluh tahun lagi kita telah menjadi orang yang berbeda –syukur jika masih sama, kita masih ingat bahwa kita pernah hidup dalam satu masa.

 

 

Teruntuk @scifo4 , tempat dan teman menaungku memintal ilmu

Dariku, satu dari 32-mu

Rupa

Bola matamu

Seperti hunus pedang

Yang bahkan tak ingin kutancapkan pada apapun

Kecuali mataku sendiri

Lantas aku terpaku kembali

 

Kerut senyummu

Yang melingkar sederhana

Tanpa kutahu,

Menjadi harapan yang paling kupuja

Dan darinyalah rindu menggerogot masa

 

Kelopak bibirmu

Lebih dikuasai sunyi

Dibanding lantunmu sendiri

Tapi indahnya masih bisa dibagi

Yang hanya ingin kumiliki sendiri

 

Lalu, biarkan dari sorot matamu yang ditangkap sarafku

Menjalar menuju bibir hampir merah mudaku

Dan lengkingnya melengkungkan senyumku

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.